
Kaki Renne akhirnya kembali seperti semula setelah bertemu dengan seorang Saint yang berada di gereja. Tetapi, Renne harus kehilangan beberapa koin emas karena ia diharuskan untuk menyumbang.
Saat ini mereka tengah berjalan ke arah rumah seseorang yang memberikan Renne misi ini. Lokasinya sendiri tidak terlalu jauh dari gereja itu jadi mereka bisa sampai lebih cepat.
Renne turun dari kereta kuda, “Cih, aku tak menyangka jika mereka sengaja memeras uangku,” gerutu Renne sedari tadi.
“Tenanglah, kau dari tari terus mengatakan hal itu dengan kesal. Lagi pula, apa salahnya menyumbangkan sebagian kecil dari banyaknya uang yang kau miliki.” Nathan mencoba untuk menenangkan.
“Kita bisa mendapatkan lebih banyak uang nantinya,” tambah Artelis.
Renne harus merelakannya. Memikirkan hal yang sama secara terus-terusan hanya membuang waktu berharga yang ia miliki dan apa yang dikatakan oleh Nathan dan Artelis itu memang ada benarnya.
Mereka mulai berjalan ke arah salah satu rumah sederhana yang merupakan rumah pria yang memberikan Renne misi dan mengetuknya berkali-kali.
Setelah beberapa saat, sebuah tanggapan diberikan dan seseorang membukakan pintu masuk.
“Oh, Nak Renne, bagaimana dengan misi yang aku berikan kepadamu? Apa kau sudah menyelesaikannya?” tanya pria paruh baya itu.
“Ya,” Renne membuka inventory dan menunjukkan rangkaian bunga yang mereka miliki, “Bagaimana menurutmu, apa ini bisa diberikan kepada Viscount Aguestel?”
“Ini lumayan bagus, tetapi tidakkah rangkaian buket ini terlalu sederhana?” pria itu menaikkan alisnya.
“Kau tidak mengerti tentang bunga! Jika kau memperhatikan makna yang terkandung di dalamnya, kau pasti akan mengubah pola pikir sempit itu!” celetuk Violet karena kesal.
“Begitu...” pria paruh baya itu merasa tidak enakkan karena mendengar apa yang diucapkan Violet.
Renne hanya dapat tersenyum, ia sebelumnya juga pernah mendapati ocehan seperti itu.
“Pak, ngomong-ngomong aku sedikit penasaran dengan hadiah yang ingin kalian berikan, apa aku boleh melihatnya?” Renne penasaran.
“Tentu, kalian boleh melihatnya.” pria itu mempersilakan Renne dan kawan-kawannya untuk memasuki rumah.
Renne melangkahkan kaki untuk memasuki rumah itu. Yang ia lihat dari mata itu ialah rumah yang begitu sederhana dan layak untuk ukuran sebuah desa, berbeda dengan rumah mencolok yang berada di desa sebelumnya.
Terlihat pula beberapa foto yang terpajang rapi di dinding dan sebuah vas bunga yang berada di atas laci kecil di dekat jendela. Lalu, beberapa kursi dan meja dengan beberapa makanan di atasnya.
Pria itu mempersilakan Renne dan teman-temannya untuk duduk sembari membawa hadiah yang mereka ingin berikan kepada Viscount Aguestel sebelumnya.
Sebenarnya, alasan lain dari Renne ingin bertamu adalah karena ia hendak menggali beberapa informasi tentang tanaman yang dapat menyembuhkan segala penyakit itu.
Setelah beberapa menit berlalu, pria paruh baya itu di temani dengan seorang wanita yang terlihat seperti istrinya datang dan menyuguhkan teh.
“Aku belum membungkusnya karena menunggu kedatangan kalian,” pria paruh baya itu meletakkan beberapa barang di atas meja.
Renne melihat sebuah pedang dengan sarung emas dan sebuah cincin berlian yang ditaruh di dalam kotak mewah. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat Renne kembali menarik kata-katanya jika desa ini adalah desa dengan penduduk apa adanya.
“I-ini ... dari mana kalian mendapatkannya?” Renne masih tidak percaya ketika melihat hadiah-hadiah itu.
“Dulu, seorang pahlawan datang ke desa kami untuk menyelamatkan seluruh penduduk dari serangan monster berbahaya. Ia berhasil memenangkan pertarungan hanya dengan seorang diri dan meninggal karena kehilangan banyak darah. Kami memutuskan untuk menyimpan peninggalannya untuk diberikan kepada orang yang layak untuk memiliki benda ini.” perjelas pria paruh baya itu.
“Lalu, kalau cincin ini adalah cincin yang seharusnya dipakai di jari manis putri kami. Tetapi, dia sudah meninggal sebelum sempat memakainya.” tambah pria itu.
Renne dibuat pusing, seluruh benda-benda yang diberikan oleh pria itu memiliki artinya dan cerita sendiri. Bagaimana bisa dia hanya memberikan barang sesederhana— tidak, itu tidaklah sederhana. Crystal Gypsophila juga merupakan bunga yang langka, menurut Violet.
Renne mengambil cangkir teh itu dan meneguk isinya. Ia mulai berpikir jika saat ini adalah saat yang tepat untuk memulai hubungan dengan seorang bangsawan agar mempermudah koneksinya.
“Maaf sebelumnya. Apa kami boleh ikut ke pesta itu?” Renne mengatakannya dengan sedikit lirih.
“Umm, itulah yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Ketika aku mengabari Beliau tentang kehadiran kalian dan Justice Knight, ia bilang jika aku harus menyampaikan undangan kepada kalian.”
Mendengar ucapan pria itu membuat Renne senang. Begitu pula dengan teman-temannya yang menganggap ini sebagai titik awal untuk menjalin hubungan dengan seorang bangsawan.
Sebenarnya, berhubungan dengan seorang bangsawan memberikan banyak keuntungan bagi para pemain. Tetapi, karena sulit dan sombongnya para bangsawan, membuat banyak pemain berpikir jika itu adalah hal yang sia-sia untuk diperjuangkan.
Semua orang mulai melirik tajam Nathan dan menunjukkan wajah penuh harapan. Nathan yang menyadari hal itu pun menganggukkan kepala.
“Lagi pula kita masih punya banyak waktu, tak ada salahnya untuk bersenang-senang dan menjalin hubungan.” ucap Nathan.
“Terima kasih, Nathan!” Violet sontak hendak memeluk, tetapi Nathan sudah terlebih dahulu menghindar dan membuat gadis itu menabrak dinding.
Renne mulai berpikir keras. Untuk meningkatkan hubungan baiknya dengan seorang bangsawan, kecil kemungkinan jika memberikan karangan bunga akan berdampak besar. Jadi ia memutuskan untuk memberikan beberapa emas yang dimilikinya.
“Aku akan memberikan 500 koin emas, bagaimana menurut kalian?” Renne menolehkan wajahnya ke samping dan mencari tahu reaksi dari teman-temannya.
Hal itu sontak membuat beberapa orang terkejut. Tetapi, hal itu tak berlangsung lama karena mereka mengerti maksud dan tujuan yang sedang direncanakan oleh Renne. Lagi pula itu bukanlah uang mereka, jadi mereka tidak berhak untuk angkat bicara.
“Itu uangmu, kau bisa menggunakan sesukamu.” ucap Nathan.
“Ya, itu benar.” tambah Violet.
Sedangkan Artelis sendiri cukup bingung tentang cara Renne mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Padahal, belum lewat satu minggu sejak pertama kali Love Live Online muncul ke permukaan.
“Apa itu benar? Aku yakin Viscount akan sangat senang dengan hadiah yang kalian berikan.” pria paruh baya itu tersenyum kecil.
“Pak, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Mungkin ini akan sedikit melenceng dari topik yang sedang kita bahas saat ini.” Renne menjadi serius. Ia berniat untuk menggali informasi itu sekarang.
“Tanyakan saja, aku akan membantumu sebisa mungkin.”
“Apa kau mengetahui tentang tanaman yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun? Jika benar, tolong beritahu aku!”
“Kebetulan sekali. Aku memang mengetahui dan memiliki peta tempat di mana tanaman itu tumbuh. Tetapi, ada syarat yang harus dilakukan sebelum memanennya.”
Renne mengangguk mengerti, memang ada beberapa tanaman yang memiliki syarat dan harus dipenuhi agar khasiatnya tidak menghilang.