Love Live Online: A Bard Grudge

Love Live Online: A Bard Grudge
Nathan



Dini hari, saat matahari mulai menampakkan kening, warna keemasan artistik bangkit seperti bayi dan mulai melukis langit hitam gelap menjadi langit biru yang cerah. Awan-awan susu yang tampak cerah bangun dari tidur dan mulai berkeliling ke langit untuk menjelajahi dataran yang indah.


Salju ungu gelap yang tinggi dan cokelat menutupi pegunungan yang berdiri sendiri menutupi seluruh alam. Di sebelah gunung dan di dekat hutan ada air terjun dengan air putih gading mengalir ke sungai seolah-olah seseorang telah menumpahkan segelas susu.


Udara segar yang sejuk dan renyah mulai bersiul seperti hantu yang tak terlihat. Burung berwarna merah dan hijau dengan paruh seperti cabai mulai mengalunkan melodi pagi mereka. Taman besar itu berdiri seperti istana kerajaan dan ranting-ranting besar cokelatnya yang tebal dan kering menari menyambut pagi itu. Daun-daun hijau yang indah dan tak terhitung jumlahnya, saling berbisik tentang rencana pagi mereka.


Di pagi hari, lebah-lebah besar yang berdengung mengerumuni udara dengan gembira mencari madu manis. Pohon-pohon besar berayun karena embusan angin, menyapa dengan hangat.


Kupu-kupu lucu berwarna-warni tengah menari-nari di lingkungan sekitar, mencari nektar manis. Aroma bunga memenuhi seluruh lingkungan membuat pagi hari sangat menyenangkan.


Renne sudah bersiap-siap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Lao Hin, tanaman obat dengan khasiat yang dapat menyembuhkan penyakit apa pun itu terdapat di pegunungan yang berada puluhan kilometer dari sini.


Renne membelasut dengan pelan, perjalanan kali ini akan benar-benar panjang dan melelahkan. Belum lagi bahaya yang akan mereka hadapi tanpa dapat diantisipasi. Ia kini tengah berdiam diri sembari menghirup sejuknya udara pagi hari yang indah dengan perlahan-lahan.


Pintu rumah tiba-tiba saja terbuka, memperlihatkan seorang anak laki-laki yang memiliki tubuh kecil. Zerra menatap Renne sedikit, kemudian ia kembali memalingkan wajah tanpa berkata-kata lagi.


“Kau sudah siap? Jika ya, maka kita akan segera pergi dari sini.” Renne sedikit tersenyum simpul.


“Ya,” Zerra membalas dengan singkat.


Dengan segera mereka pergi dari rumah megah itu. Renne sendiri sebenarnya sudah menyimpan kunci rumah itu di salah satu tempat yang hanya diketahui oleh Lao Hin dan dirinya seorang. Jadi, tak ada yang harus dikhawatirkan tentang hal itu.


Renne juga sebenarnya tak berminat untuk tetap berada di Desa Licourt karena penduduknya yang tidak menyukai musik, karena hal itulah ia tak dapat memanfaatkan mereka demi kepentingan pribadi.


Mereka mulai berjalan dan berpadukan sebuah peta yang diberikan oleh Lao Hin sebagai ucapan terima kasih. Oleh sebab itu ia tak perlu khawatir jika saja pergi ke arah yang salah.


Selama perjalanan, mereka terus menemui monster-monster lemah yang datang dengan tiba-tiba. Tentu saja Renne merasa janggal karena mustahil bagi monster tersebut mencoba untuk menyerang orang yang lebih kuat dari mereka.


Menyusuri jalan setapak, mereka terus melangkahkan kaki dengan segenap tenaga. Menyewa sebuah kereta kuda adalah hal yang mustahil untuk dilakukan oleh mereka saat ini, hal yang menjadi alasan utama adalah karena harga yang terbilang cukup mahal.


Renne tiba-tiba saja dikejutkan dengan keberadaan kereta kuda yang melaju di sampingnya, hal itu sontak membuat ia hampir terkinjat. Zerra yang melihat ekspresi Renne lantas tersenyum kecil, sangat kecil hingga tak seorang pun akan menyadari hal itu.


Sang pemilik dari kereta kuda itu lantas menghentikan laju kuda. Ia turun dan dengan segera memastikan keadaan Renne beserta Zerra.


“Aku baru saja belajar menggunakan kereta kuda, jadi maafkan aku...” pria itu terlihat bersungguh-sungguh dengan apa yang baru saja ia katakan, ia juga membungkukkan badan.


Renne yang merupakan pemain veteran tahu betul jika hal seperti membungkukkan badan adalah hal yang jarang dilakukan oleh para NPC, sehingga ia beranggapan jika lawan bicaranya saat ini adalah seorang pemain dan akan mencoba untuk memastikan hal tersebut.


“Apa kau seorang player?”


Pria itu lantas melenggak ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Renne, “Ah, itu benar. Bagaimana kau bisa tahu? Setahuku, sangat sulit untuk membedakan mana pemain dan mana NPC.”


Renne terkesiap, orang yang berada di hadapannya saat ini adalah salah satu mantan serikat White Pearl yang dikeluarkan oleh Dyon dengan alasan pengkhianatan.


“Ah, maaf. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” pria itu kembali mencoba memastikan setelah sekian lama melihat Renne yang terlihat melamun.


Hal itu lantas memecahkan lamunannya. Renne kembali pada kesadaran dan mencoba untuk sekali lagi melihat wajah pria itu dengan saksama.


‘Dia benar-benar Nathan, tidak salah lagi!’ Renne hakulyakin.


“Perkenalkan, aku Nathan. Tentang masalah sebelumnya aku benar-benar meminta maaf.” Nathan menyodorkan tangan.


Renne menjadi linglung sendiri, ia sangat bingung tentang perilaku Nathan saat ini. Sebelum dikembalikan ke masa lalu, Renne tak terlalu dekat dengan Nathan karena ia adalah seorang pendiam. Bahkan sejak dikeluarkannya Nathan dari serikat, Renne sendiri tak terlalu memedulikannya.


Ia saat ini tidak tahu bagaimana tentang sikap dan perilaku Nathan, apakah dia benar-benar orang yang berkhianat atau dia adalah orang yang mengetahui rahasia Dyon dan dikeluarkan karena hal itu. Untuk itu, Renne akan mencoba untuk memastikannya sendiri.


Renne menggapai tangan Nathan, “Renne, aku juga seorang player.” gadis itu kembali tersenyum dengan hangat.


“Tentang masalah sebelumnya, aku benar-benar minta maaf.” Nathan kembali mengulangi apa yang ia katakan sebelumnya.


“Tidak, tidak masalah. Ngomong-ngomong ke mana kau akan pergi?” Renne mengerutkan kening dengan tipis.


“Aku akan pergi ke pegunungan yang berada puluhan kilometer dari sini, bagaimana denganmu?”


Renne terkejut, ia tak tahu jika takdir benar-benar berpihak padanya. Dengan begitu, ia memiliki alasan untuk bersama dengan Nathan dan memastikan langsung tentang kebenaran hal itu. Tujuan mereka juga sama dan sepertinya Nathan tengah bertualang seorang diri.


“Kebetulan sekali, aku juga ingin pergi ke pegunungan itu untuk mencari tanaman obat.” Renne kembali menunjukkan senyuman tipis.


“Benarkah?”


Zerra tiba-tiba saja mendekati Renne dan menggenggam erat pakaiannya. Hal itu sontak membuat Renne menolehkan wajah dengan heran.


“Ada apa, Zerra?”


Zerra tak menjawab sama sekali. Ia terus berada pada posisi yang sama tanpa mengatakan sepata-kata pun.


“Apa aku boleh ikut denganmu? Aku akan membayarnya dengan beberapa koin emas.”


Ini adalah kesempatan yang bagus bagi Renne, dalam satu langkah, ia dapat mencoba untuk memastikan kebenaran dan pergi ke pegunungan itu tanpa menghabiskan banyak waktu dengan berjalan kaki. Apa lagi jika mengingat kondisi tubuh Zerra yang lemah.


“Ya, boleh. Lagi pula aku memang seorang diri.”


Renne tak tahu akan hal ini. Sikap Nathan benar-benar berbeda dengan dirinya yang berada di ingatan Renne. Jadi dia mulai berpikir-pikir jika sesuatu yang buruk telah membuat kepribadiannya berubah di masa mendatang.