
Hari sudah semakin malam ketika mereka sadari. Kedekatan mereka dengan penduduk desa juga semakin membaik beriringan dengan misi yang berhasil mereka kerjakan. Renne juga baru mengetahui jika saat ini ia bisa menggunakan kemampuan Legendary Bard untuk meningkatkan kepercayaan penduduk kepadanya.
Renne sendiri cukup lega karena mengetahui hal itu. Ini sangat berbeda dengan dua desa yang sebelumnya mereka kunjungi, desa kali ini benar-benar menyukai musik sama dengan Desa Hillford.
Berbagai misi juga terus diberikan kepada Renne, meskipun begitu ia hanya menerima misi yang dapat diselesaikan dengan cepat dan tidak terlalu sulit untuk dilakukan bersama dengan Zerra.
Mereka kini berada di balai desa, tempat di mana seluruh penduduk berada dan siap untuk melakukan pesta guna merayakan hari ulang tahun desa itu yang ke-21 tahun.
Berbagai lampu kuno yang terlihat elegan juga telah dipasang di berbagai sudut ruangan ditemani dengan hiasan seadanya. Bukan mereka bermaksud untuk meminimalisir pengeluaran tetapi memang saat ini keadaan desa sedang buruk dan bantuan dari kerajaan tak kunjung datang.
Renne mencoba berbagai makanan bersama dengan Violet dan Zerra. Sedangkan Nathan sendiri masih terlihat sibuk untuk meningkatkan kemampuan memasaknya. Kedua orang itu, Renne dan Nathan memanglah orang yang sangat bersemangat jika menyangkut sesuatu yang mereka sukai.
“Hmm, pentol daging ini enak sekali. Aku tidak menyangka jika makanan ini dimasak oleh Nathan.” Violet terlihat begitu senang, ia juga sesekali menyuapkan makanan kepada Zerra.
“Kemampuan di dunia nyata memang benar-benar berguna di permainan ini, meskipun hal itu tidak berlaku dengan aku yang merupakan seorang peracik obat-obatan...” Renne berhenti melangkah dan duduk di kursi kosong dengan santai, kemudian melanjutkan, “Kita istirahat di sini saja, aku lelah.”
“Ah, memang benar jika banyak sekali tanaman obat yang tidak sesuai dengan manfaatnya di dunia nyata.” Violet menanggapi ucapan Renne.
“Zerra, makanlah ini,” Renne memberikan setusuk pentol daging kepada Zerra.
“Biar aku yang menyuapinya,” Violet dengan bersemangat merebut tusukan daging itu.
Zerra terlihat kesal, sudah lama sekali ia tak menyukai Violet yang berlaku seenaknya itu dan dengan segera melengos.
Renne tertawa kecil melihat Zerra. Violet memang seperti itu dan sangat menyukai anak kecil meskipun terkadang tindakannya terlalu berlebihan dan tak pernah memikirkannya.
“Ah, aku ingin pergi ke kamar mandi dulu. Kalian lanjutkan saja jalan-jalannya.”
“Jangan lama-lama, pestanya sebentar lagi dimulai.”
Renne mengangguk, saat ini yang hendak ia lakukan adalah mendengar seluruh rekaman suara yang masih terpasang di kereta kuda. Ia sebelumnya juga sudah mengecek rekaman itu dan membiarkannya tetap berada di tempat.
Keberadaan kereta kuda yang berjauhan dari balai kota juga membuat Renne tak perlu khawatir jika seseorang mengetahui apa yang ia lakukan.
Jalanan terlihat begitu redup ketika Renne mulai menjauh dari balai desa. Keadaan yang sepi juga membuat suasana yang menakutkan, tidak begitu menakutkan bagi seorang Renne.
Setelah beberapa saat ia sampai di kereta kuda itu dan menaikinya. Renne mengambil alat perekam yang ia sembunyikan di bawah kursi. Alat itu terlihat begitu kecil dengan bentuk menyerupai kancing baju.
‘Aku tidak boleh mendengarkan ini di sini,’ batin Renne.
Setidaknya ia harus berhati-hati, memang benar jika keadaan saat ini sangatlah sepi dan sunyi, tetapi bukan berarti ia harus menurunkan kewaspadaannya.
Renne mencoba untuk berjalan sejauh mungkin dan memutuskan untuk duduk di bawah pohon yang berada di dekat sungai. Semak-semak itu juga terlihat tinggi menjadikannya tempat yang paling tepat untuk bersembunyi.
「Apakah Anda akan memutar rekaman?」
「Ya.」
Renne mulai mendengarkan dengan suara yang begitu kecil, sangat kecil hingga ia harus mendekatkan benda itu ke telinganya. Mulai terdengar obrolan kedua orang itu saat sudah meninggalkan Renne seorang diri bersama dengan Zerra.
****
Setelah beberapa lama ia mendengarkan dan tak kunjung mendapatkan sesuatu yang mencurigakan, Renne mulai menghembuskan nafas. Kecurigaannya memang tidak mendasar tetapi ia harus tetap melakukan hal itu jika tidak ingin kejadian yang sama terulang.
Seseorang baru saja mengejutkan Renne dari belakang pohon rindang itu, sontak membuat Renne terperanjat hingga membuat alat itu terlempar ke sungai.
‘Ahh! 100 keping koin emas sudah hanyut!’ batin Renne, ia sangat ingin berteriak dan memukul orang yang mengagetkannya itu.
“Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?” Pria itu menatap Renne dengan penuh curiga.
Renne menolehkan wajahnya, ia juga melihat dengan sungguh-sungguh pria di depannya dan memperlihatkan ekspresi marah. Ketika ia sadari, orang yang berada di hadapannya itu adalah sesosok yang ia kenal.
Seorang pria yang memiliki rambut berwarna biru muda, mata tajam dengan iris berwarna kecokelatan, memiliki wajah yang tampan, dan tinggi kurang lebih 175 cm. Dengan sebuah pedang berjenis longsword yang terpasang di punggung.
“Artelis,” Renne tanpa sengaja menyebut nama orang itu dan dengan segera membungkam mulutnya sendiri dengan tutupan tangan.
‘Apa ini sebuah kutukan? Kenapa aku terus mengatakan nama-nama orang yang aku kenal?!’ batin Renne.
“Oh, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Apa kau salah satu gadis yang pernah aku pacari?” Artelis memperlihatkan gaya narsis yang membuat Renne memalingkan wajah karena tak kuat melihatnya.
Renne juga sangat mengenal siapa Artelis itu. Dia adalah seorang playboy yang terus mengumbar ketampanannya di setiap tempat yang ia kunjungi. Pria penuh percaya diri dan bersemangat sama seperti Violet.
Sesuatu yang buruk akan terjadi jika kepercayaan diri yang tinggi itu menurun. Misalnya, Artelis akan terus meringkuk di sudut ruangan dengan wajah keputusasaan dan sangat sulit untuk membuatnya kembali percaya diri.
”Apa kau mulai tertarik denganku? Jika kau memaksaku untuk berpacaran, mungkin aku akan memikirkannya kembali.”
Renne sudah muak mendengar kalimat Artelis di kehidupan sebelumnya, meskipun begitu Renne akan selalu curhat kepada Artelis jika sesuatu yang buruk terjadi pada hubungannya dengan Dyon.
Hingga suatu hari, Artelis menghilang dan tak kembali lagi ke guild White Pearl. Seakan-akan keberadaannya menghilang dari muka bumi ini. Renne juga sudah mengecek friendlist dan tak kunjung mendapatkan nama Artelis. Sepertinya, Dyon memang sudah melakukan sesuatu kepadanya.
Artelis semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Renne, sontak membuatnya mendorong wajah itu dan berkata, “Aku tidak tertarik denganmu, pergi saja sana!”
“Kau benar-benar kejam, aku akan menyebarkan tentang apa yang kau lakukan di sini. Kau tadi sedang melakukan yang mesum, bukan?” Artelis menurun-naikkan alisnya dengan tatapan mesum.
Renne tanpa sengaja menampar pria itu dengan kuat, selain sikap Artelis yang terbilang cukup playboy, dia juga adalah orang yang terbilang sedikit mesum dan bodoh, tentunya.