Love Live Online: A Bard Grudge

Love Live Online: A Bard Grudge
Artelis I



Kedua orang itu menyempatkan diri untuk berbincang satu sama lain. Renne memanglah terkadang dibuat kesal dan geram dengan sikap Artelis, terkadang ia juga mendamik mulut pria itu jika ia mengatakan sesuatu yang keterlaluan.


Renne juga berhasil untuk terus mengalihkan pembicaraan ketika Artelis menanyakan kebenaran tentang bagaimana gadis itu bisa mengetahui namanya. Setidaknya ia aman saat ini karena sudah berhasil membahas sesuatu yang lebih jauh lagi daripada sebuah obrolan tentang nama.


“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah keberadaan desa ini terlalu berada di pinggiran untuk dikunjungi?” Renne sendiri tahu, memakan banyak waktu untuk dapat pergi ke daerah terpencil seperti ini.


“Oh, aku kebetulan ada misi yang harus diselesaikan dengan Justice Knight di sini.” jawab Artelis.


Renne sedikit terkejut, “Apa Kak Lagier juga ada di sini?”


“Ya, Lagier dan teman-temannya sedang berada di sini dan kebetulan aku berada di kelompok yang sama dengannya,” jawab Artelis, ia kemudian melanjutkan karena sedikit penasaran, “Apa hubunganmu dengannya?”


“Kebetulan aku pernah berjumpa dengannya beberapa kali, ya bisa dibilang kalau aku juga mendapatkan quest darinya.”


“Sebenarnya kami baru saja datang dari Kerajaan Vemore untuk mengantar bantuan kepada desa ini, mungkin besok akan kembali ke sana lagi.” Artelis menghembuskan nafas dengan kesal sembari memeluk erat kedua kakinya.


“Itu pasti perjalanan yang melelahkan, sebenarnya kami juga baru datang tadi sore dan beberapa hari lagi akan melanjutkan perjalanan ke pegunungan yang berada tak jauh lagi dari sini.”


Renne sengaja membocorkan informasi itu, ia bermaksud untuk membuat Artelis bergabung dengannya sebelum didahului oleh Dyon yang mungkin akan mengatakan hal palsu atau apa pun itu untuk mengundang anggota-anggota White Pearl terdahulu.


“Aku dengar dari rumornya, di sana banyak monster-monster kuat dengan EXP yang melimpah. Kau pasti akan menjadi incaran banyak gadis jika menjadi kuat!” tambah Renne.


Renne tahu dan sangat paham dengan Artelis yang juga haus akan kekuatan untuk memikat para gadis, baik itu NPC maupun pemain. Jika Artelis bergabung dengan kelompok Renne dan bertualang bersama, tentu hal itu akan sangat menguntungkan kedua belah pihak.


“Benarkah itu?!” Artelis terlihat begitu bersemangat.


Renne memalingkan wajah dan tersenyum licik, “Apa gunanya aku berbohong, jika kau ingin bergabung denganku, kau harus membayar 1 keping koin emas.”


“Itu bukanlah masalah selama aku bisa mendapatkan kekuatan yang bisa membuatku populer di kalangan para gadis!”


Artelis membuka inventory dan mengirimkan sebuah notifikasi kepada Renne.


「Artelis mentransfer 10 koin emas kepadamu.」


‘Ini sudah melebihi dari apa yang aku minta. Seperti yang diharapkan dari pria yang dikelilingi banyak gadis bangsawan.’ Renne tersenyum.


「Artelis menambahkan dirimu ke dalam daftar teman.」


「Terima/Tolak」


「Terima.」


Setelah Renne menekan tombol itu, raut wajah Artelis terlihat begitu bahagia. Ia sendiri tidak tahu alasannya dan tak berniat untuk mengetahui hal itu.


“Kau adalah teman pertamaku di permainan ini!” Artelis sangat bersemangat hingga membuatnya hendak memeluk Renne, namun hal itu dengan segera ditangkis dengan sebuah tamparan.


“Kejam,” Artelis meringis.


“Berhentilah mencuri-curi kesempatan, aku bukan gadis yang mudah untuk didapatkan meskipun kau bersujud di hadapanku.” pertegas Renne.


Renne berdiri dari tempat itu ketika merasa udara semakin dingin dan menusuk, ia juga memilih pergi ke kereta kuda karena memang sedang tidak ada orang di sana. Sedangkan Artelis hanya membuntuti dengan muka masam.


Renne menatap tajam Artelis dan memperlihatkan sedikit aura membunuh, “Berhentilah membahas hal-hal seperti itu. Aku membawamu ke sini karena ingin memperkenalkan orang-orang yang berada satu kelompok denganmu.”


Menyadari ekspresi wajah marah Renne, Artelis akhirnya tersadarkan. Ia memang tidak boleh melakukan memancing emosi gadis itu jika ingin berada di dalam kelompok yang sama. Lagi pula ia tak dapat pergi ke pegunungan itu sendirian dan bergabung dengan Renne adalah pilihan yang tepat.


Renne menunggu sembari merebahkan diri, sedangkan Artelis sendiri terlihat duduk dengan bersandar di roda kereta.


“Apa kau tidak bergabung dengan kelompok Kak Lagier?” tanya Renne, ia sangat heran kenapa Artelis berada di sini padahal ia sedang menjalankan misi.


“Tidak, aku hanya ditugaskan untuk mengantar bantuan, itu saja. Setelah itu misi yang aku kerjakan selesai.”


“Bukankah Justice Knight sendiri dapat melakukan hal itu tanpa harus mendapatkan bantuan dari pemain? Mereka juga sangatlah kuat jadi kenapa harus memberikan misi ini?” Renne memiringkan wajahnya.


“Ya, bisa dibilang mereka kekurangan orang dan aku ditambahkan sebagai pelengkap untuk memenuhi syarat yang ditentukan oleh kerajaan. Aku dengar jika akhir-akhir ini Justice Knight tengah sibuk mempersiapkan dan melatih diri untuk menghadapi serangan monster di beberapa bagian kerajaan.” perjelas Artelis.


Renne mengangguk, ia memang pernah mendengar hal itu di kehidupan sebelumnya dan menganggap jika apa yang dikatakan oleh Artelis adalah sebuah kebenaran.


“Jadi setelah mereka kembali besok, kau benar-benar bebas dan dapat melakukan apa pun yang kau suka, benar begitu?”


“Ya, itulah kenapa aku dapat bergabung denganmu.”


Setelah beberapa saat, ketiga orang yang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya datang dengan tubuh yang terlihat begitu lelah.


“Aku benar-benar lelah,” keluh Violet.


“Lebih lelah aku yang memasak dari sore tadi!” tambah Nathan.


Sedangkan Zerra sendiri, ia terlihat mengantuk dan langsung tepar di pangkuan Renne. Gadis itu lantas mengusap-usap lembut rambutnya sesekali.


“Mereka teman-temanku, ini Nathan dan itu Violet. Kalau anak ini namanya Zerra, dia seorang NPC yang kebetulan melakukan perjalanan dengan kami.” Renne memperkenalkan langsung ketiga orang itu karena menganggap mereka akan langsung tidur ketika sampai di sini.


“Renne, tolong keluarkan tenda ... aku tidak kuat jika tidur di papan kereta ini.” pinta Violet.


Renne mengerti dan langsung mengeluarkan dua tenda yang akan digunakan berdasarkan gender karena tenda itu sendiri cukuplah besar untuk menampung tiga orang sekaligus.


Sebelum ketiga orang itu sempat pindah ke tenda masing-masing, Renne lantas menghadang mereka dengan merentangkan tangan.


“Dia Artelis, saat ini ia masih menjadi calon kelompok kita sebelum bergabung secara resmi. Apa kalian setuju untuk menerimanya?”


“Ya...” jawab Nathan dan Violet secara bersamaan sedangkan Zerra sendiri terlihat seperti mayat hidup yang berjalan ke tenda untuk segera mengistirahatkan tubuh.


“Whoa! Aku benar-benar menjadi bagian dari kelompok ini, bukan? Aku sudah tidak sabar lagi untuk pergi ke pegunungan itu dan menjadi kuat!” Artelis sangat gembira hingga mencoba untuk memeluk Renne sekali lagi, tentu hal itu sudah diantisipasi.


Renne menghindari Artelis dan membuatnya tersungkur di tanah.


“Sudah kubilang sebelumnya, apa kau benar-benar bodoh?”


“Maaf,” lirih Artelis.


“Sudahlah,” Renne mendengus kesal dan masuk ke dalam tenda yang sama dengan tenda Violet.