Love Live Online: A Bard Grudge

Love Live Online: A Bard Grudge
Melanjutkan Perjalanan



Waktu telah berlalu begitu cepatnya. Pesta yang diadakan juga sebentar lagi akan selesai dan malam semakin gelap. Semua orang kembali ke rumah mereka masing-masing sedangkan Renne dan teman-teman masih menunggu beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanan.


Renne berhasil melakukannya, ia memperoleh hubungan yang baik dengan Viscount Aguestel meskipun tatapan pria itu masih sangat kejam dan tajam terhadapnya.


Renne juga mendapatkan tiket lelang dari event dadakan yang baru saja diselesaikan. Oleh karena itu, ia merasa begitu bersemangat. Dengan adanya tiket masuk pelelangan, Renne dapat membeli beberapa item tingkat tinggi yang memiliki kualitas yang luar biasa.


Hanya saja, yang menjadi masalah saat ini waktu diadakan pelelangan itu. Renne diharuskan menunggu hingga beberapa minggu ke depan sebelum menghadiri dan sialnya hal itu dilakukan di Kerajaan Vemore.


Dia diharuskan untuk mengesampingkan antara pelelangan dan mengembalikan cincin milik Duchess Olivette. Renne masih berpikir keras dan pada akhirnya memutuskan untuk menghadiri pelelangan terlebih dahulu. Orang itu bisa menunggu sebelum cincinnya dikembalikan.


Renne juga sempat berpikir untuk membagi waktu semaksimal mungkin agar tidak membuatnya menunggu terlalu lama. Memakai alat teleportasi adalah hal yang tepat, hanya saja ia harus merelakan satu keping emas untuk membelinya.


‘Ya, lagi pula aku masih punya banyak uang. 9000 keping emas itu bukanlah jumlah uang yang bisa didapatkan hanya dalam waktu 1 tahun,’ batin Renne.


Benar sekali, mendapatkan ribuan keping emas bukanlah hal yang mudah. Renne hanya beruntung dan karena ia memiliki banyak uang, ia berasa ingin menghambur-hamburkannya. Tetapi hal itu tidak masalah, Renne bukanlah orang yang akan melakukan hal seperti itu tanpa alasan, Viscount Aguestel contohnya.


Uang yang ia berikan sebenarnya sangat membantu sang Viscount. Itu karena memang mereka sedang melakukan penggalangan dana untuk membantu beberapa desa yang sangat membutuhkan dan melalui uang pemberian itu, Renne secara tidak langsung ikut beramal.


Kini semua orang sedang berada di gerbang keluar. Bertukar salam sebagai akhir dari perpisahan sebelum akan bertemu kembali. Wajah mereka terlihat dihiasi dengan senyuman, kecuali Zerra si anak pendiam.


“Kak Lagier, aku akan merindukanmu.” Renne memeluk Lagier sebagai tanda perpisahannya, tentu saja hal itu dilakukan untuk meningkatkan hubungan baik dan citra di mata Viscount Aguestel.


“Aku juga, berhati-hatilah ketika berada di pegunungan itu. Ya, walaupun kalian adalah makhluk abadi, tentu kalian akan mendapat hukuman jika kalian mati, bukan?” Lagier khawatir, meskipun Renne juga memiliki profesi Legendary Bard, hal itu tidak menjamin kemenangan.


“Tentu saja, aku akan selalu bertindak sesuai perhitungan. Kau tidak perlu mencemaskan aku.” Renne melepaskan pelukan dan memberikan senyuman tipis.


Renne kemudian menghampiri kedua mempelai itu dan menyalami mereka. Ia juga memberikan ucapan selamat karena sebelumnya tidak sempat melakukan.


Setelah hal itu, Renne dihadapkan dengan Viscount Aguestel. Tatapan pria itu masih sama dinginnya tanpa sedikit perubahan, padahal mereka sudah menjalin hubungan baik.


“Ah, terima kasih untuk sebelumnya. Aku sangat terbantu dengan informasi yang Anda berikan.”


“Oh, ternyata kau tahu sopan santun juga, ya?” Viscount Aguestel mengatakan dengan nada merendahkan.


‘Sialan orang ini! Aku akan membunuhmu jika saja aku tidak membutuhkanmu!’ Renne mengumpat dengan kesal di dalam hati.


“Jika kalian sudah kembali dari pegunungan itu, temui aku kembali di Kekaisaran Azotis.” tambah Viscount Aguestel.


Renne merasa kembali bersemangat dan memuji-muji sang Viscount karena mendengar perkataan itu, berbeda sekali dengan sikap sebelumnya yang mengutuk-ngutuk.


Itu memanglah sebuah kebetulan, kebetulan yang menguntungkan bagi Renne. Dengan keberadaan sang Viscount di Kekaisaran Azotis, Renne akan lebih mudah menjalin hubungan dengan bangsawan lain.


“Ya, aku akan melakukannya.” balas Renne.


Setelah beberapa percakapan ringan yang dilakukan, Renne dan teman-temannya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Mereka sudah harus berada di pegunungan itu dua hari dari sekarang. Jika tidak, beberapa orang mungkin sudah terlebih dahulu melakukan pembersihan.


“Ah, aku benar-benar lelah ... aku merasa ingin logout dari dalam game.” Renne mengeluh, ia memang akhir-akhir ini tidak keluar karena takut Zerra akan mengkhawatirkan dirinya.


“Kau bisa pergi, kami akan menjaga Zerra dan tubuhmu.” Nathan mencoba untuk mengerti, selama ini juga ia sudah mengetahui bahwa Renne sayang menyayangi Zerra dan takut jika anak itu mencari-cari dirinya.


“Ya, lagi pula bermain secara terus-menerus itu tidak baik untuk kesehatan.” tambah Violet.


Bukan hanya itu masalah yang dihadapi Renne saat ini. Ia harus mengingat-ingat tentang fakta bahwa mereka tengah melakukan perjalanan di hutan yang begitu lebat.


Melakukan logout di sini sama saja dengan bunuh diri. Jika ia tak dapat memberikan bantuan, bagaimana dengan nasib Zerra nantinya. Anak itu memiliki tubuh lemah, jadi Renne khawatir jika dia tidak dapat melarikan diri dan selamat.


“Tidak, aku akan tetap bersama kalian sampai keadaan sudah benar-benar aman.” Renne mengelus lembut kepala Zerra yang tertidur di pangkuannya.


Semakin lama mereka memasuki hutan, semakin gelap pula jalan yang mereka lalui. Bermodalkan rembulan yang bersinar redup, mereka menyusuri hutan itu untuk mencapai pegunungan yang sudah terlihat dari kejauhan.


Renne mengeluarkan selimut hangat dan tebal ketika menyadari Artelis yang tertidur dengan menggigil, kemudian juga mengeluarkan untuk Violet dan Zerra yang juga sudah tertidur dengan lelap. Sedangkan Nathan sendiri terus memacu kuda tanpa kenal lelah sedikit pun.


Renne merasa khawatir akan hal itu, “Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar di sekitar sungai?”


“Lebih baik jika kita terus berjalan. Selama kau pergi dengan Viscount, aku sudah menggali beberapa informasi dari penduduk desa dan bangsawan.”


“Apa yang kau dapatkan?” Renne penasaran.


“Banyak monster yang berkeliaran di siang hari, jadi kita tidak boleh berhenti sampai keluar dari sini. Lalu setelah melewatinya, kita dihadapkan dengan jalur yang sangat berbahaya.” perjelas Nathan.


Sepertinya Nathan memang benar-benar bergerak setiap saat. Ia sangat aktif dalam menggali informasi-informasi yang bermanfaat, sama halnya seperti Renne.


“Baiklah, aku akan menemanimu sampai pagi.” Renne tersenyum, karena berada di belakang Nathan, tentu saja pria itu tak dapat menyadarinya.


“Terima kasih, tetapi kau tak perlu memaksakan diri.”


Nathan juga sama khawatirnya dan sedikit menolehkan wajah ke belakang. Menanggap momen itu akan berlangsung singkat, Renne lantas menganggukkan kepala dan tersenyum dengan sangat-sangat manis.


“Nathan, ngomong-ngomong ... kenapa kau mau pergi ke pegunungan itu sendirian? Bukankah tempat itu akan sangat berbahaya jika datang sendirian?”


Nathan terdiam sejenak, memikirkan jawaban tentang apa yang menjadi pertanyaan.


“Aku juga tidak tahu. Aku merasa seperti seseorang mendorongku untuk pergi ke sana, memaksaku untuk mencari seorang gadis yang bahkan tidak aku kenal. Kau tahu, hati ini terasa gelisah setiap aku mencoba untuk mengabaikannya...”