Love Live Online: A Bard Grudge

Love Live Online: A Bard Grudge
Kehangatan



Pagi hari sekali, saat semua orang tertidur dengan lelap, Renne menyiapkan beberapa perlengkapan barang yang ia perlukan. Sebagian ia masukkan ke dalam inventory dan beberapa lainnya ia masukkan dalam sebuah tas kecil.


Kemarin, ia juga sudah menyiapkan beberapa keperluan seperti bahan makanan yang mungkin berguna ketika berada ketika sedang di dalam perjalanan yang tak pasti tujuannya itu. Dan kini, ia sudah siap untuk merodong.


Renne sedikit melirik Zerra yang saat ini sedang terlena dengan begitu lelapnya. Gadis itu ingin mencoba untuk membangunkan dan mengajaknya pergi, tetapi akhirnya memutuskan untuk menunggu. Bagaimanapun, Renne tak dapat menelantarkan Zerra yang sudah menjadi budaknya.


Matahari sudah semakin naik, karena lelah menunggu, Renne akhirnya tertidur di kursi dengan kepala yang lekat di meja. Zerra akhirnya terbangun dan langsung mengetahui jika majikannya itu akan segera melakukan perjalanan.


Zerra lantas menjadi khawatir, pikirannya membuncah akan takut ditinggal oleh Renne karena sikapnya selama ini. Ia lantas mencoba untuk membangunkan dan menggoyangkan tubuh Renne dengan tangan lemah itu.


Tak ada satu kalimat yang keluar untuk membangunkan, hanya sebuah goyangan badan kecil yang diakibatkan dorongan itu. Setelah lama mencoba dan berusaha keras, sebuah hasil akhirnya ia dapatkan.


“Ada apa, Zerra? Apa kau lapar?” lirih Renne dengan keadaan setengah sadar.


Renne sedikit menyipitkan mata sembari melihat raut wajah khawatir anak kecil yang berada di sampingnya.


“Ada apa?” Renne kini mendapatkan seluruh kesadarannya dan mengangkat kepala dari meja.


“A-apa, apa,” Zerra terbata-bata, takut akan memancing amarah sang majikan.


Renne tak menghiraukan perkataan itu dan membiarkan Zerra untuk menyelesaikan apa yang ingin ia katakan. Mencoba untuk memahami lebih lanjut bagaimana perasaan anak itu saat ini.


“A-apa, apa kau ingin pergi meninggalkanku?”


Renne merapatkan bibirnya, tak memberi tanggapan kecuali sebuah senyuman supel ditemani dengan elusan manja di atas rambut Zerra.


“Ma-maafkan aku...” mata Zerra sedikit berkaca terlihat dengan jelas dibalik rambut yang menutupi wajahnya itu.


Renne lantas memeluk Zerra dan membiarkannya terlelap dalam kasih sayang. Setidaknya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Zerra yang terlihat begitu sedih, takut untuk merasakan kehilangan lagi.


Zerra tersipu, sudah lama sekali sejak ia merasakan kehangatan seperti saat ini. Ia lantas tak kuasa lagi membendung air mata dan kini membasahi wajahnya.


Kini, Zerra memutuskan untuk mengantepi Renne. Meski, umurnya sudah tak panjang lagi, ia akan mencoba untuk memuaskan hati majikannya itu.


Renne melepaskan pelukan, “Apa kau ingin ikut denganku?”


“Ya,” balas Zerra sembari melengkungkan bibir hingga membentuk sebuah senyuman kecil.


****


Saat ini, mereka sudah berada di luar Kerajaan Vemore dan mulai berjalan dengan sedikit santai karena memang tak ada yang perlu dikejar. Waktu mereka masihlah banyak, meski suatu hari Renne harus dihadapkan dengan kenyataan yang mengharuskan ia membalaskan dendam terhadap orang yang sudah mengkhianati dirinya.


Zerra menilik gadis di sampingnya dengan sedikit menengadah, “Te-tentang pertanyaan beberapa hari yang lalu...”


“Kau tak perlu menjawab jika tak ingin mengatakannya.” celetuk Renne, ia sendiri sudah sadar akan kesalahannya sebelumnya karena terlalu memaksa.


“A-aku—,”


Dengan tiba-tiba mereka dikejutkan dengan keberadaan manusia berkepala celeng dengan sebuah cincin hidung berkarat. Membawa sebuah kapak yang terbuat dari logam dengan gagang kayu.


「Orc


Level: 5


Renne mencoba untuk menyerang, tetapi dengan tiba-tiba Zerra berlari ke arah Orc tersebut dengan langkah kaki yang sedikit cepat.


Gadis itu bingung, namun di satu sisi ia ingin membiarkan Zerra untuk membidas dan menunjukkan kemampuannya dan menonton dari balik layar. Jika sesuatu yang buruk terjadi, maka ia akan dengan cepat bertindak.


Orc itu mengayunkan kapaknya secara vertikal, bermaksud untuk membelah anak kecil itu menjadi dua. Zerra yang menyadari hal itu lantas meloncat ke belakang dan kembali berlari.


Ia berlari ke samping dan memberikan sebuah goresan menyakitkan yang dihasilkan dari sebilah pedang itu. Orc itu lantas mengerang dan menarik kembali kapak dan membalikkan badan.


Tetapi, Zerra telah lebih dahulu membokong dan memberikan kerusakan fatal di punggung monster tersebut. Lagi-lagi monster itu berteriak kesakitan.


“Sialan kau, manusia!” umpat Orc itu.


Zerra mencuaikan monster tersebut dengan tatapan dingin sekaligus merendahkan. Hal itu sontak membuat Renne senyum-senyum sendiri karena hal itu.


Apa lagi, saat ini rambut panjang Zerra sudah dipangkas sebelumnya. Sehingga, anak laki-laki itu terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Ditambah dengan mata merah menyala itu.


Zerra kini berhasil mencederakan salah satu kaki monster tersebut. Membuatnya kesakitan hingga terjatuh ke tanah. Saat hendak memberikan serangan terakhir, Zerra malah eleng dan terjatuh ke tanah. Dan berakhirlah panggung pertunjukan.


Renne dengan segera mengeluarkan salah satu keterampilan bernama Melody Arrow yang dipelajarinya dari Lany. Sebuah keterampilan yang menyerang dengan panah yang dihasilkan dari lagu yang ia mainkan.


Saat Orc hendak memenggal Zerra yang dalam keadaan tak sadarkan diri, Renne berhasil mengenai tepat pada kepala monster itu dan seketika tumbang untuk selama-lamanya.


「Berhasil mengalahkan Orc.


Hadiah: - 3 koin perunggu


- Poin pengalaman bertambah 12.


- Silver Axe.」


****


Mereka kini sudah berada di pinggiran sungai yang berada tak jauh dari lokasi kejadian. Kini, Renne meriba kepala anak laki-laki itu di pahanya sembari berdiang di samping api unggun.


Air terdengar bergerocok, mengalirkan apa pun yang hinggap di atasnya dan memantulkan sinar rembulan malam. Semilir angin yang berembus mencoba untuk memadamkan api tetapi malah membuat api semakin menyala-nyala.


Renne menghembuskan nafas dalam-dalam, tak pernah terpikirkan olehnya bertemu dengan seseorang seperti Zerra di saat-saat seperti ini. Disaat, ia menuntut dirinya sendiri untuk membalaskan dendam dan membunuh seluruh orang yang sudah mengkhianati dirinya menggunakan kekuatan yang diberikan Zaulla, Sang Dewi Kematian.


Gadis itu juga tidak tahu apa pun tentang penyakit Zerra, tetapi ia kini menetapkan untuk mencari sebuah tanaman obat yang dulu pernah dirumorkan dapat menyembuhkan apa pun. Dan kebetulan saja, tempat yang dituju memiliki arah yang sama.


Zerra akhirnya siuman, ia lantas mengangkat kepala dan mencoba untuk memahami keadaan. Karena baru saja pingsan, ia menjadi linglung sendiri dan salah tingkah.


“Kau sudah bangun?” Renne bertanya, tetapi itu bukanlah sebuah pertanyaan yang harus mendapatkan sebuah jawaban.


“Kau maju dengan gagah berani, aku pikir itu sudah sangatlah keren.” tambah Renne dengan sedikit senyuman manis yang menambah tingkat gula darah.


“Ya,” balas Zerra sembari melengos, menyembunyikan fakta bahwa ia tersipu malu.


Renne sempat berpikir, jika kepribadian Zerra akan berubah setelah beberapa kejadian yang baru saja terjadi. Tetapi, sepertinya itu adalah hal yang mustahil. Meskipun begitu, gadis itu tak terlalu ingin memedulikannya, sikap yang saat ini Zerra tunjukkan sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya.