
Saat mereka sibuk pada kegiatan masing-masing, saat itu juga bel kembali berbunyi, membuat semuanya saling menatap akan tetapi tidak dengan Clara yang terlihat masih memainkan ponselnya dengan santai.
Albert pun melangkahkan kakinya membuka pintu, sedangkan yang lain masih sibuk pada kegiatan masing-masing baik Delia bersama dengan Eka, Rafa bersama dengan Kirana dan juga Chandra bersama dengan Dika. Sedangkan Clara terlihat mengscroll layar ponselnya menatap foto yang ada di galerinya.
"Apa kabar Om Vian ya?"batinnya yang menatap ponselnya saat ada foto dirinya dan juga Vian.
"Clara"panggil Albert yang kini melihat dirinya.
sedangkan Clara yang di panggil oleh sang Papi pun mendongakkan kepalanya menatap Albert.
"Tolong buatin Kopi, nak!" ucap Albert.
"langsung antar ke ruangan tengah ya"sambung Albert lalu kembali di ruang tengah.
sedangkan Clara yang mendengarkan ucapan Albert pun menganggukkan kepalanya dan melakukan apa yang di minta oleh Albert.
Beberapa menit kemudian, Kopi yang di minta oleh Albert pun selesai. Clara mengantarkan kopi yang di minta oleh sang papi di ruang tengah.
matanya melihat sesorang yang saat ini ada di depan Albert sedangkan Clara hanya menatap punggung teman orang yang di katakan oleh Albert.
"Terimakasih Nak" ucap Albert yang tersenyum melihat Clara.
sedangkan Clara tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanpa ingin melihat siapa yang saat ini ada bersama sang Papi.
"Ara, ga mau cerita dulu bersama dengan Papi?"tanya Albert yang menatap wajah sang putri yang terlihat murung.
"Enggak Pi, Ara mau tidur duluan udah ngantuk"jawab Clara yang kini melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Albert yang saat ini bersama dengan temannya.
"Clara" panggil seseorang yang suaranya sangat di kenal oleh Clara.
Clara pun menghentikan langkahnya dengan cepat ia menoleh ke arah sumber suara.
"Om!"panggil Clara yang kini membalikkan tubuhnya menatap seseorang yang kini tersenyum menatap dirinya.
sedangkan Albert yang menatap sang putri pun menggelengkan kepalanya lalu,
"Ehem" ucap Albert yang kini berdehem menatap Vian dan juga Clara yang terlihat saling rindu.
"Ehh, Papi ganggu saja si" ucap Clara yang menatap sang Papi.
Pletak!
"Awwww, sakit Pi" ucap Clara yang mengaduh sakit karna Albert yang menyentil kening Clara.
"Belum muhrim kalian belum boleh bersentuhan!" ucap Albert yang menarik tubuh Clara menjauh dari Vian.
"Jadi Papi?" ucap Clara yang menatap wajah Albert dengan pertanyaan yang begitu banyak di pikirannya.
"Ada apa?"tanya Albert yang menatap Clara.
"Papi izinin Clara sama Om kan?" ucap Clara yang menatap Albert dengan wajah yang terlihat bingung.
"Hmmm" ucap Albert yang mengambil gelas kopinya lalu menyesapnya dengan pelan.
"Tapi perlu di ingat sekali saja kamu terlihat menangis karna dia maka Papi tidak akan membuat kalian bersama"ucap Albert yang menatap Vian.
"Saya berjanji tidak akan membuatnya menangis" ucap Vian yang kini tersenyum menatap Clara.
sedangkan Clara yang mendengarkan ucapan Albert dan juga Vian pun tersenyum.
"Terimakasih Papi" ucap Clara yang kini menatap Albert dengan senyuman di bibirnya.
Albert pun tersenyum lalu tangannya mengusap lembut puncak kepala Clara dengan pelan. Baginya tak ada yang penting untuknya kecuali kebahagiaan keluarganya walaupun ada banyak rasa ketakutan yang ia pikirkan.