
Jarum jam terus berjalan, menunjukkan jika waktu pun telah berlalu. Tanpa terasa begitu cepat pertemuannya dengan Kanaya akan berakhir, membuat senyuman dibibir Clara seketika hilang mrngingat dirinya yang belum begitu puas bersama dengan Kanaya.
Ting (Bunyi tanda pesan di ponsel Clara)
Seketika Clara mengambil ponselnya dan tertera nama dari sang Papi yang menanyakan dirinya sedang di mana.
Clara pun menekan ikon hijau dan tak lama kemudian sang Papi pun mengangkat panggilan darinya.
"Hallo Pi" ucap Clara yang kini nampak santai menelpon sang Papi.
"Lagi di mana nak?" ucap sang Papi.
"Lagi di rumah Viona, sebentar lagi Clara akan pulang Pi" jawab Clara.
"Baiklah Papi tunggu!" ucap Albert, sang Papi.
Dan tak lama kemudian panggilan pun terputus. Clara pun merapikan kamar Viona lalu tak lama kemudian ia pun pergi ke kamar mandi yang ada di kamar Viona.
Berbeda dengan Clara kini Viona sedang berjalan ke arah dapur ingin mengambil minum serta camilan untuk dirinya dan juga sahabatnya saat ini.
"Kemana bang Vian?" gumamnya yang kini mencari di beberapa ruangan.
Langkahnya terhenti saat dirinya melihat ke arah luar, mobil milik abangnya tak ada yang berarti mereka sedang keluar.
Viona mengambil beberapa bingkisan makanan ringan yang ada di dalam kulkas, ia mengambil camilan yang sangat di sukai oleh Clara dan juga dirinya. Dan tak lupa juga air putih untuk dirinya dan juga Clara.
Sedangkan di tempat yang berbeda, terlihat Vian yang saat ini terlihat memijit keningnya yang terasa berdenyut karna memikirkan dirinya dan juga sang putri, Kanaya. Ucapan Nilam membuatnya pusing hingga sulit untuk ia lakukan, di sisi lain ia nyaman dengan hubungannya dengan Nilam akan tetapi permintaan Nilam membuatnya bimbang akankah atau tak perlu.
"Ah, memikirkan semuanya membuat ku ragu untuk melanjutkannya!" ucapnya dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Ditengah perjalanannya ia teringat akan wajah seseorang yang ia temui beberapa hari yang lalu, wajah seseorang yang telah membuatnya mendapatkan apa yang diinginkan. Dapat merasakan suka dan juga duka selama beberapa tahun ini, pertemuan yang menyisahkan luka yang mendalam untuk dirinya.
Tanpa terasa mobil yang di kendarai oleh Vian kini sudah sampai di teras rumah, ia melangkahkan kakinya menuju kamar di mana sang putri yang saat ini berada.
"Viona ...." panggil Vian yang kini ada di depan pintu kamar.
"Viona ...!" panggil Vian dengan suara yang kuat.
Akan tetapi panggilan itu tidak ada sahutan dari dalam, Vian pun memutar knop pintu lalu membukanya.
Vian melihat ke dalam melihat seluruh ruangan, akan tetapi tidak ada sahutan dan juga orang yang di dalam. Vian hanya melihat Kanaya, sang putri yang kini sedang tertidur dengan pulasnya.
Ia terlihat bingung saat menatap ruangan yang sepi, dan kebingungan itu hanya beberapa saat., setelahnya ia pun menatap sang putri. Tangannya mengusap pipi gembul milik Kanaya. Terlihat rasa sayangnya cintanya dan juga perhatiannya yang begitu besar untuk sang putri.
Air mata menetes di pipi Vian yang sering terlihat dingin seperti es saat orang lain yang melihatnya, akan tetapi semua itu nyatanya tak seperti kenyataan. Vian sering kali merasa pedih dan juga sakit saat menatap wajah polos sang putri.