
"Sungguh keluarga yang romantis, andai waktu biaa di putar kembali aku ingin bersama dengan mu Al. tapi waktu tak akan bisa di putar kembali, ada dia dan ada mereka yang saat ini bersama dengan mu" sambung Wilda yang kini menghidupkan kembali mesin mobilnya lalu meninggalkan tempat di mana ia melihat seseorang yang pernah menjadi orang yang begitu berarti di dalam hidupnya.
Demi karier yang sedang ingin melambung tinggi membuatnya tak memikirkan rumah tangganya sendiri. Kesalahan di masa lalu dan melihat anak-anak yang bermain dengan kedua orang tuanya membuat dirinya memikirkan sang putri yang ia abaikan serta ia tinggalkan. Ada rasa bersalah di dalam dirinya akan tetapi Wilda masih menyimpan sikap dan juga sifat yang egois yang ingin selalu di benarkan walaupun ia bersalah.
Flaskback Off.
"Lalu kemana aku pergi mencari putri ku sendiri" ucapnya yang kini frustasi dengan menelusuri jalanan tanpa arah.
Masih teringat jelas bagaimana raut wajah Vian yang sama sekali sangat membencinya, yang menatap dirinya dengan tatapan dingin tidak seperti dahulu yang penuh cinta dan kasih sayang, tatapan lembut yang selalu memperhatikan dirinya.
Berbeda dengan Wilda yang saat ini terlihat menelusuri jalanan tanpa arah, kini terlihat Vian yang bingung dengan apa yang ia temui beberapa jam yang lalu.
Frustasinya saat mengingat bagaimana keadaan sang putri yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari Wilda akan tetapi begitu kejamnya Putri kecilnya di tinggalkan dalam keadaan sangat membutuhkan kasih sayang orang tua yang lengkap.
"Bagaimana aku bisa melupakan semuanya akan tetapi hati ini masih memiliki ruang untuknya walaupun tak lagi sama" ucapnya yang kini memijit keningnya yang terasa sakit.
Drtttt Drtttt ( bunyi getaran ponsel Vian)
"Om, lagi mana?" suara cempreng terdengar begitu jelas di telinganya.
"Assalammualaikum Ra"jawab Vian yang terlihat pokus dengan jalanan.
"Ahh iya lupa, Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu" jawab Clara yang terdengar tertawa
"Ada apa, Ra? tanya Vian yang masih pokus menelusuri jalanan.
"Om!" panggil Clara di balik panggilan telponnya.
"Ahh iya Ra, ada apa?" tanya Vian yang terlihat kaget karna suara Clara yang begitu lantang terdengar tegas.
"Om di mana? kenapa belum pulang ?"jawab Clara yang kini terlihat menunggu Vian untuk datang.
"Ada apa emangnya?" tanya Vian yang terlihat memperlambat jalan mobilnya.
"Aku sudah lama menunggu Om!" ucap Clara dengan nada yang terlihat kesal.
"Katanya akan ikut pulang, menyusul kami tapi aku lama menunggu om. Om juga ga ada kabarnya"
seketika Vian menjauhkan ponselnya daei telinganya mendengarkan ucapan dari Clara yang terlihat kesal.
"Oh ****!" terlihat Vian yang kini menggelengkan kepalanya ia benar-benar lupa jika akan ikut bersama dengan Clara menjelaskan semuanya tapi karna Wilda yang datang menemuinya membuatnya mengulur waktu hingga telat menemui Clara.
"Ada pekerjaan yang harus saya urus tadi Ra, maafin saya" ucap Vian pada akhirnya.
Tapi sayang,ucapannya sia-sia.Panggilan ponselnya sudah terputus karna telponnya telah di matikan oleh Clara, tanpa ingin mendengar ucapan Vian.
"Bagaimana bisa aku menyukai gadis yang seperti ini"gumam Vian yang terlihat memijit keningnya yang terasa nyeri.
Fikirannya bukan karna Wilda yang menemuinya akan tetapi fikirannya terfokus tentang bagaimana ia menghadapi Gadis yang saat ini telah meluluhkan hatinya.