
Clara pun tak menggubris ucapan Vian, ia masih setia pada ponselnya, sedangkan Vian kini berpindah tempat melihat Clara yang mengscroll gambar.
"Mana?" tanya Vian yang kini melohat Clara yang masih diam.
"Mau lihat? "tanya Clara balik dengan melihat Vian.
"Iya" jawab Vian dengan penasaran.
"Dia tampan, sangat tampan. Tampannya tak bisa aku jelaskan, sehingga membuat ku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya."ucap Clara yang menceritakan ciri-ciri lelaki yang di katakan cogan oleh Clara.
"Ini"ucap Clara yang memberikan ponselnya kepada Vian.
"Ini !"ucap Vian yang menatap wajah Clara....
Vian terlihat menggaruk kepalanya yang terasa gatal, bagaimana tidak melihat foto yang di dikagumi oleh Clara adalah foto Albert yang akan menjadi mertuanya nanti.
"Jika Albert yang menjadi saingan ku mana bisa aku mengalahkannya sedangkan Albert lebih tampan dari ku, dan diriku hanya lah seujung kukunya saja" gumam Vian yang kini mengambil minum di atas meja.
"Kenapa?" tanya Clara yang menatap wajah Vian.
"Tidak ada" jawab Vian yang kini mengesap minumnya hingga tandas tak tersisa.
sedangkan Clara yang melihat Vian pun hanya diam tanpa berniat ingin bertanya pada Vian, akan tetapi senyuman di bibirnya terlihat sedikit walaupun hanya sekilas.
"Aku lapar Om, mau pesan juga tidak?" tanya Clara yang melihat Vian.
"Masih kenyang, kamu saja yang beli" jawab Vian dengan melihat Clara sekilas lalu tatapannya beralih ke ponsel miliknya.
Clara yang mendengarkan jawaban Vian pun hanya menganggukkan kepalanya lalu berdiri dan meninggalkan Vian yang saat ini sedang duduk.
5 menit kemudian Clara kembali dengan membawa semangkok mie ayam lengkap dengan bakso.
sedangkan Vian yang melihat Clara pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Makan lah, jangan terlalu banyak sambalnya Ra" ucap Vian dengan memperhatikan Clara yang saat ini sedang menyantap makanan yang ada di depannya.
"Aman Om, perut ku sudah terbiasa makan makanan yang seperti ini" jawab Clara yang masih menikmati makanannya.
"Hm, jika sakit saja baru kamu menyesal" ucap Vian yang memperhatikan Clara yang terlihat menikmati makanannya.
"Sakit pun hanya diam aku Om" jawab Clara yang masih menyuap makanan di mangkok dan juga menjawab apa yang di katakan oleh Vian.
"Yakin?" ucap Vian yang memperhatikan Clara yang saat ini sedang asik makan.
"Yakin dong" jawab Clara dengan senyuman di bibirnya akan tetapi terlihat jelas wajahnya yang memerah karna kepedesan.
sedangkan Vian hanya menganggukkan kepalanya lalu fokus kembali pada ponsel yang ada di tangannya.
10 menit kemudian Clara pun selesai menghabiskan makanannya, peluh keringat karna kepedesan pun menetes. Tangannya terulur mengambil tisue yang berada tak jauh dari mejanya dengan meneguk air dingin yang ada di meja.
"Ada apa?" tanya Vian yang memperhatikan Clara.
"Tidak apa-apa" jawab Clara yang tersenyum dengan wajah yang terlihat pucat.
"Om, perut ku sakit" ucap Clara dengan lirih dengan wajah yang sudah di penuhi dengan keringat.
Vian yang mendengar ucapan Clara pun seketika mendongakkan kepalanya menatap Clara yang saat ini terlihat memejamkan mata dengan kening yang sudah basah oleh keringat.
"Astaga Clara!" ucap Vian yang kini berdiri dengan menggendong tubuh Clara dan melangkahkan kakinya menuju mobilnya.