
Wajah tersenyum lidah bisa berbohong namun perasaan dan hati begitu sakit saat mendengar kenyataan bahwa seseorang yang begitu ia inginkan nyatanya tak merasakan apa yang dirasakan. Sebegitu pedih kah perasaan yang ia rasakan, hingga ia pun tak mampu menatap lama seseorang yang saat ini ada di depannya.
"Kanaya, ayo nak sama Papa" ucap Vian yang mengulurkan tangannya.
Sedangkan Kanaya terlihat menggelengkan kepalanya tak ingin. Dan Clara yang melihat Kanaya menggelengkan kepalanya pun tersenyum dengan menatap Kanaya, tangannya mengusap puncak kepala Kanaya dengan pelan.
"Kay, mau sama mama saja?" tanya Clara
Sedangkan Kanaya yang mendengarkan ucapan Clara pun menganggukkan kepalanya dengan tangan yang mengusap pipi Clara. Clara pun tersenyum lalu mencium tangan mungil Kanaya.
"Biarkan Kanaya bersama ku dulu kak" ucap Viona yang kini ada di samping Clara.
"Baiklah, jika Kanaya rewel berikan pada Kakak saja" ucap Vian yang kini mengalah menatap Putri kecilnya yang terlihat memeluk leher Clara.
Sedangkan Clara dan juga Viona menganggukkan kepalanya tanda ia mengiyakan ucapan sang kakak.
"Kanaya tidak akan rewel Mas, Dia kan dekat dengan Clara dan juga Viona" ucap Nilam yang terlihat memegang tangan Vian.
"Hmmm ...," ucap Vian yang menanggapi ucapan Nilam.
"Yang mana mas?" tanya Nilam yang kini memberikan buku dengan Vian memperlihatkan gambar yang ada di buku.
"Terserah kamu saja, pilihlah yang kamu ingin!" ucap Vian yang kini menatap ponselnya.
"Oke" ucap Nilam dengan santai.
Berbeda dengan Nilam dan juga Vian yang sibuk pada kesibukan masing-masing, kini terlihat Clara yang menidurkan Kanaya dengan tangan yang nampak menepuk pelan bo**ng Kanaya, sedangkan Kanaya nampak memejamkan matanya.
"Clara ...,"panggil Viona yang kini berjalan mendekat ke arah ranjangnya.
Sedangkan Clara yang mendengarkan suara Viona seketika menoleh lalu meletakkan jarinya di bibirnya, memberikan kode untuk diam.
"Kamu mau makan apa?" tanya Viona dengan menatap Clara.
"Apa aja Vi" jawab Clara yang kini menggeser memberikan tempat untuk Viona duduk.
"Are you oke?" tanya Viona yang nampak menatap wajah sahabatnya.
"Iya, santai aja Vi tidak ada yang perlu di bahas lagi ...." ucap Clara yang kini tersenyum melihat Viona.
"Ara ...," ucap Viona yang kini memeluk Clara, sahabatnya.
"Aku tau kamu sedih, aku tau kamu kecewa dan juga rapuh tapi semuanya kamu tutupin dengan senyuman yang membuat ku sakit Ra!" sambung Viona yang kini melepaskan pelukannya lalu menatap sahabatnya yang kini nampak meneteskan air matanya.
"Jika itu yang terbaik aku rela Vi, demi kebaikan Om Vian dan juga Kanaya." ucap Clara yang kini tersenyum getir dengan air mata yang tanpa permisi masih terus terusan menetes.
"Maaf " ucap Viona yang kini mengusap air mata Clara dengan tangannya.
Clara tersenyum dan menganggukkan kepalanya menggenggam tangan sahabatnya yang kini menatap dirinya iba.
"Jangan pernah berfikir jika sahabat mu ini selalu bersedih Vi, masalah seperti ini akan selalu kita jumpai bukan. Jika aku dan Om Vian berjodoh maka InSya'Allah kami akan di satukan!" ucapnya yang kini tersenyum.
"Hmmm ...,"
"Dan sekarang bagaimana? apa kamu rela pergi ninggalin kami, ahh maksud ku kak Vian dan juga Kanaya?" ucap Viona yang kini menatap wajah Clara.
"Jika itu lihat saja nanti!" ucap Clara dengan senyuman di bibirnya
...Cinta yang seharusnya di lakukan adalah merelakan ia bahagia dengan orang lain walaupun begitu sakit yang di rasakan....Bukan malah memaksa untuk tetap bersama namun hati sama-sama terluka ...
^^^Sny^^^