
Keesokan harinya ....
Sinar matahari menerpa wajah cantik Clara yang saat ini sedang terlelap dengan seketika ia terbangun. Matanya mengerjab menatap jam yang ada di atas meja.
Clara turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia pun keluar dengan kimono dan juga rambut yang ia bungkus dengan handuk.
"Bissmillaah" ucap Clara dengan menyiapkan semua kebutuhannya untuk mendaftar ke Universitas yang telah di rekomendasikan oleh sang Papi, Albert.
Semua telah selesai dengan semua berkas dan juga persiapan yang telah dia siapkan semalam. Ada rasa takut serta deg deg kan saat kakinya melangkah meninggalkan kamarnya. Dengan tekad dan juga percaya diri ia pun berjalan menuju mobilnya lalu menghidupkan mesin. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, 15 menit dalam perjalanan akhirnya ia pun sampai di Universitas yang ia tuju. Ada rasa kagum mengeruak di dalam hatinya menatap pemandangan yang begitu asri dan juga nyaman saat memasukinya. Senyuman dibibir dari seseorang membuatnya kaget, antara bahagia dan juga takut pun ia rasakan.
"Selamat bergabung di Universitas x Clara, semoga kamu menjadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan kedua orang tua kita" ucap Rafa yang kini menatap sang Adik dengan senyuman mengembang dibibirnya.
"Kakak?" ucap Clara yang kini menatap Rafa yang tersenyum menatapnya.
"Hem ..., kakak akan dampingi kamu selama beberapa hari, kebetulan ada pekerjaan di sini jadi sekalian kakak temani kamu ya" jawab Rafa yang kini mengusap puncak kepala Clara.
Clara pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Sebuah Surprise untuk dirinya karna sang kakak datang menemaninya, rasa haru yang datang serta perasaan bahagia menjadi satu.
"Ambil jurusan apa ?" tanya Rafa yang kini berjalan beriringan dengan Clara.
"Ikut apa kata Papi kak" ucap Clara dengan tatapan yang kini melihat setiap ruangan.
"Jika kamu tak ingin, kamu bisa memilih jurusan yang kamu ingin, Ra." jawab Rafa dengan memberikan pengertian.
"Udah ini aja kak, aku juga mau dengan apa yang di inginkan Papi." ucap Clara dengan tersenyum melihat Rafa.
"Kakak harap ini memang keputusan kamu Ra, jangan ada keterpaksaan lagi" ucap Rafa lalu mengusap puncak kepala sang adik, Clara.
Clara menggelengkan kepalanya lalu tersenyum melihat sang kakak. Di saat Clara dan juga Rafa sedang bercengkrama di saat itu juga datang seseorang yang membuat Clara tersenyum ramah sedangkan Rafa menatap seseorang itu dengan wajah yang sulit di artikan.
"Permisi ?" ucap seseorang yang kini menatap Clara dan juga Rafa bergantian.
"Dengan Clara ?" tanyanya yang kini menatap Clara.
"Ya, saya sendiri. Ada apa kak?" tanya Clara dengan menatap wanita yang kini ada di depannya.
Clara pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih kak" ucap Clara lalu melangkahkan kakinya menuju ruangan yang telah di arahkan oleh perempuan cantik yang saat ini sedang menatap punggung Clara yang telah masuk di dalam ruangan.
"Mawar?" ucap Rafa yang kini menatap wanita yang ada di depannya.
"Sorry saya sibuk" ucap seorang wanita yang kini ada di depan Rafa.
"Ada yang harus saya katakan, tolong dengarkan dulu" ucap Rafa dengan tangan yang menyentuh pergelangan tangan wanita cantik yang saat ini terdiam.
"Semua itu kesalah pahaman, dan kamu harus tau semuanya dulu" sambung Rafa.
"Sudah selesai? " jawab wanita yang kini menatap tangannya yang di pegang oleh Rafa.
"Semua adalah kesalahan kamu, untuk kepercayaan dan juga kesabaran yang aku berikan selama ini kamu sia-sia kan jadi tak ada gunanya lagi untuk meminta maaf atau mengulang kata-kata ingin menjelaskan semuanya. Saya melihat menilai orang dari cara ia berbicara dan memperlakukan, saya sudah memaafkan kamu tapi jika ingin memberikan kesempatan kembali saya belum bisa" sambungnya dengan melepaskan pegangan dari Rafa.
"Tapi ...," ucap Rafa.
"Maaf" jawab Mawar, wanita cantik yang ia temui.
Rafa menatap punggung Mawar yang kini telah pergi meninggalkannya. Ada rasa sesak saat menatap bagaimana tatapan Mawar dengannya kini, tatapan dingin tak seperti dahulu tatapan cinta yang penuh kasih sayang. Sedangkan di ruangan kini terlihat Clara yang mengisi formulir dengan serius, tak menunggu lama ia pun selesai mengisi.
"Sudah Clara?" tanya dosen yang kini ada di depannya.
"Sudah pak" jawab Clara yang kini memperhatikan kertas yang diberikan oleh Clara, dengan menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi" sambung Clara dengan sopan.
"Ya, silahkan" jawabnya.
Clara pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, ada rasa bahagia saat semuanya yang di inginkan sama seperti yang impikan. Tak ada kendala sedikit pun.