Look At Me, Uncle

Look At Me, Uncle
LMU



"Hallo Pi" ucap Clara yang kini ada di layar ponsel.


"Assalamualaikum Clara " ucap Albert yang kini menatap kedua anaknya.


"Waalaikumsalam warohmatullah wabarokatu Pi, Mi" ucap Clara yang kini tersenyum kikuk melihat kedua orang tuanya di balik layar ponselnya.


"Kalian lagi di mana?" tanya Clara yang kini memperhatikan wallpaper belakang di mana kedua orang tuanya berada.


"Ruangan kerja" ucap Albert yang kini memperhatikan Clara dengan serius.


"Ara lagi mana?" tanya Albert yang kini menatap fokus Clara.


"Lagi jalan mau pulang Pi, sama kakak" ucap Clara yang kini mengganti kamera belakang memperlihatkan sang Kakak,Rafa yang saat ini sedang menyetir.


"Hallo, Pi" ucap Rafa yang kini tersenyum melihat ke arah Clara.


"Sejak kapan kamu ada di sana Raf?" tanya Albert yang kini terlihat bingung.


"Sejak Papi sibuk dan sejak itu juga aku pergi " ucap Rafa yang kini fokus menatap jalanan.


"Tapi mobil kamu?" tanya Albert yang penasaran.


"Mobil ada di rumah, makanya Papi tidak sadar kan" jawab Rafa yang terlihat bahagia.


"Iya juga si, tapi itu kan mobil kesayangan kamu kenapa bisa kamu pergi tanpanya?" tanya Albert dengan penasaran.


"Semua karna keinginan Rafa, Pi" ucap Rafa.


Tak lama kemudian kini terlihat wajah Clara yang ada di layar, terlihat tersenyum saat menatap kedua orang tuanya.


"Besok Ara mulai kuliah Pi, Mi. Do'a in ya semoga kuliah Ara lancar dan sukses., Menjadi apa yang diinginkan Mami dan juga Papi" ucap Clara yang penuh harap.


"Aamiin ...."


"Mami dan Papi akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian" ucap Eka yang kini tersenyum melihat Kedua anaknya.


...----------------...


Jarum jam, tanda pengingat waktu terus berjalan. Hari demi hari terus berganti. Tanpa terasa telah lama Clara meninggalkan kedua orang tuanya demi menimba ilmu pengetahuan.


Ia pun menjadi perempuan yang terlihat cantik tak hanya Cantik yang di juluki oleh setiap orang-orang di kampusnya akan tetapi ia menjadi idola setiap anak karna kepintaran yang bisa membuat nama kampusnya terkenal.


Untuk identitas keluarganya ia sangat tertutup, karna tak ingin membuatnya terlihat sombong dalam mengingat bagaimana keluarganya yang ternyata adalah donatur terbesar di tempatnya kuliah. Banyak laki-laki yang menatap mendambakan Clara, akan tetapi selalu mereka buang dengan cepat karna mengingat lelaki yang selalu bersama dengan Clara yang selalu mereka fikir jika itu adalah kekasih Clara.


"Ara?" panggilnya yang kini menatap Clara yang hendak pergi ke kantin.


Clara yang mendengarkan suara memanggilnya pun berhenti dan melihat ke belakang.


"Ada apa?" tanya Clara yang kini menatap laki-laki yang saat ini ada di depannya.


"Kamu mau ke kantin?" tanyanya yang kini menatap Clara dengan kagum.


"Hemm,ada apa?" jawab Clara yang kini memperhatikan laki-laki yang saat ini ada di depannya.


"Mau bareng, boleh?" tanyanya yang terlihat gugub.


"Oh, ya udah ayo" ucap Clara dengan berjalan beriringan dengan laki-laki yang saat ini di sampingnya.


"Terimakasih" ucapnya yang terlihat duduk berhadapan dengan Clara.


"Untuk?" tanya Clara dengan kening yang berkerut memperhatikan laki-laki yang saat ini di depannya.


"Karna ...," ucapnya terputus saat ada beberapa laki-laki yang menganggu dirinya.


"Awwww" ucapnya mengaduh sakit saat kursi yang ia duduk'i di tarik oleh salah satu teman satu kelasnya.


"Apa-apaan ini? Kalian kalau ingin bercanda jangan di sini, cari orang lain bukan dia!" bentak Clara yang kini menatap ketiga laki-laki yang saat ini menatap Clara dengan kagum.


"Apa ada yang sakit?" tanya Clara dengan tangan yang terulur menyambut pria yang saat ini menatap dirinya.


"Ahh tidak" jawabnya dengan mencari kaca matanya.


Clara yang melihat pun langsung mengambilkan kaca mata milik pria yang saat ini ia bantu.


"Kamu cantik, tapi kenapa malah memilih laki-laki culun ini?" tanya salah satu pria yang telah usil dengan pria yang saat ini bersamanya.


"Karna berteman tak harus memilih siapa dia seperti apa dan bagaimana!" ucap Clara yang kini memberikan kursi untuk Nata.


"Saya berteman jika saya ingin dan ada rasa nyaman di hati" sambung Clara yang kini menatap ketiga lelaki yang saat ini hanya bisa menatap takjub Clara.


"Sorry" ucap salah satu pria yang telah membuat Nata terjatuh.


"Tak masalah " jawab Nata dengan suara yang terdengar tak asing di telinga Clara.


Clara memperhatikan laki-laki yang saat ini ada di depannya, akan tetapi dengan cepat ia alihkan pemikiran tentang masa lalunya.