
Setelah menatap kepergian sang istri, Albert pun tertawa dan menyusulnya. Seketika ia hampir melupakan putrinya yang tak kunjung datang, Albert memutar knop pintu kamar Clara.
Satu pemandangan yang tak pernah ia jumpai sebelumnya yaitu melihat sang putri yang tertidur dengan pulasnya dengan memeluk boneka kesayangannya yang ternyata adalah pemberian dari Albert. Albert menatap haru sang putri yang masih menjaga bahkan masih terlihat boneka yang bagus seperti saat ia belikan.
"Putri Papi" Gumam Albert yang kini menyelimuti sang Putri yang tertidur.
"Maaf jika Papi keras dengan kamu, karna Putri Papi harus mendapatkan yang terbaik dari yang lain. Dan Papi ingin kamu bisa lebih dewasa dalam menyikapi perasaan kamu" Ucap Albert yang kini mencium kening Clara.
Dan tak lama kemudian Albert pun melangkahkan kakinya menuju pintu untuk keluar lalu menutup kembali pintu kamar Clara.
Setelah Albert keluar dari kamar Clara, kini terlihat Clara yang membuka matanya menatap pintu. Ia menyentuh keningnya rasa haru bagaimana Albert, sang Papi yang perhatian serta sayangnya dengan dirinya membuat Clara terenyuh dan tak bisa menolak apa yang diinginkan oleh sang Papi untuk dirinya. Bagaimana pun dan seperti apapun ia akan menuruti apa yang di ucapkan oleh sang Papi, bagaimana pun apa yang di lakukan untuk dirinya adalah jalan terbaik baginya.
"Terimakasih Pi" ucap Clara yang kini tersenyum.
"Terimakasih karna sudah menjadi apa yang Clara inginkan, terimakasih karna sudah menjaga Clara dengan begitu sabarnya menghadapai Clara yang terkadang membuat Papi emosi" sambungnya yang kini mengingat bagaimana sang Papi dalam menjaganya dengan begitu posesifnya.
Clara melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, ia membersihkan diri. Setelah beberapa menit kemudian Clara pun keluar dengan wajah serta tubuh yang begitu segar.
Clara mengenakan pakaian santai, dengan baju kaos putih dan juga celana jeans pendek.
Setelah itu ia turun mencari keberadaan sang Papi dan juga Mami yang tak terlihat di setiap ruangan, akan tetapi langkahnya terhenti saat mendengarkan panggilan dari Rafa, sang kakak.
"Clara" panggil Rafa yang terlihat menikmati camilan yang ada di meja.
Clara pun menoleh dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah sang kakak.
"Behh enak sepertinya" ucap Clara dengan tangan yang hendak mengambil makanan di dalam toples yang dipengang oleh Rafa.
Sedangkan Rafa tersenyum melihat sang Adik yang kini terlihat sudah mulai dewasa.
"Ada apa kak?" tanya Clara dengan tatapan melihat ke arah Tv dan juga tangan serta mulut yang sama-sama menikmati camilan.
"Hanya panggil saja, lebih baik di sini saja. Jangan menganggu orang yang sedang bahagia" ucap Rafa.
"Maksudnya Papi sama Mami?" tanya Clara yang menatap sang Kakak.
"Hmm bener, biarkan mereka berdua dan kita bebas di sini menonton kartun kesukaan dengan di temani makanan. Dari pada ada Papi yang ada kita kena ceramah dan selalu di minta untuk belajar" ucap Rafa yang kini terlihat tersenyum bahagia.
"Iya juga si, lagi pula jarang kan Mami pulang cepat biarkan mereka berdua membuat adik untuk kita" ucap Clara dengan tersenyum.
Pletak!
"Aduh, kenapa si kak? Sakit tau!" ucap Clara yang kini menatap wajah sang Kakak.
"Adik adik adik mulu, nanti pas ada kamu mewek karna kasih sayang mereka hilang sama kamu! kamu mau?" tanya Rafa yang kini menatap wajah Clara.
"Entah" jawab Clara yang terlihat santai dengan tangan yang mengusap keningnya yang terasa sakit.