
Berbeda dengan Viona yang saat ini mengasuh Kanaya yang terlihat rewel, kini nampak Clara dan juga Vian yang terlihat kaku.
"Terimakasih kak" ucap Clara yang saat ini tersenyum melihat Vian.
"Untuk?" tanya Vian yang saat ini menatap Clara.
"Sudah mau mengantar saya pulang" ucap Clara dengan mengenggam tangannya karna bingung.
"Hmmm ..., terimakasih juga karna sudah menjaga Kanaya selama ini" jawab Vian.
Clara pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Hening dan tak ada lagi kata-kata yang ada di dalam perjalanan menuju rumah Clara. Hanya ada bunyi mesin mobil yang mereka kendarai hingga tempat tujuan menuju rumah Clara pun sampai dan mobil pun berhenti.
"Terimakasih kak" ucap Clara yang kini membuka pintu mobil.
Vian pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dan Clara turun setelah itu menutup pintu mobil kembali.
"Langsung pulang, ya Ra ...," ucap Vian yang kini menghidupkan mesin mobilnya kembali.
"Hati-hati kak" ucap Clara yang kini melambaikan tangannya melihat Vian.
Sedangkan Vian terlihat tersenyum dan membunyikan klakson dan tak lama kemudian ia pun pergi meninggalkan Clara yang saat ini terdiam menatap mobil yang semakin tak terlihat dari pandangan, setelah itu Clara melangkahkan kakinya menuju pintu rumah dengan senyuman di bibirnya yang tak dapat di ungkapkan.
"Pulang sama siapa?" tanya Albert, sang Papi.
"Di antar sama Kak Vian, Pi " jawab Clara yang kini tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju sang Papi yang saat ini sedang duduk menatap dirinya.
Clara pun mencium tangan Albert lalu duduk bersebelahan dengan sang Papi.
"Bersihkan dulu diri kamu, mandi dan setelah itu makan" ucap Albert yang kini menatap sang Putri.
"Hmm ..., baiklah Pi" jawab Clara yang mulai merasakan hawa jika dirinya tak akan selamat dari kata-kata penyemangat untuk dirinya.
Bukan penyemangat melainkan kata-kata yang akan membuatnya berfikir beberapa kali dalam melakukan tindakan yang akan ia lakukan.
Clara melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dengan langkah gontai ia menapak kan kakinya dalam beberapa menit kemudian ia pun sampai di kamarnya. Tangannya memutar knop pintu, ia membuka perlahan. Setelah ia masuk, ia pun kembali menutup pintu.
Clara merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, fikirannya melayang mengingat bagaimana ekspresi sang Papi beberapa saat yang lalu. Ia tak kan menolak apa pun keputusan sang Papi, baik itu yang ia inginkan atau pun sebaliknya. Karna bagaimana pun keputusan sang Papi adalah yang terbaik untuk dirinya. Keputusan di mana dirinya yang harus melanjutkan sekolahnya dan keputusan kehidupan yang akan ia lewati.
Keluarga adalah segalanya untuknya dan keluarga lah yang menjadi inspirasi untuk dirinya baik itu Papi, Mami dan juga Rafa, sang kakak.
Mengingat bagaimana keluarganya membuat Clara menepuk keningnya sendiri. Bagaimana pun keputusan yang akan ia ambil adalah terbaik untuk dirinya dan apapun yang diinginkan keluarganya akan ia lakukan walaupun hati dan fikiran tak sama.
Lama Clara menatap langit-langit kamarnya, tanpa terasa matanya terpejam dengan sempurna. Clara tertidur dengan nyenyaknya dan tanpa terasa waktu terus berjalan begitu cepat.
"Assalammualaikum" ucap seseorang yang saat ini ada di depan pintu.
"Waalaikumsalam warohmatullah wabarokatu" jawab Albert yang kini menoleh ke arah sumber suara.
Pemilik suara itu adalah sang istri, Eka. ia tersenyum menatap Albert yang saat ini sedang duduk dengan wajah yang sulit di katakan.
Eka melangkahkan kakinya menuju Albert yang saat ini sedang tersenyum melihatnya. Eka mencium punggung tangan Albert dan setelah itu Albert pun mencium kening Eka.
"Assalammualaikum" ucap Rafa yang kini ada di depan pintu dengan tangan yang memainkan kunci mobil di tangannya.
"Astagfirullah" sambungnya saat menatap kedua pasangan yang ada di depannya.
"Apa-apaan ini? anak yang baru pulang justru di beri pemandangan yang begitu harmonis membuat ku ingin segera menikah saja!" ucap Rafa yang kini mencium tangan sang Papi dan juga Eka, sang Mami.
"Menikah saja jika sudah ada calonnya" ucap sang Papi yang kini tersenyum dengan tangan yang mengusap puncak kepala Eka.
Bug!
"Awwww" rintih Albert saat merasakan bantal sofa mengenai perutnya.
"Bagaimana mau menikah, Rafa masih labil. Lihatlah ia baru saja berganti pasangan dalam satu minggu pacarnya berbeda 2 sampai 3 kali. Mami rasa sifat seperti ini mengikuti jejak Papi!" ucap Eka yang kini menatap Albert.
"Bagaimana bisa Papi, Papi gini-gini kalem Mi. Papi juga polos mana bisa Papi berganti-ganti pacar" jawab Albert yang kini menepuk keningnya sendiri.
"Kalem dan polos, emang ada Papi gitu? kalau kalem sepertinya gak ada deh Pi. Tapi kalau Polos iya Rafa percaya ...," Ucap Rafa yang kini melangkahkan kakinya menjauh dari sang Papi dan juga Mami.
"Nah kan anak kita aja percaya kalau Papi ini polos sayang" jawab Albert yang bangga menatap sang istri,Eka.
"Hemm,polos Pi. Polos saat papi ada di dalam kamar saat anu sama Mami ...." ucap Rafa yang kini tertawa dan berlari menuju kamarnya.
"Anu?" tanya Eka yang menatap Albert dengan bingung.
"Anu itu sayang" ucap Albert yang kini tersenyum melihat Eka.
"Anu apa?" tanya Eka yang terlihat bingung melihat sang suami.
"Mau anu?" tanya Albert yang kini tersenyum penuh arti menatap Eka.
"Ga jelas bener kalian" ucap Eka lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mereka.
Sedangkan Albert tertawa menatap sang Istri yang terlihat kesal sekaligus bingung.