
Ditengah senyuman Ara dan juga Albert ada sepasang mata yang melihat dari kejauhan. Senyuman kebahagiaan akan tetapi rasa menyesal dan juga takut tersimpan jelas di dalam hatinya. Menatap kepergian Clara yang kini mulai menjauh seiring pesawat yang mulai tertutup oleh awan.
"Maaf" ucapnya yang kini melangkahkan kakinya.
"Jika ia jodoh mu, maka ia akan kembali padamu dan kalian akan berjumpa dengan perasaan yang sama. akan tetapi jika ia kembali dengan rasa yang beda maka mungkin saja itu adalah rasa dia yang dahulu yang selalu kamu abaikan yang harus kamu rasakan juga" ucap Albert yang kini menatap seseorang yang kini terlihat murung.
"Maaf" ucap Vian yang kini menatap langit yang terlihat cerah.
"Lanjutkan kehidupan mu, putri ku sudah pergi dan akan kembali lagi jika ia telah sukses!" ucap Albert yang kini menepuk pundak Vian.
"Aku akan menunggu Clara hingga kembali" ucap Vian dengan tegas.
"Lakukan jika kamu sabar dan yakin jika ia masih melihat mu!" jawab Albert yang kini telah pergi meninggalkan Vian yang hanya diam.
sedangkan Vian hanya menatap langit yang terlihat cerah, ia menatap pesawat yang membawa Clara pergi darinya.
"Apa pun akan aku lakukan demi cinta dan juga Putri ku" ucap Vian yang kini masuk di dalam mobilnya.
Beberapa menit kemudian, Vian pun sampai di rumahnya dengan wajah yang terlihat lesu.
"Ada apa kak?" tanya Viona yang kini duduk di samping Vian.
"Clara pergi Vio. Dia pergi meninggalkan kita" ucap Vian yang kini menatap Viona.
"Dia akan kembali jika waktunya tiba kak!" ucap Viona yang kini menatap sang kakak, Vian.
"Untuk itu Viona tidak bisa menyatakannya, karna hati manusia bisa berubah. Apa lagi selama ini perasaannya selalu di abaikan dengan Kakak." jawab Viona yang kini terlihat membayangkan bagaimana kekehnya Clara untuk bisa mendapatkan perhatian Vian dan juga mendapatkan balasan perasaannya dari Vian.
"Akan tetapi apa yang akan terjadi nanti kita tidak tau, karna jodoh siapa yang tau kan" sambung Viona dengan menghibur sang kakak.
"Hm, kakak ke kamar dulu ya" ucap Vian yang kini berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.
Sedangkan Viona hanya menganggukkan kepalanya melihat sang kakak.
"Clara pergi dimana ya?" gumam Viona yang kini mengambil ponselnya di meja.
"Ya ampun ada panggilan tak terjawab dari Clara" sambungnya yang kini menatap Ponselnya.
Viona menekan ikon hijau, menelpon Clara akan tetapi ponselnya tak aktif membuat Viona hanya menatap layarnya dengan perasaan bersalah. Tak lama kemudian Viona pun mengirim pesan kepada Clara, dengan harapan jika Clara mengaktifkan ponselnya bisa membaca pesan darinya.
Setelah mengirim pesan untuk Clara, Viona pun melangkahkan kakinya melihat Kanaya yang masih tidur dengan nyenyaknya. Ia mengelus mengusap puncak kepala Kanaya dengan lembut, menatap wajah polos keponakannya yang terlihat tenang dengan tidurnya dengan sesekali wajahnya terlihat tersenyum. Viona menatap lekat wajah Kanaya ia memikirkan bagaimana jika keponakannya mencari dimana Clara akan tetapi ia pun tak bisa membuat Kanaya terus-terusan seperti ini.
"Tidur yang nyenyak sayang" ucap Viona dengan pelan dengan mencium kening Kanaya.
...Ikhlas dan juga Sabar .......
...Mudah di ucapkan akan tetapi sulit di lakukan, mudah di bayangkan akan tetapi, saat dihadapi begitu sulit ...,...
...sny .......