Look At Me, Uncle

Look At Me, Uncle
LMU



"Ara ...." panggil Viona yang kini melangkahkan kakinya menuju rumahnya bersama dengan Clara.


"Hmm, ada apa Vi?" tanya Clara yang kini menghentikan langkahnya melihat Viona.


"Ada yang ingin aku katakan" ucapnya yang kini mengambil kertas yang ada di tasnya, lalu ia berikan pada Clara.


"Apa ini?" tanya Clara dengan mengambil kertas yang terlihat seperti undangan.


"Buka aja Ra" ucap Viona dengan menutup tasnya kembali.


Clara pun menganggukkan kepalanya, lalu membuka pita yang terletak di kertas yang ia pegang.


"Vian dan Nilam?" gumamnya yang kini terlihat terburu-buru membuka pita yang ada di kertas.


"Undangan pertunangan?" sambungnya yang kini terlihat meneteskan air matanya.


"Ara?" panggil Viona yang kini mengenggam tangan Clara.


"iiiiya ...," jawabnya dengan tangan cepat menghapus air matanya.


"Kamu menangis, maaf Ara" ucap Viona yang kini menggenggam tangan Clara dengan tangan yang menghapus jejak air mata yang ada di pipi Clara.


"Kenapa baru sekarang kamu katakan?" ucap Clara yang kini menatap Viona.


"Maaf" jawab Viona dengan menundukkan kepalanya.


"Hem, ya udah ayo masuk ...," ucap Clara yang kini terlihat tersenyum walaupun jelas terlihat oleh Viona jika senyuman itu adalah terpaksa.


"Ayo, Vi" ucap Clara yang kini terlihat melangkahkan kakinya dari tempat Viona, sedangkan Viona masih terlihat di tempat semula.


Viona pun menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Clara yang terlihat bersemangat ingin bertemu dengan Kanaya.


"Kamu baik-baik saja?" ucap Viona yang kini telah berjalan bersama dengan Clara.


"InSya'Allah" jawab Clara yang kini tersenyum melihat Viona.


"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatu" jawab Vian dan juga Nilam dengan bersamaan.


Sedangkan Kanaya terlihat berjalan menuju Viona dan juga Clara yang saat ini masih ada di depan pintu.


"Ma ...," ucap Kanaya yang kini melihat Clara.


"Hallo sayang" ucap Clara yang kini menggendong tubuh mungil Kanaya.


"Apa kabar hem? Kay sudah makan?" sambung Clara yang kini tersenyum menatap wajah gembul Kanaya.


Kanaya pun menganggukkan kepalanya dengan tangan yang mengusap pipi Clara.


Sakit, tentu itu yang di rasakan oleh Clara. Akan tetapi ia tak akan bisa memaksakan perasaan Vian untuk dirinya, sedangkan perasaan yang ia rasakan tak sama seperti yang di rasakan oleh Vian. Cukup untuknya memaksakan perasaan orang lain cukup baginya berjuang sendirian sedangkan orang yang di perjuangkan sama sekali tak menghargai. Itu lah yang saat ini ada di fikirannya.


Clara terlihat tersenyum saat melihat Vian dan juga Nilam. Sedangkan Vian terlihat menatap wajah Clara yang terlihat murung namun di paksakan untuk tetap ceria. Saat Vian menatap Clara saat itu juga pandangan Clara dan juga Vian bertemu. Beberapa menit Clara maupun Vian saling menatap, tetlihat jelas tatapan Clara yang menyimpan banyak luka dan juga kecewa sedangkan Vian menatap Clara hanya diam namun menyimpan banyak jawaban atas apa yang terlihat di tatapan Clara.


"Ada banyak jawaban atas tatapan yang ada pada dirimu Ra ...," batin Vian yang kini mengalihkan tatapannya dengan melihat Nilam yang saat ini sedang melihat gambar gaun pengantinnya.


Sedangkan Clara hanya tersenyum getir lalu mencium pipi gembul Kanaya yang saat ini ada di gendongannya.


"Hai Ra ...," ucap Nilam yang tersenyum melihat Clara yang sedang berjalan.


"Hai juga kak, apa kabar?"jawab Clara yang saat ini tersenyum melihat Nilam.


"Seperti yang kamu lihat ...," ucap Nilam dengan tersenyum lalu meraih tangan Vian.


"Kamu datang ya, di acara pernikahan nanti " sambungnya dengan menunjukkan jari tangannya dan juga Vian.


Clara pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Insya'Allah pasti datang kak" jawab Clara dengan senyuman di pipinya.


Sedangkan Vian hanya tersenyum lalu tangannya meraih tubuh Kanaya yang saat ini sedang memeluk Clara.