Look At Me, Uncle

Look At Me, Uncle
LMU



"Ara?" panggil Nata atau Vian yang kini menatap wajah Clara.


"Hem, ada apa?" tanya Clara yang kini meletakkan ponselnya di meja akan tetapi dengan mulut yang masih mengunyah.


"Apakah makanannya enak?" tanya Nata yang kini menatap Clara.


"Hmmm ..., sangat enak" jawab Clara yang tersenyum dengan mulut yang masih mengunyah.


"Silahkan makan dan nikmati dulu, Ra" ucap Nata dengan mengambil ponselnya yang di letakkan di atas meja.


Sedangkan Clara yang mendengarkan ucapan Nata pun menganggukkan kepalanya. Sebenarnya ia ingin mendengarkan ucapan Nata yang menjelaskan semuanya tanpa menunggu Clara bertanya, akan tetapi lelaki di depannya ini terlihat lebih cuek dan juga dingin. Tingkat kepekaan lelaki yang ada di depannya sangatlah minim entah bagaimana ia bisa jatuh hati pada seorang yang terlihat cuek dan dingin seakan kulkas 4 pintu yang sering di katakan orang.


Semakin ia mencoba membuang rasanya terhadap Vian maka rasa itu semakin besar. Clara yang di kenal wanita yang begitu dingin akan tetapi sifat sikap itu hanya pada orang yang belum mengenalnya begitu dekat.


saat orang yang di kenal dekat maka sifat sikap berbanding berbalik, ia terlihat ramah atau lebih di kenal cerewet karna sikapnya yang humoris dan suka membuat orang tertawa akan caranya yang terkenal konyol.


"Jadi gimana ?"tanya Clara yang kini meletakkan gelas di depannya.


"Apanya ?"tanya Vian yang kini menatap Clara yang saat ini sedang minum.


"Kenapa bisa Om menjadi Nata yang terlihat cupu dan lugu tetapi malah banyak tanya, sifat sikap itu berbanding terbalik pada Aslinya" ucap Clara yang kini bertanya dengan intinya.


"Karna aku ingin mengikuti kamu, bagaimana kamu yang bisa dekat dengan orang dan bagaimana cara kamu menghadapi laki-laki yang mendekati kamu" ucapnya dengan menatap Clara.


sedangkan Clara yang di tatap seperti itu pun terlihat salah tingkah. Bagaimana tidak, Vian menatapnya begitu lekad seakan penuh interogasi menatap manik mata Clara dan penuh selidik.


"Lalu, bagaimana dengan perkerjaan dan juga ...," ucap Clara yang menggantungkan pertanyaannya mengingat sebelum ia pergi saat itu juga Vian akan melaksanakan akad nikah.


"Jangan di buka kaca matanya, tetap gunakan !" ucap Clara yang kini menatap Vian.


"Kenapa ?" tanya Vian yang kini meletakkan kaca matanya di atas meja.


"Aku bilang gunakan Om!" ucap Clara.


Bukan karna apa, Clara tak ingin Om kesayangannya terlihat oleh orang, apa lagi orang kampusnya terlihat begitu antusias pada orang-orang yang seperti Vian. Clara tak akan rela melihat Vian di sukai atau di lihat oleh orang lain karna yang berhak saat ini adalah dirinya sendiri.


"Ada apa? "tanya Vian yang menatap Clara dengan bingung.


"Karna mereka mengenal Om adalah Nata yang culun cupu. Bukan Vian yang di kenal dingin dan tak tersentuh" ucap Clara yang menatap Vian.


"Lagi pula lebih baik seperti ini, kamu tidak perlu malu Ra" ucap Vian yang tetap kekeh tak ingin memakai kaca mata hitam yang besar menutupi hidung mancungnya.


"Pakai saja Om!" ucap Clara yang menatap Vian dengan tatapan seakan tak suka dengan apa yang saat ini ia lakukan.


"Jika mereka tau Nata itu adalah Vian, seorang pengusaha yang terkenal tentu banyak orang yang ingin mendekati Mu" ucap Clara.


"Dan aku tidak suka seperti itu, lagi-lagi harus bersaing dan pergi lagi" sambungnya dengan tangan yang memutarkan gelas di atas meja.


"Clara...." panggil seseorang yang saat ini ada di belakang Clara dengan senyuman yang tiada henti.


Sedangkan Clara yang mendengarkan suara itu seketika menoleh dan betapa terkejutnya dirinya saat menatap seseorang yang saat ini tersenyum melihat kearahnya.