
Berbeda dengan Vian dan juga Clara yang saat ini sama-sama tertidur kini terlihat laki-laki yang saat ini terlihat mengomel di balik telponnya dengan tatapan wajah yang telihat menahan amarah apa lagi saat mengetahui seseorang yang ia sayangi menderita sakit sedangkan dirinya tak berada di samping wanita yang selama ini ia jaga.
"Ah kalian tidak becus menjaganya, bagaimana bisa dia bisa sakit sedangkan aku saat ini tidak bisa pergi melihat putri ku!" ucap Albert yang saat ini sedang berbicara di balik panggilan telpon.
"Maaf tuan, Nyonya"ucap seseorang dari ponselnya.
"Carilah di mana putri ku di rawat saat ini!" ucap Albert yang terlihat menahan amarah dengan tangan yang terlihat mengepal.
"Bagaimana ?" ucap Eka yang kini menatap sang suami.
"Belum di ketahui di mana putri kita di rawat saat ini" jawab Albert yang mengambil sebungkus rokok yang berada di saku celananya.
sedangkan Eka yang melihat sang suami pun hanya menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan Albert. Berbeda dengan Albert dan juga Eka kini terlihat Clara yang mengerjabkan matanya menatap sekeliling ruangan yang nampak asing dari pandangan.
Ia merasakan berat di tangannya dengan pelan ia tarik dengan pelan.
"Eught!" ucap Vian yang kini mendongakkan kepalanya melihat Clara yang saat ini melihatnya.
"Ra ...,"panggil Vian yang kini memperhatikan Clara yang telah bangun.
"Om ...." panggil Clara yang tersenyum melihat Vian.
"Apa ada yang sakit lagi?"tanya Vian yang kini memperhatikan Clara.
"Emm gak kok Om, Ara baik-baik saja" jawab Clara yang tersenyum memperhatikan wajah Vian yang terlihat lebih tampan.
"Yakin?"tanya Vian yang menatap Clara dengan mendekatkan wajahnya menatap Clara.
"Iii, iiyaa om" Jawab Clara yang terlihat gugub karna Vian yang menggodanya.
"Awwwww, sakit Om!" teriak Clara ya g merasakan sentilan di keningnya.
"Dasar keras kepala! sudsh dikatakan sedikit saja sambalnya masih saja ngeyel dan akhirnya seperti ini kan" ucap Vian yang menatap ke arah Clara.
"Aku kira mendekatkan wajah ingin menci...um ternyata malah kening kena sentilan"gumam Clara yang mengusap keningnya.
Sedangkan Vian yang mendengarkan ucapan Clara pun hanya menggelengkan kepalanya bagaimana tidak di saat seperti ini pun gadis yang saat ini di depannya berfikir yang aneh-aneh.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh Clara! tapi berpikirlah bagaimana cara menghadapi Papi kamu saat ini" ucap Vian yang kini mengetahui jika Papi dari Clara pasti akan mengamuk mengetahui putrinya terbaring di rumah sakit.
"Papi tidak akan kesini Om, Papi dan juga Mami sedang berlibur berdua" ucap Clara yang menyibakkan anak rambutnya di samping.
"Terserah kau saja, yang pasti hubungan kita akan di persulit dengan Albert dan juga Rafa" batin Vian yang kini mengusap wajahnya dengan kasar.
keposesif an Albert terhadap putrinya membuat Vian seakan teruji oleh perasaannya, saat cinta datang saat itu juga ada halangan yang harus di lewati. penyesalan datang saat adanya benih-benih cinta datang saat itu juga banyak yang tak menginginkan hubungan mereka termasuk Albert orang tua Clara yang tak memberi restu untuk hubungan mereka.
Apa lagi dengan Rafa, kakak tiri dari Clara terlihat begitu menyayangi Clara.
akan tetapi Clara yang dahulu dan juga yang sekarang sangat berbeda, gadis cantik yang saat ini terlihat dewasa dalam berpikir dan lebih elegan.
...Terkadang kita harus lebih ke utamakan Attitude Manner .......
...Hargai mereka yang menurut anda lebih kecil, lembutkan kata mu dan jangan pernah mengganggap bahwa dirimu sudah lebih tinggi derajatnya karna jabatan atau kekayaan yang di miliki tak kan selamanya, karna roda tak selamanya berputar di jalan yang selalu Mulus .......
^^^sny^^^