Look At Me, Uncle

Look At Me, Uncle
LMU



"Cla ...." panggil sang Mami di balik pintu kamarnya.


"Iya, Mi" jawab Clara didalam kamar.


"Mami pikir anak gadis mami belum bangun," ucap Eka.


"Cepatan turun lalu kita sarapan bersama, papi sama kakak sudah ada dibawah. Mereka nunggu kamu nak" sambung Eka yang kini melangkahkan kakinya menuruni tangga.


"Iya, mii ...." jawab Clara yang kini terlihat menyiapkan semua yang akan ia bawa.


Tak menunggu lama, Clara pun ikut menyusul Eka yang saat ini sedang menyiapkan sarapan untuk sang Papi.


"Pagi Mi, Pi " ucap Clara yang kini mencium pipi Eka, begitu pun selanjutnya mencium pipi Albert yang saat ini sedang memegang roti.


"Pagi, adek sayang!" ucap Rafa yang kini menatap Clara yang kini tersenyum melihat sang kakak.


"Ahh ..., pagi juga kakak sayang" ucap Clara dengan berjalan hendak mencium pipi Rafa, sang kakak.


"Don't kiss me, Clara!"ucap Rafa yang menahan kepala Clara.


"Haiss, yang ingin cium kakak siapa? aku hanya ingin mengecek memastikan kening kakak,hangat atau dingin, "ucap Clara yang kini melangkahkan kakinya mundur.


"Tapi, ternyata dingin. Ga ada masalah ternyata" sambung Clara yang kini tersenyum melihat sang kakak.


"Makanlah sayang, setelah ini nanti kakak yang antar ya Nak" ucap Eka dengan tangan yang memberikan piring berisikan roti di hadapan Clara.


"Terimakasih Mami," ucap Clara yang mengambil piring yang di berikan oleh sang Mami.


Tak ada suara saat mereka menikmati sarapan, hanya ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring milik Eka dan juga Rafa, begitu juga dengan Clara dan juga sang Papi walaupun hanya makan roti tapi mereka sama sekali tak bersuara. Hingga makanan yang mereka nikmati pun selesai, baru ada suara Clara yang berpamitan dengan sang Papi dan juga Mami yang saat ini sedang bercerita.


"Mami ...,"panggil Clara yang saat ini sedang bercerita serius dengan sang Papi.


"Ya, sayang " jawab Eka yang kini melihat Clara.


"Kakak kemana?" tanya Eka yang kini menatap sang putri.


"Ada, tapi kakak ga mau " jawab Clara.


"Ayo lah Mam, aku sebentar lagi mau ke kampus ada seminar yang harus ada akunya ...." jawab Rafa yang kini mencium punggung tangan Eka dan tak lama di susulnya sang Papi.


"Baiklah silahkan pergi kak, jangan lupa membawa mantu ya!" ucap Albert yang kini tersenyum melihat wajah cemberut sang Istri.


"Boleh, Pi? baik lah akan ku bawa mantu untuk kalian yang baik cantik serta seksi ....," Ucap Rafa yang tersenyum melihat kedua orang tuanya.


"Pergi dulu Pi, Mi" sambung Rafa yang kini mencium punggung tangan Eka dan juga Albert.


"Hati-hati,Nak!" ucap Eka yang kini membereskan meja makan.


"Ayo lah mi, Rafa sudah dewasa.,dan ia cukup mengenal semuanya. Ia juga bisa membedakan mana yang baik dan juga buruk" ucap Albert yang kini tersenyum menatap sang istri.


"Iya, tapi qku takut jika dia mengikuti jejak mu!" ucap Eka dengan tatapan horor melihat ke arah Albert.


"Oh, astaga" ucap Albert yang kini menepuk keningnya tak percaya melihat sang istri yang takut dengan apa yang akan Rafa lakukan.


"Anak itu lebih mengikuti kata-kata mu dan bukan aku ..., Papi nya sendiri" sambungnya yang kini melihat sang istri yang nampak tak bersahabat.


Sedangkan gadis remaja yang ada di belakangnya nampak duduk bersantai melihat kedua orang tuanya yang masih berdebat, ia seakan menonton adegan perdebatan dan wajahnya hanya menatap bergantian antara sang Mami dan juga Papi yang masih belum kelar berbicara.


Clara melirik jarum jam yang ada di tangannya dan saat bersamaan terdengar suara klakson mobil yang ada di halaman rumahnya.


"Lanjutkan saja pembicaraan kalian, Cla pamit pergi sekolah dulu" ucap Clara yang kini mencium punggung tangan Albert dan juga Eka.


"Iya sayang, pergi lah hati-hati ya" ucap Albert dan juga Eka bersamaan.