
"Papi tidak akan kesini Om, Papi dan juga Mami sedang berlibur berdua" ucap Clara yang menyibakkan anak rambutnya di samping.
"Terserah kau saja, yang pasti hubungan kita akan di persulit dengan Albert dan juga Rafa" batin Vian yang kini mengusap wajahnya dengan kasar.
Bugh!
Albert datang dengan memberikan bogeman mentah di pipi Vian. Sedangkan Vian yang tidak mengetahui adanya Albert langsung terhuyung kedepan dan terjatuh di lantai, ia merasakan kebas di pipinya akibat Albert yang melayangkan tinju di pipi. tanpa di sadari darah pun keluar di sudut bibir Vian, sedangkan Clara yang menatap Vian di pukul sang Papi pun seketika berteriak menghentikan pukulan sang Papi yang sudah emosi.
"Papi hentikan, Om Vian tidak bersalah yang salah Clara karna tak menuruti perkataan Om Vian."ucap Clara yang kini telah ada di samping Albert, sang Papi.
"Yang pasti dia tidak becus menjaga kamu sayang, dan Papi tidak akan percaya dengan orang yang seperti laki-laki yang tidak memegang janji!" ucap Albert yang menatap tajam ke arah Vian.
"Sabar Pi" Ucap Eka yang kini menyentuh pundak sang suami, Albert.
"Vian lebih baik kamu pulang dulu istirahat, saya lihat kamu kurang istirahat akhir-akhir ini" ucap Eka yang kini mengalihkan pandangannya melihat ke arah Vian yang kini sedang mengusap bibirnya dengan jarinya.
"Terimakasih, kalau begitu saya permisi" ucap Vian yang kini tersenyum melihat Eka lalu mengalihkan pandangannya ke arah Clara, kakinya melangkah mendekat ke arah Clara akan tetapi langkahnya terhenti saat Albert yang berada di samping Clara.
"Aku pulang dulu, kamu cepat sembuh ya" ucap Vian yang kini mengusap lembut puncak kepala Clara.
Clara yang melihat Vian pun seketika merasa bersalah, dan tak lama kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati Om!" ucap Clara yang kini hanya menatap punggung Vian yang tak terlihat.
"Papi salah paham Pi, ini semua tidak seperti yang Papi pikirkan!" ucap Clara yang kini menatap sang Papi yang terlihat santai menidurkan tubuhnya di ranjang tempat Clara.
"Lumayan juga di sini Ra, Papi kira kamu ada di ruangan kecil dan sempit" ucap Albert yang menatap langit-langit kamar di rumah sakit di mana yang menjadi ruangan sang putri.
"Papi berhentilah untuk mengalihkan pembicaraan saat ini, sungguh Clara ingin menangis saat ini" ucap Clara yang kini terlihat dengan mata yang mengembun.
"Papi semua ini tidak lah lucu, lihat lah putri ku menangis karna ulahmu yang membuat bibir Om nya berdarah" Ucap Eka yang kini menatap sang suami yang terlihat konyol.
"Hais dasar dia saja yang lemah Mi, sudah lah Clara tak perlu menangis atau mencari dia lagi. Banyak lelaki yang lebih macco di banding kan Om Mu itu" ucap Albert yang kini menatap sang putri.
"Macco kalau takut sama istri juga percuma Pi" ucap Clara yang kini menatap sang Papi yang mulai terlihat menahan kesalnya melihat sang putri yang selalu saja mengejek menyatakan secara tidak langsung jika dirinya takut pada Eka, sang istri.
"Bagus dong itu, jadi kalau sama orang tegas macco tapi sama istri dan anak lembut" ucap Eka yang kini tersenyum melihat Clara.
"Iya dong, makanya Papi begini jadi idaman para wanita "Jawab Albert yang terlihat menutup mulutnya dengan cepat.
"Siapa yang jadiin kamu idaman?" tanya Eka yang kini menatap Albert dengan tatapan yang sulit di ungkapkan.
Clara yang lagi-lagi pusing di buat tingkah kedua orang tuanya yang sangat membuatnya pusing. Clara pun terdiam dengan merebahkan tubuhnya di atas sofa dan membiarkan kedua orang tuanya yang mulai berseteru.
...Terkadang kepercayaan yang di berikan sering kali di sia-siakan, akan tetapi saat telah kehilangan akan ada rasa penyesalaan yang mendalam sehingga membuat rasa sedih itu datang.......
...sny......