Look At Me, Uncle

Look At Me, Uncle
LMU



"Clara?" panggil Vian yang kini melangkahkan kakinya menatap layar ponsel.


"Ada apa kak?"tanya Viona yang kini menatap sang kakak.


"Tidak" ucap Vian yang kini melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kanaya, sang Putri.


"Ya sudah kalau begitu, udah dulu ya Vi. Aku mau beresin semuanya dulu" ucap Clara dengan mengarahkan ponselnya ke arah ranjang tidurnya yang masih ada pakaiannya yang belum ia rapikan di dalam lemari.


Viona pun menganggukkan kepalanya tersenyum melihat Clara.


"Makan dulu setelah itu baru rapikan semuanya Ra" ucap Viona memperingati Clara.


"Iya pasti, udah pesan makan juga sambil nunggu makanan sampai aku mau beresin dulu" jawab Clara dengan tersenyum menatap Viona.


"Baguslah, ya udah fokus aja dulu rapikan semuanya. Nanti makan jangan telat dan jangan lupa selalu hubungi aku ya Ra" ucap Viona yang kini menatap wajah sahabatnya yang terlihat sedih.


"Udah canggih Ra, kita bisa telponan tiap hari" sambung Viona.


"Hmm ..., baiklah jaga diri baik-baik dan aku titip putri ku, Kanaya." ucap Clara yang kini tersenyum melihat Viona.


"Kanaya akan baik-baik saja Ra, yang harus jaga diri itu kamu bukan kami" ucap Viona yang kini tersenyum melihat Clara.


"Sama saja Vi, jujur aku gak bisa pisah dari Kanaya. Tapi aku juga tak ingin sakit lebih jauh lagi jadi mau aku stop saja, agar tak ada kata sakit yang semakin dalam. " ucap Clara yang kini tersenyum melihat Viona.


"Itu pasti Vi, aku akan selalu menghubungi mu kapan pun dan dimana pun aku mau" ucap Clara yang kini tertawa menatap Viona.


"Dan aku menunggumu" ucap Viona yang tertawa melihat Clara.


"Jaga diri baik-baik Ra" sambung Viona yang kini trsenyum menatap sahabatnya.


"Pasti, kalau begitu aku tutup telponnya ya, Assalammualaikum Vi" jawab Clara dengan tersenyum.


"Waalaikumsalam warohmatullah wabarokatu, dah" ucap Vionq dengan tangan yang melambaikan dan tak lama kemudian panggilan pun terputus.


Viona melihat ke belakang, dan melihat sang kakak yang saat ini sedang mengusap puncak kepala Kanaya.


"Ada apa ?" tanya Vian yang kini menatap sang adik, Viona yang kini sedang menatapnya.


"Tidak ada. Aku mau ke kamar kak, udah gerah" ucap Viona yang kini melangkahkan kakinya ke arah pintu meninggalkan Vian yang kini sedang mengusap puncak kepala Kanaya.


"Hm ...." ucap Vian merespon yang hanya berdehem.


Viona pun menutup pintu kamar Kanaya dengan pelan, dan Viona melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Berbeda dengan Viona yang saat ini ingin menyegarkan tubuhnya saat ini terlihat Vian yang melamun memikirkan akan nasibnya dan juga sang putri,Kanaya. Ia seakan merasakan kehilangan sesuatu yang ada di dalam jiwanya, benar akan pepatah jika seseorang telah pergi maka akan terasa jika ia sangat berharga. Kehadiran seseorang membuat kita terbiasa akan tetapi semuanya seakan tak berarti jika telah terjadi. Perasaan akan datang dengan sendirinya jika telah saling mengenal dan terbiasa melihat.


Perasaan nyaman bahagia akan datang jika hati melihat seseorang yang selalu datang memenuhi hari-hari, dan ketiadaannya membuat linglung seakan tak berarti membuat semuanya seakan hilang. Akan tetapi kesadaran selalu datang dengan akhir hingga membuat luka dan juga penyesalan.