I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 9



Dilihat dari kejauhan, aku melihat polisi itu sudah datang. Dan seperti biasa siswi-siswi disini terpikat oleh ketampanannya. Aku berjalan pelan kearahnya, rasanya kearahnya sekali memarahinya. Bukan karena cemburu, tapi karena membiarkan Riko melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup cepat.


Selarang posisiku sudah ada didepannya, melipat tangan kedada dan melihatnya tajam nan kesal. Azryan tersenyum lalu menaiki motornya dan tak lupa dengan helmnya. Karena merasa tak direspon oleh Azryan Siswi-siswi ini pun menyingkir dari motornya Azryan. Aku naik dan memilih diam, agar dia sadar.


Saat kami sampai rumahku, aku turun dari motornya. Langkahku terhenti ketika Azryan berkata "Itukan mobil papa" Deg, hatiku rasanya ingin menangis. Akankah om Bram datang dan menagih janjinya pada papaku.


Aku mengambil helmnya lagi dari tangan Azryan, yang telah kuberikan padanya. Aku memakainya dan menaiki motornya kembali. Lalu aku menyuhnya untuk melajukan motornya. Rasanya aku malas untuk pulang dan mendengar perbincangan mereka yang menurutku tidak masuk akal untuk diperbicarakan.


"Kita mau kemana?", "Terserah kak Azryan saja, yang penting tidak kerumahku" Lalu Azryan mengajakku jalan-jalan. Lalu aku memberitahu ngechat kakakku kalo aku nanti pulangnya terlambat.


...Via chat, Whatsapp...


"Kak, nanti aku pulangnya terlambat. Aku diajak kak Azryan jalan-jalan"


"Tapi dirumah ada om Bram, sebaiknya kamu pulang. Bantuin mama masak, siapa tau mama butuh bantuan kamu"


"Kakak aja yang bantuin mama, nanti Fyo belikan kakak kebab kesukaan kakak"


"Eeeem, boleh. Tapi kamu belikan kakak tiga porsi dan jangan lupa sama minumanya, kakak mau es coklat kepal milonya dua. Dan juga jangan lupa sama cemilannya ya?Apa aja yang penting dari singkong. Trus sama minuman gingseng merah seperti biasa, belikan kakak lima botol, udah itu aja"


"Serius abis dong kak uangku, baru aja dapat uang gratis dari kak Azryan"


"Mau dibantuin nggak? Kalau nggak yaudah"


"Iyah-Iyah"


...----------------...


Sekarang kami ada ditaman, dan Azryan tengah sibuk memainkan ponselnya. Dan aku entahlah, rasanya aku ingin pulang. Tapi dirumah masih ada om Bram kata kakak. Aku mematahkan ranting yang sebelumnya aku buat untuk menggambar-nggambar dipasir.


Aku melihat Azryan yang masih fokus bermain dengan ponselmya, rasanya aku gengsi buat tanya keAzryan. Aku menarik ponselnya, lalu dia menatapku tajam. Oh sungguh menakutkan, apa aku kembalikan aja ya?.


"Nieh, nggak usah natap gitu juga kali" Ucapku sambil menyodorkan ponselnya, "Kak" Dia diam, lalu aku mengambil ponselnya kembali. "Kamuuuu" Ucapnya marah, "Apa hemm? Mau marah. Ayo silakan", "Apa maumu", "Aku mau kamu menjawab setiap pertanyaanku" Lalu dia kembali diam.


"Eh, aku cuma tanya mau nolak apa nggak ya. Bukan malah mengoreksiku. Emangnya aku mau apa dinikahin sama kakak,dari 0 sampai 100. Kakak sama sekali tidak termasuk dalam kategori calon suamiku" Ucapku kesal campur senang. Itu artinya Azryan akan menolak pernikahan ini. Jadi, mau aku nerimapun, pernikahan itu nggak akan terjadi. Azryan kan orangnya pemarah, pasti nanti orang tuanya bakal didiemin tuh sama anaknya sendiri.


"Nieh ponselmu, simpan jauh-jauh. Ayo pulang" Ucapku lalu beranjak pergi meninggalkan Azryan yang masih kesala kepadaku.


Dijalan, "Kak, nanti kita mampir ke mini market ya?" Mungkin Azryan masih kesal padaku, dia bahkan masih tidak menjawab ucapanku. Hmmm apa jadinya, kalau kita nikah, pasti aku auto mundur sebelum malam pertama.


"Loh, itukan Yaya. Kenapa dia diapotik?" Ucapku saat melihat Dea keluar dari apotik, lalu menaikki angkot.


Setelah kami sampai dimini market, aku membeli cemilan dan minuman sesuai pesenan kakakku. "Kak, kak Azryan mau beli apa biar aku yang teraktir?" Tawarku ke Azryan sejak dari tadi mengikutiku dari belakang.


"Serius?" Tanyanya Azryan memastikan. Kenapa dia bertanya seperti itu? Hhaaaaah apa jangan-janga dia mau balas dendam. "Gimana?" Tanyanya lagi, lalu aku menggeleng-nggelengkan kepalaku cepat. "Eeeem, beli minuman satu aja ya? Terserah kakak mau beli minuman apa" Ucapku cengengesan karena aku takut dia mau balas dendam kepadaku. Lalu Azryan mengambil dua minuman dan dimasukkan kedalam keranjang yang aku suruh bawa sejak tadi. Huh, kan aku nyuruhnya beli satu, yaudah deh nggak papa. Lagian uangnya juga aku dapatkan dari dia.


Ditempat karsir, Baru aja aku mau ngambil uang didompetku. Tapi Azryan udah main nyodorin atmnya aja ke mbak itu. Kenapa dia menautkan alisnya? Apa dia nggak ikhlas bayarin ini semua? Lalu pandanganku mengarah tangan Azryan yang tengah menarik atmnya dari mbak itu, tapi mbak itu malah menahannya, seakan terhipnotis oleh ketampanan Azryan. Rasanya aku ingin sekali tertawa keras didepan mereka.


Azryan menatapku tajam karena melihatku menertawainya, lalu Azryan memberikan kode-kode padaku untuk membantunya. Ide jahilku mulai muncul dibenakku. Aku memberikan isyarat kepadanya, kalau aku tidak mau membantunya dan mau meninggalkannya pergi. Lalu mata Azryan menatap mbak itu dengan tajam seakan mau memarahinya. Lalu aku memegang tangannya dan berkata.


"Mbak, mbaaak" Panggilku tapi masih tak digubris, sehingga membuatku jadi kesal, "Mbak lepassin tangan pacar saya" Ucapku ngasal, sehingga membuat Azryan terpaku dengan ucapanku. Sedangkan mbaknya menahan malu kkaren ucapanku.


Lalu kami pergi keluar, aku menyuruh Azryan untuk duduk dikursi depan mini market. Sambil menunggu aku beli kebab kesukaan kakak yang biasa kakak beli didepan mini market. Yaaah, didepan mini market ini ada juga pedagang kaki lima yang berjualan kebab dan es coklat kepal milo dan juga penjual babaksodan mereka adalah langganan kakakku.


Setelah memesan sesuai pesanan kakakku aku kembali menemui Azryan yang tengah minum minumannya, "Kak", "Hem?", "Seandainya, kita benar-benar dinikahkan sama orang tua kit" Ucapku terpotong, "Apa satu jawaban saja tidak cukup" Ucapnya dingin dan membuatku cengengesan nggak jelas.


Hening, rasanya aku malas untuk mengajaknya berbicara. Tanyaku ppankug lebar, dianya cuma jawab hem, apa?, o. Sesingkat itukah ucapnya, atau jangan-jangan pita suaranya cuma punya separuh nyawa. Hooooh, ya ampun pantesan dia jawabnya setengah-setengah, orang pita suaranya punya separuhnya. Pasti setiap harinya, ia rajin-rajin menghemat pita suaranya.


"Emmm kak, maaffin aku ya. Mungkin aku terlalu banyak tanya, tapi sebenarnya aku nggak sengaja kok, buat nyuruh kak Azryan habissin nyawa pita suara kakak, beneran" Ucapku penuh percaya diri, sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah. Sedangkan Azryan malah menatpku tajam dan meremas minuman kalengnya. Sehingga membuatku takut dan langsung mengalihkan pandanganku. Oh ya tuhaaan, apa dia benar-benar marah sekarang.


Follow ig : fiy.ool


Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.