
"Emmm Nino kaamu makan punyaku aja" Lalu semuanya kembali tenang. "Nino, Dea entar malem kalian main kerumahku dooong pleeeeease", "Emmm gimana ya, aku sih mau-mau aja tapiii nggak ada yang nganter. Kamukan tau sendiri aku nggak bisa bawa motor", "Sama Nino aja, gimana? Nino, kamu maukan anterin Yaya kerumahku" Nino agak sedikit melirik kearah Riko, lalu aku memberikan kode-kode agar Nino mau menerimannya.
"Eeee i iyah" Ucap Nino ragu-ragu karena takut membuat sahabatnya tersinggung. Brak, Riko meninggalkan kami. Ini belum seberapa Riko, aku akan benar-benar membuatmu mengakui kesalahanmu dan juga bertanggung jawab atas kesalahnmu.
Setelah kami selesai makan, kami kembali kekelas kami masing-masing. Seperti biasa aku dan Dea langsung membuka buku dan mempelajari materi yang akan diterangkan guru kami nanti.
"Woy woy, dikelas sebelah, dikelas sebelah ada yang berantem woy" Ucap salah satu teman cowok kami yang tiba-tiba datang dengan nafas yang ngos-ngosan. "Siapa?" Tanyaku, "I itu pacarnya Dea, sama itu, sama murid terbaik disekolah kita. Siapa itu namanya?" Aku dan Dea saling menatap, lalu lari kekelas sebelah.
"He he hey, kalian tuh apa-apaan sih. Kayak anak kecil tau nggak!" Ucapku ketika berhasil memisah mereka. Tiba-tiba Riko menarik tangan Dea dan membawanya pergi keluar, aku dan semua murid dikelas berlari mengikuti mereka berdua.
Sialnya, Riko membawa lari Dea dengan menaiki motornya. Karena aku tidak bawa motorku, aku menyuruh Nino mengejar Riko bersamaku. Aku sangat khawatir, aku takut akan terjadi apa-apa dengan Dea dan juga anak yang ada dalam kandungannya. Pikiranku mulai tidak karuan lagi.
Kami terus mengikuti mereka berdua. Dan tak kusangka dijalan ada Azryan yang tengah bertugas, Ketika Riko membawa motornya dengan kecepatan penuh. Azryan menyuruh rekannya untuk mengejar Riko. Pada saat aku melewatinya, Azryan menatapku seakan tak sadar dengan yang dilihatnya, sambil memegang buku dan juga pulpennya. Ketika ia sadar, ia langsung lari menhentikan rekannya dan memberikan buku serta pulpenya kerekannya. Lalu melajukan motornya mengikutiku.
Waduuuuh, gimana ini? Mana Nino bawa motornya kenceng lagi. Aduuuh, gimana iniiii. "Fyo, bukannya ini jalannya mengatah kerumahnya Dea ya?" Ucap Nino memecah lamunanku, "Iyah, kenapa Riko bawa Dea kerumahnya", "Gue juga nggak tau", "Kita ikuti terus aja dia" Nino mengangguk paham, lalu menambah kecepatan motornya.
Dirumah Dea. Aku dan Nino yang baru sampai, langsung masuk kerumah Dea. Didalam sana sudah ada orang tua Dea, yang tengah bingung menatap Riko dan Dea pulang kerumah. Ditambah lagi dengan kedatangan aku dan Nino, "Ada apa ini kenapa kalian pulangnya lebih awal?" Tanya mamanya Dea, hening tidak ada satupun dari kami yang menjawab.
Tak lama kemudian Azryan datang secara tiba-tiba dengan nafas yang ngos-ngossan, membuat mamanya Dea menjadi semakin pamen, hingga beliau mau menangis, "Ini sebenarnya ada apasih, kenapa bisa ada polisi kesini?" Tanya papanya Riko agak sedikit membentak, karena dari tadi kami masih bungkam tak menjawab.
"Om, Riko mau bicara sama om" Ucap Riko memberanikan diri, tapi berbeda dengan Dea. Dea memengang tangan Riko seakan mencegahnya untuk tidak membicarakannya. Lalu Riko melepaskan tangan Dea dari lemgannya pelan penuh kelembutan dibatengi dengan senyumannya, itu mendakan bahwa dia ingin mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab atas kesalahannya.
Mamanya Dea pingsan, aku dan Dea menangis bingung harus berbuat apa. Sedangkan Nino dan Azryan berusaha menghentikan papanya Dea. "Kurang ajar, berani sekali kamu bicara seperti itu tanpa berpikir dulu" Ucap papanya Dea, Riko diam tak menjawab, Riko mengusap air matanya. Lalu berdiri dihadapan papanya Dea yang tengah ditahan oleh Nino dan Azryan.
"Om, apa salahku. Aku hanya ingin mengakui kesalahanku dan mau bertanggung jawab dengan menikahi Dea, om. Kenapa om melakukan ini padaku, aku sangat mencintai Dea om. Aku capek dibuat Dea cemburu, aku sangat cemburu om. Aku tidak mau Dea meninggalkanku, apalagi Dea berdekatan dengan orang lain bahkan itu adalah sahabat aku sendiriiiiii" Ucap Riko dengan tangisannya yang membuat kami merasa iba melihatnya. Ini semua gara-gara aku, Seharusnta aku tidak terus-terusan buat menas manasinya. "Enyahlah kau" Papanya Dea menendang Riko, sehingga membuat kami terkejut.
"Panggil orang tuamu kesini sekarang juga" Bentak papanya Dea pada Riko. Lalu Riko keluar dan menelpon orang tuanya untuk datang kesini. Papanya Dea kini mulai mengeluarkan cairan bening dimatanya.
Mamanya Dea telah sadar dari pingsannya. Dan langsung melayangkan pertanyaan pada Dea, dengan nada kekhawatiran, "Dea, jawab mama dengan jujur. Kalo yang dikatakan Riko tadi itu bohongkan? Kamu tidak hamilkan?" Dea tidak menjawab, Dmemterus saja menangia karena takut mamanya memarahinya, "Jawab Dea" Bentak mamanya sambil menggoyang-nggoyangkan tubuh Dea, Dea mengangguk daaaaan.
Plak, satu tamparan mendarat dipipi Dea. Dan Dea hanya menangis, pasrah dan menerima apapun yang akan terjadi, "Tante tante tante, sabar tante", "Sabar gimana Fyooo, tante sudah bilangin sama diaaa. Jangan pacaran, jangaaan pacaraaaaaaan" Ucap mamanya Dea sambil nunjuk kepalanya Dea penuh penekanan.
Pandangan kami tertuju kearah satu tempat, "Om ini orang tua Riko", "Ceritakan sekarang kemereka" Ucap papanya Dea pasrah, lalu Riko menceritakan semuanya. Bisa dilihat kalo Riko benar-benar serius ingin bertanggung jawab. Bahkan, dia sampai memohon untuk menyetujuinya. Lalu kedua orang tua Riko tanpa basa basi, ia merestuinnya dan kedua orang tua Riko dan Dea sepakat menikahkan mereka sekarang juga.
Aku, Nino kembali kesekolah. Karena disuruh Azryan, dan dia tetap disana untuk berjaga-jaga sekaligus jadi saksi pernikahan Dea dan Riko. Padahal, aku ingin sekali liat sahabatku menikah. Tapi aneh, baru kali ini dia membiarkanku berboncengan dengan Nino. Ternyata aku salah menilainya, aku kira dia hanya memikirkanku saja dan tidak peduli dengan urusan yang lain. Pasalnya dia selalu membuntutiku kemanapun aku pergi, bahkan ketika bersama keempat sahabatku, Azryan rela meninggalkan pekerjaannya. Bodohnya aku, emangnya aku siapanya dia.
Sekarang aku dan Nino sudah ada dikelas kami masing-masing. Tapi sebelum itu kami pergi kekantor sekolah untuk mengizinkan Dea dan Riko keguru Bk. Dengan alasan, Dea sedang ada acara keluarga. Sedangkan Riko diundang orang tuanya Dea, karena dia pacarnya.
Follow ig : fiy.ool
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.