
Aku kembali duduk, "Gini ak akuuu." Ucap Nino yang tak diteruskan. Dilihat dari wajahnya, dia seakan malu untuk berbicara. "Nino." Panggilku, "Aku mau mengajak kamu jalan, jalan. Gimana, kamu mau nggak?" Ajak Nino dengan bicara kayak orang habis ngelihat hantu, mungkin karena tadi aku mengagetkannya.
"Oooo gitu, bilang dong dari tadi. Yaudah kalo gitu aku ganti baju dulu ya." Lalu aku beranjak dari sofa dan mau pergi menuju kamar untuk mengganti bajuku. Tapi sebelum itu Nino menghentikanku dengan bertanya seakan tak percaya dengan ucapanku. "Beneran?" Tanyanya membuatku bingung, "I iyah, kan tadi kamu ngajak jalan-jalan." Jawabku, karena aku takut dia ngajaknya nanti malam atau kapan gitu.
"Yess." Seru Nino dengan gembira. "Emangnya kita jalan-jalannya kapan?" Tanyaku, memastikan agar aku tidak salah paham dengannya. "Sekarang, i iyah sekarang." Jawabnya spontan.
Aku naik keatas dan mengganti bajuku, setelah mengganti bajuku. Aku dan Nino pergi jalan-jalan. Tapi sebelum itu, aku ngasih tau kakak kalau aku mau jalan-jalan sama temanku. Lumayan buat refreshing, biar nggak jadi kutu buku dikamar.
Sekarang kami sudah ada di jalan, menikmati hembusan angin yang menerpa tubuh kami. "Fyo kamu mau kita kemana?" Tanyanya, "Terserah kamu, aku ngikut aja." Seruku, karena yang penting aku bisa keluar rumah. Diseberang jalan aku melihat ada polisi yang tengah melakukan operasi dijalan.
Waduh gimana ini, kalo sampai ada Azryan disana, bisa pulang dengan jalan kaki ini kalo Nino nggak bawa STNK sama SIMnya. Tapi yang paling aku takutin adalah kalo Azryan liat aku jalan- jalan sama Nino. Bisa-bisa dia ikuttin kemana kita pergi. Sama seperti terakhir kali yang ngejar Riko sama Dea waktu itu.
Lo lo loh, kok ditepiin sih. Nino itu gimana siiiiiih. Semoga aja nanti Nino nggak ngajak aku bicara, yang ada nanti aku bakal ketahuan sama Azryan. Ya tuhan, bantulah hambamu untuk saat ini, karena hamba ingin pergi jalan-jalan.
Lalu aku menutupi wajahku dengan kupluk hodhie yang aku pakai. Saat polisi itu menanyai Nino. Dari suara yang aku dengar, kalo yang menanyai Nino saat ini adalah Azryan. "Kamukan temannya adik sahabat saya bukan? Kalian mau kemana?" Tanya Azryan pada Nino, lalu aku menarik-narik ujung hodhie Nino. Berharap agar Nino tidak memberitahunya, karena aku tau dia itu licik sangat licik. "Kenapa emangnya? Mau tau aja urusan orang lain. Oh ya dan satu lagi, jangan belaga sok akrab dengan gua. Karena gua nggak mau berteman sama lo. Lagian gua juga nggak tau tuh, siapa sahabat lo yang lo maksud."
Gini ni, kalo kucing sama tikus bertemu. Sama-sama judes, lagian apa sih yang mereka perebutkan? Sampai dimana-mana harus bertengkar mulu. Kayak nggak ada yang lain gitu yang mereka perebutkan.
...------------------...
"Nin, akukan nggak bawa pakaian ganti." Ucapku saat kami sampai diwisata air, "Nggak papa nanti kita beli aja didalam. Tenang, aku yang bayarin kok." Aku bernafas lega saat mendengar kata terakhir Nino. "Yaudah hayuk kita masuk." Seruku sambil melingkarkan lenganku di lengan Nino. Sehingga membuat Nino diam tak berjalan, "Maaf-maaf, aku terlalu kebawa perasaan soalnya." Ucapku sambil melepaskan tanganku darinya, "Je jangan." Ucapan Nino membuatku kaget, sekaligus terkejut. Karena Nino mengembalikan posisi lenganku ke lengannya seperti semula.
Setelah membayar pakaian kami, kami masuk kedalam untuk renang. Tapi sebelum itu kami duduk ditempat duduk untuk menghilangkan rasa capek kami. "Fyo?" Panggil Nino, "Iyah." Seruku sambil mendongak kearahnya, karena Nino lebih tinggi dariku. "Nggak jadi deh, nanti aja dikolam." Lagi-lagi Nino bertingkah aneh, sehingga membuatku bingung.
Lalu Nino masuk kedalam kolam, mendahuluiku. Sehingga membuatku kesal dan ikut menghampiri Nino. Byuuur, rasanya sejuk sekali. Seakan-akan air ini mampu membuatku menghilangkan rasa stres yang aku rasakan. Aku naikkan kepalaku keatas yang awalnya ada didalam air. Pandanganku langsung mengarah ke arah Nino yang tengah mengibas-ngibaskan rambutnya, karena terkena cipratan air dari hasil ulahku tadi. Dan membuatku jadi tertawa kesenengan. Pasalnya, kalo diliat-liat Nino makin ganteng kalo rambutnya basah, apalagi dia tidak memakai kacamatanya. Tapi dia itu aneh, padahal dia tidak punya masalah pada pengelihatannya. Tapi kenapa dia suka pakek kacamatanya? Aku mengalihkan pandanganku kearah lain, Lalu aku menghampiri Nino yang tengah bersandar ditepi kolam.
"Nino", "Apa?", "Coba deh lo liat cowok-cowok disana!" Lalu Nino mengikuti perkataanku, "Terus," Ujar Nino membuatku tepuk jidat. "Masak lo nggak gengsi sama mereka", "Kenapa gue jelek ya? Maafin aku ya, kalo itu bikin kamu malu." Ucap Nino sambil menunduk, lalu aku mendongakan wajahnya dan memegang kedua pundak Nino. Sehingga membuat matanya langsung mengarah kearah tanganku, "Bukaaaan, Bukan gitu maksud gue. Coba deh lo liat mereka semua baik-baik. Mereka kalo renang bajunya dicopot, apa lo nggak malu sama mereka" Ucapku sambil menarik tali hodhienya.
"Apa jangan-jangan lo malu ya sama mereka. Karena perut lo itu buncit gitu hahahahaha" Ucapku lagi sambil ketawa. Tiba-tiba Nino membuka hodhienya sampai setengah badannya. Sehingga membuat mataku tergoda ingin menyentuh perutnya yang kotak-kotak itu. Aku langsung mengurungkan niatku dan langsung menurunkan hodhie Nino.
"Ap apa kau sudah gila?" Tanyaku, tiba-tiba ingin memarahinya, "Kenapa", "Ke kau" Aku menghentikan ucapanku. Masa aku bilang kedia kalau aku tergoda dengan belahan kotak-kotak diperutnya. "Nggak jadi, lain kali jangan buka baju kamu didepan cewek-cewek!", "Kenapa?", "Y ya pokoknya jangan." Lalu Nino tersenyum seakan mengerti maksudku, "Kenapa kamu senyam-senyum" Tanyaku kesal, "Nggakpapa, pengen aja" Lalu aku meninggalkannya renang ketempat lain dari pada aku harus menahan malu didepannya.
Beberapa menit kemudian, Nino menghampiriku tepat didepanku. Saat aku tengah renang, sehingga membuatku kaget dan kesal. Karena aku merasa terganggu dengan menghalangi jalanku. "Nino, kenapa lagi siiiih?" Lalu tangan Nino menunjuk kearah perosotan yang tinggi ditempat kolam dewasa. "Apa? gue nggak mau", "Ayolah Fyo, kali iniiii aja" Ucapnya memohon, "Tapi aku takut, Ninoooo", "Nggakpapa, kan ada aku yang temenin", "Nggak mau." Lalu aku kembali berenang.
Tiba-tiba tanganku ditarik oleh Nino dan dia menyeretku ketepi kolam, "Ninoooo, aku takuuuuut. Lepasin lepasin lepasiiiiiin." Nino tak menghiraukanku dan masih menyeretku naik ketangga perosotan, "Haaaaaa, gue nggak mau, gue takut", "Nggakpapa Fyooooo, kamu harus belajar melawan rasa takut kamu" Seru Nino membuatku mengingat perkataan kak Randy.
Follow ig : fiy.ool
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah. Dan saya berharap kalian bisa memberikan vote untuk cerita ini.