
Setelah mereka menyantap makanan mereka, kedua orang tua merasa ada yang aneh dengan makanan yang ada didepan. Dan mereka juga merasa kedua orang yang ada didepannya ini tengah meminta maaf dan terjadilah sesuatu. Kedua orang tua Fyo pingsan dan mereka yang ada didepannya langsung memberitahu seseorang dibalik ponselnya. Mereka mencari bantuan untuk membawa kedua orang tua Fyo kedalam mobil. Agar tidak menaruh curiga semua orang diluar, kedua orang tua Fyo dibawa dengan menggunakan kursi roda dibantu dengan seorang suster yang baru saja menjenguk Fyo. Setelah selesai membantunya, mereka memberikan uang pada suster itu untuk tutup mulut. Dia mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Diluar Kedua orang tua Azryan tampak semangat memasukkan mereka (Kedua orang tua Fyo) satu persatu kedalam mobil bagian kursi belakang, lalu ikut masuk juga dan langsung mengendarai mobil itu menuju jalan raya. Sedangkan Fyo ditinggalkan sendirian disana, tapi sebelum itu mereka sudah menelpon pembantu mereka untuk datang kerumah sakit menjaga Fyo disana.
...----------------...
Di malam hari, Fyo terbangun dari tidurnya. Kali ini ia merasa lebih mendingan dari pada tadi pagi. Tapi anehnya, disekelilingnya ia tidak melihat orang tuanya dan orang tua Azryan.
Ketika pintu itu dibuka, ia melihat dua wanita asing masuk kedalam ruangannya. Mereka berjalan sambil tersenyum kearah Fyo, Fyo pun membalasnya. Tapi ia masih tidak mengenali siapa orang yang sedang menyapanya itu?
Kedua wanita tersebut memperkenalkan dirinya pada Fyo, mereka adalah pembatu yang orang tua Azryan kirimkan buat menjaganya. Lalu Fyo mempersilahkan mereka duduk disofa yang tak jauh dari ranjangnya. Setelah melihat mereka duduk, mata Fyo terfokus pada pintu rumah sakit tersebut. Berharap mama sama papanya datang dan melihat keadaannya, karena tadi pagi tidak sempat berbicara waktu kejadian tadi pagi.
Kedua pembantu itu merasa bingung saat melihat orang yang duduk diatas ranjangnya itu (Fyo) menatap fokus pintu rumah sakit yang sedari tadi tertutup. Salah satu pembantu tersebut yang bernama Bik Sri (Nama pembantu orang tua Azryan) mendekati Fyo dan mulai bertanya, kenapa ia (Fyo) menatap lama pintu tersebut?
"Non, kenapa Enon liat pintu itu? Apa Enon sedang menunggu Nyonya sama Tuan?"
"Iyah bi, saya lagi nungguin mama sama papa saya, tapi saya kok nggak liat orang tua saya ya?"
Bik Sri mengira orang yang dimaksud Fyo adalah majikannya, karenaia mengira putra majikannya sudah menikahi orang yang ada didepannya ini, yang sempat ia dengar waktu Azryan tinggal dirumah majikannya itu. Sayangnya, waktu itu ia izin balik kampung dengan pembantu satunya karena ada masalah dikampungnya mengenai masalah bantuan sosial. Sedangkan satunya lagi izin karena putranya lagi sakit dikampung, yang mengharuskan tinggal beberapa hari sampi putranya sembuh.
Setelah menerima beberapa penjelasan dari Bik Sri, Fyo mengangguk faham dan kembali berbaring tidur atas suruhan Bik Sri. Tapi sebelum itu, Bik Sri membantu Fyo memakan buburnya yang barusan suster beri. Mungkin karena masih belum menjumpai orang tuanya, Fyo kesulitan untuk tidur ditambah lagi dengan suara hening yang ada didalam ruangannya ini, rasanya seperti didalam ruangan kosong yang sunyi dan gelap.
Dipagi harinya, Fyo terbangun dari tidurnya. Ia sudah melihat semua orang berkumpul diruangannya yakni ada kedua orang tuanya, orang tua Azryan, Azryan, Raka dan juga kakaknya (Fiyan). Ia merasa bingung sejak kapan mereka berkumpul disini? Lalu sejak kapan pula kakaknya datang dari desa kesurabaya?
Tiba-tiba seseorang lelaki paruh baya datang lengkap dengan pakaian hitam, peci dan juga surbannya dileher. Tak lupa juga ia membawa al qur'an kecil ditangannya. Ada apa ini kenapa mereka mengundang orang itu? Pikir Fyo.
"Baik, kita bisa memulainya sekarang. Apakah calon mempelai sudah siap?"
Fyo berbohong dan menganggukki pak penghulu itu. Mulut bisa berbohong tapi tidak dengan matanya! Tanpa terasa air mata Fyo turun membasahi pipinya membuat pak penghulu itu merasa bingung dan sedikit menaruh rasa curiga padanya.
Azryan memberikan kode pada Raka, lalu Raka menghampiri pak penghulu itu dan mulai membisikinnya. Entah apa yang ia bisikan yang penting bukan bisikan setan. Pak penghulu itu mengangguk sambil menatap wajah Fyo sekilas, setelah itu menyuruh Azryan untuk duduk didekat Fyo sambil ditemani wali nikah masing-masing.
Raka mengeluarkan dua buku kecil berwarna merah dan hijau yang berlambangkan burung garuda didepannya. Seiring berjalannya waktu, begitu Azryan mengucapkan lafal tersebut dengan benar, sontak semua orang langsung mengucapkan kata "SAH" diruangan ini. Dilanjut dengan bacaan surah al fatihah, aamiin... Maka Fyo sudah menjadi istri sah Azryan Xie.
Raka mengeluarkan bulpen di sakunya dan memberikan pada Azryan dilanjut dengan Fyo yang menandatangani buku nikah tersebut. Azryan mencium kening Fyo begitu pula dengan sebaliknya, Fyo mencium talapak tangan Azryan dengan ragu-ragu. Setelah pernikahan itu selesai, Raka keluar mengantarkan pak penghulu tersebut sambil memberikan uang salam ditangannya dan juga berterimakasih atas waktunya dengan sopan.
Beberapa hari kemudian, Fyo sudah diperbolehkan pulang. Tapi tidak dirumahnya melainkan rumah Azryan sendiri yakni dijakarta. Awalnya Fyo menolak karena ia masih ngotong ingin ikut pulang bersama keluargannya.
Dengan sebuah dotongan dari mamanri, akhirnya Fyo menerimannya. Dengan Syarat jika ia ingin pulang kerumah orang tuannya Azryan harus siap mengantarnya, jika tidak Azryan tidak boleh menyalahkannya (Fyo) jika ia akan kabur dari rumahnya.
Mamanya Fyo melihat Azryan, menatapnya memohon agar dia mau menuruti perkataan Fyo. Karena Fyo tidak akan pernah bermain-main dengan ucapannya. Azryan mengangguk, lalu ia pun menyetujui perkataan putri malangnya. Mereka saling berpelukan, dilanjut dengan kakaknya, setelah itu papanya.
Kini mereka berpisah, tiga keluarga sudah kembali kerumah mereka masing-masing. Sekarang hanya ada Fyo dan Azryan didalam mobil, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka masing-masing.
"Ehem... " Azryan berdehem
Fyo menatapnya sekilas, lalu kembali lagi menatap jalan raya yang sedikit ramai. Didepan, mobil Raka sudah mengawal mobil Azryan. Itu karena Raka baru saja menggantikan pekerjaan Azryan yang sempat tertunda dan nanti sisanya dikerjakan oleh Azryan.
Episode selanjutnya....
"Mau kemana kamu?" Tanya Azryan saat melihat Fyo membawa bantal dan selimut miliknya.
"Naik! Ayo naik." Lanjut Azryan yang membuat Fyo jadi semakin kesal.