I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 10



"Ooooh, iya kak" Huffhhh, untung aja. kakak itu manggil aku. Lalu aku menghampirinya, dan membayar kebabnya. Setelah itu, aku menghampiri Azryan yang lebih dulu menaiki motornya.


Dirumah, itukan mobilnya om Bram kenapa masih disini. Padahalkan aku udah bela-belain pulang malam biar nggak sapaan. Lalu aku memberikan helmnya ke Azryan. Oh ya, ngapain juga aku takut. Azryankan nggak suka sama aku, pasti dia akan menolak perjodohan ini, huhhh semoga saja.


"Kak makasih ya. Kakak nggak mampir dulu. Didalam kayaknya ada om Bram" Lalu Azryan turun dan berjalan meninggalkanku. Untung aja aku udah mulai terbiasa dengannya, kalau enggak.


Sebelum kami masuk kerumahku, kami berpapasan dengan om Bram dan istrinya yang mau pulang. "Om tante" Ucapku tersenyum, lalu mencium tangan mereka bersama juga dengan Azryan.


"Baru pulang?" Tanya maminya Azryan, "Iyah ma, oh ya ma. Aku nanti pulangnya terlambat, aku mau main sebentar sama Fiyan" Ucap Azryan, lalu diangguki oleh mami sama papinya.


Didalam rumah, aku langsung kekamar kak Fiyan dan diikuti oleh Azryan. Rasanya tidak sopan jika harus menyuruh Azryan, setelah membayari makananku. Lebih tepatnya membayari makanan kakakku, "Nih, punya kakak" Ucapku lalu aku duduk bersamanya diatas kasur, sedangkan Azryan duduk dikursi tempat kakakku bekerja.


"Itu pakek uangnya kak Azryan dan sebaiknya kakak cepat-cepat balikin uangnya", "Berapa bro?" Ucap kakakku sambil membuka ponselnya, dan bersiap untuk mentransfer uangnya, "Satu juta" Ucapku bohong, membuat kakakku jadi melongo, "Udah nggak usah, lagian nggak sampek segitu juga kok habisnya" Lalu kakakku melempariku cemilannya, "Kak, sakiiit", "Bodo amat" Lalu aku memegang sesuatu untuk membalasnya, "Jangan, jangan yang itu. Nanti kalo kena kepala jadi benjol Fyooo" Ucapku saat aku mau melempari minuman botolnya, "Bodo amat" Aku langsung lari kekamarku, setelah melemparinya, karena aku yakin kakakku pasti akan mengejarku.


...----------------...


Pagi harinya, aku sengaja bangun lebih pagi dari jam biasanya. Karena aku ingin ngobrol banyak dengan Dea, yang waktu kemarin dia menangis dengan segitunya hanya karena candaan dari Nino.


Untung saja Azryan datangnya agak lebih pagi. Jadi, aku nggak harus nunggu dia datang. Aku langsung menghampiri Azryan, mengambil helmnya dari tangannya. Lalu memakainya dan naik kemotornya. Setelah itu, Azryan melajukan motornya.


Disekolah, "Kak, makasih ya?" Lalu Azryan mengnaggukinya. Aku masuk kekelasku, ada rasa sedikit kecewa dihatiku. Karena Dea tidak ada dikelasku. Dimana Dea? Tidak seperti biasanya Dea datang terlambat dari biasanya. Apa jangan-jangan Dea ada dikelasnya Riko. Aku menaruh tasku, lalu pergi kekelasnya Riko.


"Riko mana Yaya?" Tanyaku saat melihat Riko yang tengah berbincang dengan Nino, "Nggak tau" lalu ia membelakangiku, sehingga membuatku marah. Kutarik tubuhnya, lalu kuhadapkan dia kearahku.


"Loh itu apa-apaan sih", "Eh, gue belum selesai ngomong ya", "Fyo, Fyoo. udah Fyo udah" Ucap Nino meleraiku, lalu aku melepaskan tangan Nino yang sebelumnya, ia pegang lenganku. "Eh, lo. Bukan biasanya lo itu selalu berangkat bersama dengan Yayaku", "Emangnya gue tukang ojeknya apa. Lo inget ini baik-baik, gue dan si j*lang itu sudah nggak ada hubungan lagi".


Plak, aku menampar pipi Riko. Mungkin dengan tamparan saja tidak cukup buat membalas perkataannya. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu, tentang sahabatku. Apalagi dia itu pacarnya sendiri. Ya tuhaaaan, kenapa ada orang yang seperti ini.


"Fyo, Fyo kamu baik-baik sajakan" Ucap Nino yang baru saja datang, dan membuat mereka menepi dan terkagum-kagum olehnya, "No, kenapa Fyo?" Tanya salah satu temanku pada Nino, Nino tidak menjawabnya dia lebih memilih menenangkanku. Karena aku tau Nino itu tidak terlalu suka dengan siswi-siswi yang terlalu caper dengannya, hanya dengan melihat wajah dan gerak-gerik mereka.


Nino masih setia menungguku sampai bel apel berbunyi, dia mengelus kepalaku, "Fyooooo, ayo apel" Ucapnya, lalu aku menggeleng-nggelengkan kepalaku, "Fyoooo, ayolaaaah Fyo. Siapa tau Dea udah apel dihalaman depan sana", "Benarkah?" Lalu Nino menganggukiku.


Kami keluar bersama-sama, kali ini aku mau menyuruh wakil ketua kelas untuk menggantikanku memimpin. Rasanya aku malas sekolah kalo tidak ada Dea.


"Yaya" Ucapku saat melihat Dea memasuki gerbang sekolah, dan kembali sumringah. Tapi itu tak bertahan lama karena Dea harus membuat barisan sendiri dibelakang karena terlambat. Lalu tatapan berpindah kearah Riko yang fokus menghadap kedepan. Rasanya aku ingin sekali memukul wajahnya itu, gara-gara dia Dea jadi telat dan harus mau menerima hukuman yang seharusnya pak guru berikan padanya.


Setelah selesai apel Dea dihukum buat menyapu halaman yang luas itu, dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan hanya bisa menatapnya dari jendela sampai-sampai aku tidak bisa fokus menulis.


Jam pelajaran beraganti, aku melihat ada yang aneh dengan Dea, "Ya Yaya, Yayaaaa" Teriaku dan lari menghari Dea yang baru saja jatuh pingsan. Sehingga membuat semua orang yang ada didalam kelas berhamburan. Langkahku terhenti saat melihat Riko yang lari lebih dulu dariku. Dia menepuk-nepuk pipi Dea, lalu aku menghampirinya dan mendorong Riko agar menjauh dari Dea.


"Menyingkirlah dari sahabatku" Riko tidak peduli dia bangkit dan kembali menyadarkan Dea, mataku menatapnya tajam, "Apa kamu tuli hah?", "Aku tidak mau bertengkar Fyo, biarkan aku membawanya keruang uks", "Tidak, jangan pernah kamu menyentuh sahabatku. Apa kamu tidak ingat dengan ucapanmu tadi?" Bentaku, "Nino, tolong bantu aku bawa Yaya keruang uks".


Baru saja Nino mau membantuku, tapi Riko mendorong Nino sampai-sampai Nino jatuh tersungkur ditanah. Riko menarik tubuh Dea dan menggendongnya bak bridestyle, lari menuju ruang uks. Tanpa mendengar teriakkanku yang sedari tadi memanggilnya.


Diruang uks, Riko menurunkan Dea diatas kasur, sesekali ia mengelus kepala Dea, mengusap air matanya dan pergi meninggalkan Dea. Tapi sebelum itu Dea sempat mengigau, tangannya mencegah Riko untuk pergi. Lalu Riko melepaskan tangan Dea dari lengannya pelan dan pergi meninggalkannya.


Dipintu kami berpapasan, tatapanku masih tetap sama yakni tajam terhadapnya. Riko lebih memilih pergi dari pada meladeni aku, begitu pula juga denganku. Lalu aku duduk disebelah Dea, "Ya, maafin Yoyo ya? Gara-gara Yoyo, Yaya jadi jatuh pingsan seperti ini".


"Fyo, dikelas udah ada pak guru" Ucap salah satu temenku, "Iyah, tolong bilangin ke pak guru ya, aku izin dulu. Aku mau nemenin Yaya disini", "Ohhhh, ya udah. Kalo gitu aku pergi dulu ya" Ucapnya lalu aku menganggukinya.


Follow ig : fiy.ool


Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.