
"Yaya" Panggilku saat Dea udah mulai sadar, "Fyo", "Akhirnya, kamu udah sadar" Dea tersenyum lalu bangun dan mengangguk. Apakah aku harus bertanya ya soal hubungannya dengan Riko, tapi aku nggak tega jika Dea bersedih. Tapi jika aku diam saja, maka masalahnya nggak bakal kelar.
"Yayaa" Panggilku pelan, "Kemarin malam, aku liat kamu diapotik. Kamu ada sakit?", "Ooh enggak, i itu aku kemariiiiiin, anu itu apa? Eeee kemarin aku disuruh mama buat belikan obat, yah belikan obat", "Ooooh" Hening, "Yaya", "I iyaah", "Kamu ada masalah ya sama Riko", "E apa? Enggak kok, hubungan kita baik-baik saja" Aku tau kalo saat ini Dea tengah membohongiku, dan aku yakin dia pasti dalam masalah yang besar. Apa aku pancing Dea saja ya? Biar Dea Dea jawab jujur.
"Deaaaaa, aku tauuu kalo kamu membohongiku. Tapi alangkah baiknya jika kamu berterus terang saja padaku. Siapa tau aku bisa meringankan beban kamu. Yaya tau kan, kalo Yoyo pandai menyimpan rahasia Yaya sejak kecil. Tapi kenapa sekarang Yaya seakan tak mau mempercayai Yoyo lagi, apa karena Yoyo pernah berbuat salah sama Yaya. Jika itu benar maka, maafin Yoyo Hikkkks hikkks"
"Yoyooooo, Yoyo jangan nangiiis. Yoyo nggak ada salah kok sama Yaya, tapi Yaya yang punya banyak salah sama Yoyo. Yaya nggak mau ngerepotin Yoyo lagi. Yaya hanya mau belajar buat nyelesain masalah Yaya sendiriii", "Masalah?", "Iyah itu benar, aku sekarang mengalami banyak masalah" Aku menggengam taangan Dea, "Ceritalah sama aku, aku janji, aku akan membantu Yaya menyelesaikan masalah Yaya dengan baik" Dea menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan pasrah, seakan hatinya juga ikut pasrah dengan keadaan.
"Ak aku hamil" Kaget, tentu saja kaget, aku yakin dea menangis itu karena tersinggung dengan ucapan Nino kemarin, "Siapa ayahnya?" Tanyaku tegas, kali ini aku tidak mau bermain-main, "Riko", "Bajingan itu" Baru saja aku mau pergi menemui Riko tapi, lenganku dicegah oleh Dea, Dea menggeleng-nggelengkan kepalanya, "Dia sudah tau", "Apa?", "Dia belum siap jadi ayahnya", "Keterlaluan" Dea menangis, dan aku tidak harus bagaimana.
Tiba-tiba ide jahatku mulai muncul, untuk menjebak Riko agar mau menerima anaknya dan bertanggung jawab atas apa yang ia telah lakukan pada Dea. Aku diam dan tidak memberitahu Dea, karena aku tau dia tidak akan menyetujui rencanaku. Kami tidak mengikuti pelajaran sampai bel pulang berbunyi.
Ditempat parkir, aku tengah menggandeng Dea. Membantunya berjalan menunggu jemputan, "Yoyo boleh nggak aku ikut pulang bersamamu", "Emmm boleh" Tiba-tiba Nino datang mengagettiku dan Dea, "Nino" Ucap kami barengan, sedangkan Nino cengengesan tanpa dosa.
Ide jahatku mulai muncul ketika Riko berjalan mau menuju area parkir, "Eeeem Nino", "Iyah", "Boleh nggak aku minta bantuan sama kamu?", "Tentu kenapa tidak", "Eeeem, Yayaku kan nggak bawa ponsel buat pesen ojek online. Jadii, kamu mau nggak nganterin Yayaku pulang kerumahnya", "Boleh, ayok. Tunggu aku keluarin dulu motorku" Dilihat dari agak kejauhan, aku melihat Riko tengah bersembunyi buat menguntip kami. Hahahaha gua bakal kasih pelajaran sama lo Riko, Panas panas deh hati lo.
"Ayok", "Eeeh ayok sayang naik" Ucapku ke Dea sambil membantunya naik keatas motor Nino, "Tunggu, Yaya pegangan dong. Nanti kalo terjadi apa-apa sama kamu gimanaaa" Ucapku yang aku buat-buat, lalu menarik tangan Dea dan aku lingkarkan keperut Nino. Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak waktu melihat Riko yang seakan mau marah, tapi ia tahan. Aku tahu kalo Riko akan cemburu melihat Dea memeluk Nino dengan erat bahkan sangat erat. Apa kamu bilang? Dea itu j*lang, Dea nggak akan jadi j*lang kalo lo -Nya nggak bajingan.
"Nino, gue titip sahabat gue ya, jagain sahabat gue baik-baik", "Iyah-iyah, kayak kagak biasanya aja" Lalu Nino melajukan motornya, "Dada sayaaaaang, hati-hati yaaaa" Lalu aku membalikkan badan, berjalan kearah Riko yang masih bersembunyi dibelakang.
"Eeeem ada yang panas nih. Ini baru permulaan, keinginan gue sih, gue mau jodohin Nino dengan Dea. Terus gue mau Nino gantiin posisi baj*ngan itu. Dalam satu minggu, ingat itu baik-baik" Ucapku penuh penekanan, lalu pergi meninggalkannya dan menemui Azryan.
Lalu aku naik kemotornya, sekilas pandanganku mengarah kearah Riko yang masih terdiam disana. Hih berani berbuat, maka harus berani juga bertanggung jawab.
...----------------...
Makan malam, "Fyo" Panggil papaku, membuatku langsung menatapnya, "Papa, mau bicara serius sama kamu" Aku tau pasti papa mau membicarakan tentang perjodohanku dengan Azryan, baiklah terserah mereka. Aku akan menerimanya dengan senang hati, karena aku tau Azryan tidak akan mau menerima perjodohan ini.
"Kenapa pa?" Ucapku pura-pura tidak tahu, "Gini papa sama mama, mau menikahkan kamu dengan anak sahabat papa, dan tentu kamu pasti mengenal betul orangnya", "Kak Azryan?", "Iyah", "Fyo sih, terserah papa sama mama. Karena Fyo tau, pilihan kalian pasti memilihkan yang terbaik buat Fyo" Ucapku pura-pura menurut, sesekali jadi anak yang penurut nggak papa toh?.
"Benarkah?" Tanya papa sama mamaku tersenyum bahagia, "Kalau papa sama mama tanya lagi, Fyo akan menolaknya", "Jangan jangan jangan, baiklah kalo gitu papa mau kasih tau sama Bram", "Habisin makanannya dulu dong paa", "O iya lupa, soalnya papa terbawa suasana siiih" Lalu kami tertawa bersama, "Tapi pa, Fiyan kapan?", "Emangnya kamu mau papa jodohin", "E ya enggalah pa, yang ada nanti bertolak belakang lagi dengan tipe idaman Fiyan" Lagi-lagi kami tertawa bersama, sampai selesai makan.
Setelah membantu mamaku mencuci piring aku langsung naik kekamarku dan menjatuhkan bobotku diatas kasur. Hmmm, semoga saja Azryan benar-benar menolak perjodohan ini.
...----------------...
Pagi harinya, seperti biasa aku bangun agak lebih pagi. Mandi, dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setelah itu, aku turun dan ikut sarapan bersama mereka. "Yo" Panggil kakakku, "Hem", "Nanti Azryan jemputnya agak siangan", "Kenapa?", "Tau" Nggak seperti biasanya Azryan jemput aku agak siangan. Ahhhh, masa bodo yang penting aku masuk sekolah aja, itu udah lebih dari cukup.
"Fyo", "Iyah pa", "Kemarin malam papa ngasih tau om Bram, kalo kamu menerima lamaran Azryan. Jadi, papa sama om Bram mau menikahkan kamu dengan Azryan dalam waktu", "Uhuk-uhuk, tunggu-tunggu. Apa kalian sudah bicarakan ini dengan kak Azryan", "Tentu, dan Azryan dengan senang hati mau menerima kamu sebagai istrinya", "Ap apa?", "Apanya, apa sih sayaaaang. Kamukan sudah menerima lamaran ituuu. Jadi, mama harap kamu tidak akan mempermalukan mama sama papa didepan orang tuanya Azryan" Ucap mamaku lalu aku diam.
Follow ig : fiy.ool
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.