
Lalu aku kembali dan mengambil kunci motor kakakku dari tangannya, "Kamu kenapa? Tumben lemas kayak gitu" Tanyanya, rasanya aku ingin sekali menceritakan dilemaku saat ini, "Entahlah kak, sudah ya. Aku mau pergi beli dulu", "Iyah hati-hati dijalan", "Hem hem" Lalu aku pergi keluar dan pergi ketoko yang biasa kakakku kunjungi.
Setelah aku mendapatkan minuman kesukaan kakakku, aku duduk didepan minimarket sambil merenungi nasibku. Dengan menidurkan kepalaku diatas meja.
Tak lama kemudian, "Kenapa kamu?" Tanya seseorang yang baru saja duduk didepanku. Lalu aku mendongak, "Hiks hiks hikssss, kenapa aku harus bertemu denganmu? Dan membuatku dalam keadaan dilema seperti ini" Tangisku pada Azryan.
Tampan sekaliiiii, saat aku melihat Azryan meminum minumannya. Haruskah aku senang mempunyai calon suami yang tampan dan yang paling didamba-dambakan oleh kaum hawa. Tidak! Aku kembali keposisi semula.
"Jangan seperti itu, atau mereka akan menganggapku seperti pria yang tak bertanggung jawab", "Biarin, kamukan memang seperti itu orangnya?", "Aku serius, cepat angkat kepalamu" Lalu aku mengangkat kepalaku dan membiarkan rambutku menutupi wajahku.
Azryan menghela nafas, lalu tangannya bergerak mengurai helaian rambutku, menyibakkan rambutku kebelakang. Karena aku masih menunduk, Tangan Azryan mengangkat daguku keatas.
Cup, Azryan mencium keningku. Mataku membulat sempurna, tak percaya akan apa yang telah aku rasakan. Dingin, kenyal, apa itu? Oh tidak Azryan baru saja menciumku. Apa aku sedang bermimpi, mungkin tidak! Lalu aku mencubit tanganku. Auuu, sakit sekali tanganku. "Cieeeeeh" Seru beberapa orang yang tengah mengantri membeli makanan para pedangang kaki lima. Membuat pandanganku dan Azryan teralihkan.
Oh tidak! Apa yang dia lakukan? Memalukan, rasanya aku ingin sekali sembunyi dibalik kantong kresek ini. "Aku akan membalasmu, ingat ini baik-baik hah" Ucapku kesal pada Azryan, lalu meninggalkannya sendirian. Saat aku mau memakai helmku didepan kaca spion motorku. Aaaaa, kenapa pipiku jadi merah beginiiiii? Rengekku, Lalu aku memakai helmku dan pergi meninggalkan mereka.
Dijalan, berkali-kali aku mengerutuki Azryan. Sampai lupa dengan masalah yang telah membuatku dalam keadaan dilema tadi. Aaaaaa, kenapa dia melakukan ini? Belum nikah saja dia sudah berani nyosor, apalagi kalau sudah.
Tiba-tiba pikiranku melintas pada kejadian saat aku menelpon-nelpon Dea tadi sore. Cengkraman, Pelan-pelan, suara aneh. Aaaaaaa, kenapa nasibku begini sekaali siiiiih? Lalu aku menambah kecepatan motorku, agar bisa mengurangi pemikiran yang masih terngiang-ngiang dikepalaku.
Dirumah, aku langsung naik keatas menuju kamar kakakku. Bruk, aku langsung menjatuhkan tubuhku diatas kasur kakakku. Sedangkan kakakku yang tengah fokus pada komputernya langsung teralih padaku. "Lo kenapa yo?" Tanya kakakku, "Aaaaa ini semua gara-gara kakak. Kalau saja tadi kakak nggak menyuruhku, pasti aku nggak akan bertemu dengannya dan harus menahan malu juga karena ulahnya", "Maksudnya? Kalo ngomong tuh yang jelas. Sebut nama, dan gimana kejadiannyaaaa? Emangnya google voice yang bisa mengartikan lewat kata-kata lo", "Dasar monyet", "Apa?" Lalu aku lari pergi kekamarku.
Saat aku melintas di pinggir tangga, aku melihat mama yang mau membukakan pintu untuk seseorang. Tunggu nggak ya? Nggak deh, enakan juga dikamar.
"Eeeeh calon beeesaaaan, ada apa kesini malam-malam? Ayo silahkan masuk" Langkahku langsung terterhenti, dan berlari kecil berusaha mengintip dan menguping permbicaraan mereka dari atas. "Dimana Azryan?" Tanya mamaku, "Azryan datangnya agak telat", "Oooo" Mamaku mengangguk paham.
"Gini, kita kesini mau mencarikan tanggal buat ituuu" Ucap maminya Azryan yang membuatku tak mengerti, berbeda dengan mamaku yang langsung mengerti dengan ucapan maminya Azryan dan pergi memanggilkan papaku.
Apa yang papa bisikkin pada mama? Aku menghela nafas kasar saat melihat mama naik keanak tangga. Apa jangan-jangan mama mau aku turun kebawah. Hah gawat, aku harus cepat-cepat masuk kedalam nih.
Beberapa menit kemudian, tok tok tok. "Siapaaa?" Tanyaku pura-pura tidak tau, "Mama" Dalam batinku dah tau, "Masuk aja ma, pintunya nggak dikunci" Lalu mamaku masuk dan langsung menarik tanganku.
"Ayo turun, dibawah ada calon mertua kamu", "Aaaaa mama aja yang turun, Fyo masih ngantuk", "Oh ya, perasaan tadi mama liat kamu habis keluar deh kayaknya. "Mama pasti salah liat", "Baiklah, terserah kamu. Tapi nanti jangan salahkan mama sama papa, kalau pernikahan kamu akan dilakukam dalam waktu dekat tanpa persetujuan dari kamu" Aku langsung melingkarkan tanganku ke lengan mamaku, "Ayo ma, kebawahkan?" Lalu kami turun kebawah menemui mereka.
Saat kami sudah sampai dibawa, aku berusaha tuk memaksa bibirku ini tersenyum. Agar mereka tidak mereka tidak merasa tersinggung. Aku mencium kedua tangan orang tua Azryan dan ikut demuduk bersama mereka semua.
Beberapa menit kemudian, Azryan datang dan mencium tangan orang tuanya dan juga orang tuaku. Saat Azryan mau duduk disebalah mamanya. Ada aja drama yang mau mama ciptakan, dengan menyuruh Azryan duduk disebelahku.
"Iyah kakak duduk aja disini" Ujarku, lalu aku beranjak pergi mencari tempat duduk lain. "Kamu mau kemana Fyo", "Cari tempat duduk lain, kata pak ustadh bukan muhrim. kan aku sama kak Azryan belum nikah" Ujarku pura-pura bodoh, padahal juga setiap hari naik motor bareng.
"Masyaallah, sholehah sekali calon mantukuuu" Ujar maminya Azryan, membuatku tersimpuh malu. "Ah, tante bisa aja. Orang aku disekolahan juga sering peluk-pelukan sama sahabat cowok aku" Ujarku tak tau malu. Biarlah mereka tau, emang benarkan aku seperti itu? Aku aja udah beberapa kali main tampol sahabatku.
Aku harap dengan mereka mendengar ucapanku yang kurang ajar ini. Mereka akan merubah pemikiran mereka dan mau membatalkan perjodohan ini.
"Fyo" Seru mamaku, "Mamakan yang ngajarin Fyo buat bicara jujurkan? Biar tidak ada yang merasa rugi kelak nanti", "Iyah besaaan, apa yang dikatakan Fyo itu benar. Nggak papa kok kami memaklumi sikap Fyo diusianya yang seperti ini" Seru maminya Azryan, yang membuatku jadi sedikit malu.
"Sudah-sudah, lebih baik kita bicarakan masa depan anak kita saja. Dan untuk Fyo, terserah Fyo mau duduk dimana! Asalkan Fyo tidak pergi dari sini ya?" Ujar Papinya Azryan. Aku mengangguk, lalu duduk disebelah mamaku.
"Baiklah mari kita mulai, saya dan maminya Azryan sudah menentukan harinya. Tapi kita belum bisa memastikannya, sebelum mendapat persetujuan dari kalian." Ucapan mereka membuatku gugup dan juga takut. Gugup karena tidak sabar menunggu mereka angkat bicara, dan juga takut apabila mereka ingin kami menikah dalam waktu dekat tanpa menunggu aku selesai sekolah. Karena jika menungguku sampai kuliah, itu juga tidak mungkin.
Follow ig : fiy.ool
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah. Dan saya berharap kalian bisa memberikan vote untuk cerita ini.