I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 17



"Maaf om, tante jika Fyo lancang. Kira-kira nikahnya dilaksanakan tanggal berapa ya?" Ujarku tak sabar. Sekilas mataku melirik wajah Azryan yang juga tak sabar mendengar jawaban dari pertanyaanku.


"Besok."


"Apa? Tapi om tante. Dua hari lagi Fyo ada ujian nasional." Diam tak ada yang menjawab. Rasanya aku ingin sekali menangis, "Ma, pa." Ujarku sedih, berharap mama sama papaku bisa membantuku mencarikan solusi agar mereka mau mengundurkan tanggal pernikahanku.


Apa yang harus aku lakukan? Kenapa mereka masih diam dari tadi? Apa papa sama mama akan menerimanya? Apa yang telah mereka lakukan pada orang tuaku, sampai-sampai mereka seakan tunduk terhadap ucapan mereka.


"Ma pa." Bentakku karena masih belum ada jawaban dari meteka berdua. Aku mulai terisak tak bisa membendung air mata. Aku memilih meninggalkan mereka, pergi ke kamarku dan menguncinya. Aku menjatuhkan tubuhku diatas kasur dan menumpahkan isi hatiku pada diriku sendiri. Tidak ada teman maupun sahabat yang bisa membantuku. Jika orang tuaku diam, maka itu artinya mereka menyetujui ucapan orang tuanya Azryan.


Lalu kenapa tadi mereka menahanku disitu? Kalau pendapatku saja mereka nggak hargaiiii.


Lalu aku mencari buku-bukuku dan mulai mempelajari pelajaran yang mungkin akan dikeluarkan dalam soal ujian nanti. Beginilah aku, jika aku merasa sakit hati. Aku lebih memilih membaca buku dan mencari jawaban-jawaban dari soal yang ada dalam kitab ini. Mungkin dengan begitu aku bisa menemukan jawaban dari apa yang telah terjadi padaku. Sama seperti halnya soal yang ada dikitab ini, jika aku berusaha mencari rumusnya, pasti akan ketemu jawabannya.


Kenapa rumus ini sulit sekali untuk dihitung? Apa aku ini bodoh? Ya mungkin aku terlalu bodoh, sampai-sampai aku menerima perjodohan waktu itu, tanpa berpikir panjang.


Karena aku mulai merasa letih, aku memutuskan untuk tidur. Menunggu hari esok, dan berharap takdir bisa merubah nasibku yang malang ini.


...----------------...


Pagi harinya, karena hari ini adalah hari libur sekolahku, dan juga hari dimana aku bisa bermalas-malassan. Aku memutuskan untuk kembali tidur. Mau bagaimana lagi! Dea sudah menikah dengan Riko. Mungkin dia tidak diperbolehkan keluar sama Riko, namanya juga pengantin baru. Pasti ada aja larangannya.


Aaaaaa, kenapa aku tidak bisa tidur lagiiii? Hahhh, mataku. Aaaa, kenapa mataku jadi giniiiii? Pasti karena tadi malam aku terlalu lama menangis.


Aku langsung beranjak dari kasur, masuk kedalam kamar mandi. Mencuci wajahku, berharap mataku yang bengkak ini bisa kempes dan kembali seperti biasanya. Namun, usahaku sia-sia. Yaaa, seperti tadi malam apa yang telah aku ucapakan pada mereka. Lalu aku memutuskan untuk mandi. Setelah itu turun kebawah, bersiap-siap untuk sarapan bersama.


Disana, aku berusaha untuk tidak mengingat-ingat kejadian tadi malam dengan melupakannya. Mungkin dengan begitu pula aku tidak akan merasa marah, apalagi cuek, ketika berhadapan dengan keluargaku. Bagiku keluargaku adalah letak kebahagiaaku dan juga harta berhargaku.


Tek tek tek, hanya ada suara sendok yang tak sengaja menggesek-gesek dan melompat-lompat diatas piring. Hening, itulah yang terjadi saat ini. Tidak ada sama sekali yang mau membuka suara.


"Pa ma," Tangan papaku menghentikan ucapanku. Saat aku mau memecah keheningan disini. Aku menghentikan aktivitas makanku, karena nafsu makanku sudah mulai hilang. Dan aku terpaksa harus meninggalkan mereka dari pada ribut disini. Saat aku mau berdiri dan pergi. Entah kenapa rasanya sakit sekali ketika mendengar ucapan sengit dari papaku barusan.


Benarkah? Aku bahkan tidak diperdulikan tadi malam. Lalu apa yang harus aku lakukan? Mendengarkan perbincangan kalian. Yang bahkan kalian sendiri tidak bisa membantuku mengutarakan pendapatku. Kalian lebih mengikuti apa kata yang telah dikeluarkan oleh om Bram.


Lalu aku kembali duduk dan memakan makananku. Dan semuanya juga kembali ikut makan. Setelah kami selesai makan, papaku kembali kekamarnya lebih dulu. Dan hanya ada aku, mama sama kakakku. Tak berselang lama, mamaku mulai membuka suara.


"Seharusnya tadi malam kamu tidak pergi seperti itu Fyo,"


"Ma, jika mama mau memarahiku karena tadi malam, seperti halnya papa, Fyo akui Fyo salah. Tapi sekarang Fyo mau tanya sama mama. Apa Fyo salah jika Fyo mengutarakan pendapat Fyo tadi malam? Fyo mau ujian nasional ma, apa salahnya jika mereka harus menunggu sampai Fyo selesai ujian. Hanya selesai ujian ma, bukan sampai Fyo lulus sekolah."


"Azryan menolak permintaan papinya, dia menyetujui ucapan kamu. Sudah, apa kamu puas? Lain kali tunggu sampai selesai. Jangan asal main lari kayak tadi malam, yang membuat papa kamu malu pada sahabatnya."


Sahabat! Sahabat mana yang selalu memaksa sahabatnya sendiri untuk menuruti semua kemauannya sendiri.


Lalu Mamaku meninggalkanku dan kakakku. Sedangkan kakakku lebih memilih diam untuk tidak ikut campur dengan masalahku. Karena aku tahu, kakakku itu takut dalam mengambil keputusan mengenai masa depanku.


Seandainya kak Randy udah pulang. Aku akan lebih dulu menyambutnya dibandara, dan setelah itu aku ingin membagi cerita dengannya. Seperti biasanya saat kami masih pacaran dulu.


Tiba-tiba ingatanku kembali mengingat. Bagaimana kak Randy memutuskanku tanpa memberiku penjelasan. Rasanya sangat sakit sekali untuk menahan semua itu. Tiga tahun berpacaran, bahkan itu juga sangat sulit untuk melupakan semua kenangan bersama dengannya. Itu karena dia selalu siaga ketika aku sakit, ketika aku bersedih dia juga selalu ada buatku.


Kak, cepatlah kembali kesini! Aku kangen sama kak Randy. Fyo kangen sama suara kakak, ketawa kakak, sama nyanyian kakak yang lucu. Kenapa Fyo merasa kak Randy seakan hilang dari bumi? Hilang tanpa kabar sejak kita putus. Bahkan semua akun medsos kakak nggak pernah ada yang online. Apa kak Randy marah sama Fyo? Tapi apa alasan yang membuat kakak marah sama Fyo.


Tinung, suara bel itu membuyarkan lamunanku. Lalu aku pergi membukakan pintu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Nino datang kesini.


Kenapa Nino kesini? Apalagi dia datang sendirian. Biasanya kan sama Dea dan Riko. Oh iya ya, merekan baru nikah alias pengantin baru.


"Fyo." Panggil Nino membuyarkan lamunanku, "E e e Nino, ayo silahkan masuk" Tawarku dan menyuruhnya duduk disofa. Lalu aku memintanya untuk menungguku membuatkan minum untuknya. Baru saja aku mau melangkahkan kakiku. Nino menyuruhku untuk kembali duduk dan karena dia nggak bisa lama-lama disini.


Follow ig : fiy.ool


Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah. Dan saya berharap kalian bisa memberikan vote untuk cerita ini.