
"Sayang! Ya ampun... kamu kenapa?" Tanya Rasya dengan nada yang dibuat-buat. Sehingga membuat kedua orang yang ada didepannya ini, merasa muak mendengar ucapannya.
Karena tidak tahan, dokter Hans pergi meninggalkan mereka berdua.
"Cepat katakan ada berita apa hari ini? Tanya Azryan yang tak mau bertele-tele. Sehingga menghentikan Rasya yang berinisiatif membuka kancing jas Azryan.
Bertahun-tahun Rasya bekerja diperusahaan Azryan, tentu saja dia tau mengenai sifat-sifatnya. Jika Azryan langsung menanyainya, maka dia sedang tidak mau diganggu. Jika sedikit saja ia melawannya, maka berakhirlah sudah karirnya dan kesempatan buat mendapatkan Azryan hari ini juga.
Rasya pun langsung mengancingkan kembali kancing tuannya. Lalu beranjak dari ranjang milik tuannya itu sambil membenahkan pakaian dan rambutnya.
"Maaf tuan." Yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Azryan.
"Tuan, orang tua tuan nanti akan datang kerumah tuan. Sekarang ia sudah sampai disurabaya menuju jakarta."
"Surabaya? Suruh orang tua saya kesurabaya saja. Nanti saya akan menghampiri mereka."
"Tapi tuan masih ada jadwal meeting sama klien hari ini." Kata Rasya membuat Azryan merasa kesal.
Dengan terpaksa Rasya bilang, "Baik tuan, saya mengerti!" Lalu ia pergi meninggalkan Azryan. Karena kesal Rasya pergi mencari pelampiasan pada karyawan-karyawan dibawah.
Sedangkan Azryan dan Raka yang baru saja turun dari lantai atas, langsung disambut dengan pemandangan yang tak menyenangkan.
"Urus mereka! Saya tunggu kamu dimobil." Titah Azryan pada Raka guna menghentikan kekacauan di sana.
Azryan keluar sambil menelfon orang yang bertugas membawa mobil keparkiran untuk membawakan mobilnya kedepan kantornya. Pak security yang melihat bos -Nya berjalan keluar, langsung membukakan pintunya dan yang satunya bertugas membukakan pintu mobilnya.
"Gimana kondisinya?" Tanya Azryan pada Raka yang baru saja masuk kedalam mobilnya.
"Sudah membaik tuan." Jawab Raka sambil membenahkan sabuk pengaman dan bersiap mengendarai mobil tuannya.
"Seharusnya aku membuangnya dari dulu."
"Apa perlu saya yang melakukannya tuan?" Tanya Raka yang tak suka apabila tuannya merasa kesal.
" Jangan dulu. Suatu saat nanti aku akan membutuhkannya."
" Baik tuan."
...----------------...
Setelah mereka tiba, tepat dihotel Azryan. Mereka sudah disambut dengan raut muka yang penuh kekhawatiran. Bahkan, wajah maminya sudah basah karena air matanya.
"Mama, mama kenapa pa? Tanya Azryan dengan cemas. Seraya mendapat pelukan mendadak dari mamanya.
Yeah! Semenjak Azryan mengenal Fyo, Azryan mulai memanggil maminya dengan sebutan mama. Itu karena menurutnya panggilan mami itu terlalu kekanak-kanakkan baginya. Apalagi setelah mendapat ejekan dari Fyo.
Azryan mengusap air mata mamanya sambil berkata, " Mama kenapa? Katakan sama Azryan. Siapa yang berani mengusik mamaku? Raka cari tau masalah ini cepat."
"Baik tuan."
"Cari calon mantu mama sama calon cucu mama sekarang juga. Ini semua gara-gara kamu, seharusnya mama nggak bantu kamu buat balas dendam sama keluarga Fyo. Fyo pergi meninggalkan rumahnya dan gara-gara kamu juga keluarga Fyo tidak mau memberitahu keberadaannya sekarang! Karena mereka masih marah sama kita." Seru mamanya yang tiba-tiba memarahinya dan memotong ucapan papanya.
"Apa! Fyo sedang hamil anak Azryan ma. Mana mungkin dia pergi dari rumahnya. Orang tuanya pasti menghalanginya, mengingat kondisi Fyo saat ini." Elak Azryan karena ia merasa mamanya telah ditipu oleh keluarganya Fyo.
" Mama sudah kesana waktu ngasih uang bulanan buat Fyo, tapi Fyo -Nya nggak ada Azryan... "
Azryan menghela nafas dan mulai menyuruh Raka buat nyuruh anak buahnya mencari keberadaan Fyo.
Dengan begitu! Mama akan percaya kalau dirinya telah dibohongi oleh keluarga mereka. Cara mereka terlalu menjijikkan. Mereka lupa kalau mereka sedang berhadapan dengan Azryan Xie.
"Sudah ma. Sebaiknya mama sama papa istirahat dulu dikamar. Sekarang azryan mau ikutin Raka buat bantu cari Fyo." Azryan menyuruh papanya untuk membawa mamanya masuk kekamar.
Sebelum Azryan melepas pelukan mamanya. Mamanya sempat bilang kalau, "Jika kamu telat sedikit saja, mama takut kalau Fyo nekat menggugurkan anaknya dan kamulah yang nantinya akan bertanggung jawab." Lantas Azryan langsung berlari menuju parkiran.
Dengan perasaan takut dan cemas Azryan mengendarai mobilnya dengan penuh kecepatan. Didalam hatinya, ia terus merutuki dirinya sendiri.
Tidak! Itu tidak mungkin terjadi, dia tidak akan melakukan hal yang sebodoh itu. Tapi... diusianya yang mau menginjak usia 19 tahun, dia mungkin akan menjadi sangat labil. Tidak tidak! Dia menyukai anak kecil, mana mungkin dia akan berani menggugurkan anaknya sendiri. Jika sampai dia berani melakukannya, aku tidak akan membiarkannya lepas dariku. Sama sekali tidak akan pernah melepaskannya.
Azryan semakin menambah kecepatan mobilnya sampai ia masuk kedaerah perkampungan. Sampai disana Azryan sudah melihat keluarga Fyo yang mana itu adalah kedua orang tua Fyo dan juga kakaknya yaitu Fiyan. Yeah! Saat ini mereka telah diikat oleh Raka beserta anak buahnya.
"Lepaskan kami! Mau apa kamu datang kesini lagi?" Sontak membuat Azryan tersenyum kecut kearah mereka.
"Apa perlu saya memberitahumu teman." Dengan nada yang pelan namun serasa ditekan. Azryan memakai kaos tangan pada kedua tangannya yang dibantu oleh anak buahnya dan yang satunya lagi memberikan pistol kepada Azryan.
"Papa... " Teriak mamanya Fyo karena ketakutan.
"Sebenarnya apa mau mu? Kenapa kau membawa pistol kerumah kami!". Begitulah cara Fiyan menghadapi Azryan.
Bukannya mendapat jawaban dari Azryan, Azryan malah mengarahkan pistol kearah Fiyan. Sontak membuat kedua orang tua Fiyan berteriak histeris dan membuat mamanya pingsan.
"Tolong lepaskan kami! Kasihanilah kami. Kau telah menghancurkan masa depan putri kami. Saya mohon jangan sakiti putra kami juga."
Dengan air mata yang terus bercucuran Papanya Fyo terus-terussan memohon dan meminta untuk dilepaskan. Sedangkan Fiyan hanya bisa diam dan merasa sedih melihat papanya seperti itu. Mengingat kondisinya yang sedang dalam keadaan berbahaya. Bagaimana tidak! Azryan masih mengarahkan pistolnya kearah kepalanya.
"Shut.... Kenapa kalian terus saja berbicara? Ya pergilah... ya menangislah... ya memohonlah... Berisik tau nggak! Dengerinya. " Seru Azryan sambil menggaruk- nggaruk telinganya yang tak gatal.
"Dasar brengsek, lepasin gua."
Lantas Azryan menembakan pistolnya kearah vas bunga yang ada disamping Fiyan. Mamanya Fyo yang awalnya pingsan langsung tersadar dari pingsannya.
Tak berlama-lama karena takut akan lepas kontrol, Azryan langsung memberikan pertanyaan pada mereka.
"Dimana putri kalian?" Singkat, padat dan jelas. Namun, tak ada yang mau dan berani menjawab. Kalau menyakut soal Fyo, kali ini mereka tidak akan ceroboh lagi dengan mempertemukan putri mereka dengan polisi gadungan didepannya.
"Apa kalian yakin tidak mau memberitahuku? Mungkin mamaku haya bisa menangis setelah mendapat perlakuan dari kalian, tapi tidak denganku. "