I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 4



"Lama banget sih adikku yang comel." Seru kakakku kala melihat wajahku yang masih cemberut padanya.


Kami pergi keluar dan masuk kedalam mobil Azryan. "Keren banget bro mobil lo!", "Kalo kamu suka, nanti kita mampir buat beli mobil model kayak gini gimana?" "Seriusan Bro?" Tanya kakakku memastikan dan dibalas dengan anggukan olehnya. "Sombong, palingan juga kredit atau kalau enggak! Paling kalo lagi marahan juga diambil tuh mobil. " Sindirku "Jangan didengerin, adek gua memang gitu kalo lagi marah, dah lah gua cuma bercanda tadi."


Dilihat dari wajahnya, Azryan mungkin merasa sangat kesal denganku. Salah sendiri toh, siapa suruh dia nyuruh kakakku buat nyiram air kemukaku. Kan jadi kotor kasurku. Padahal baru kemaren aku cuci karena abis kena darah menstruasiku.


Di mall~ "Kayaknya adek kamu masih marah sama saya?" Tanya Azryan sambil berjalan mengikutiku dari belakang bersama dengan kakakku. "Udah... Biarin aja. Gua juga udah biasa digituin." "Nih, kasihkan keadik kamu." Seru Azryan sambil memberikan atmnya kekakakku.


"Fyo", "Apa?", "Widiihh, galak amat adek gue." Sambil memberikan atmnya kepadaku. "Kakak mau kemana?", "Kita mau kerestourant, kalo kamu butuh bantuan. Kamu calling kakak."


Hemmm, ini adalah kesempatan yang bagus buat balas dia. Emangnya enak apa! Disiram air.


Aku berlari kecil kesenengan sambil bersenandung ria. Pergi berbelanja dari satu toko ketoko lainnya, tanpa melewatkan satu tokohpun.


Saat dua keranjangku penuh, aku menelpon kakakku. Sesuai dengan ucapannya, jika butuh bantuan calling kakak. Aku membuka whatsappku dan mencari kontak yang bertuliskan My Brother.


"Hallo, kakak cepat kesini ya? Aku nggak bisa bawa barang belanjaanku." Aku langsung menutup telponku, "Oh ya aku lupa belum kasih tau lokasiku."


"Aku ada di toko sepatu lantai 2 no.4 sebelah kanan lift." Centang biru, itu artinya kakak sudah membaca pesanku.


Beberapa menit kemudian kakakku dan Azryan datang menemuiku. Dari kejauhan Azryan tengah menatapku tajam, seakan tak suka akan sifat borosku. Sedangkan aku kesenengan karena bisa membalasnya.


"Kakak..." Panggilku sumringah. Berbeda dengan kakakku yang matanya langsung tertuju pada barang belanjaanku. Seakan tak percaya dengan apa yang telah aku beli, dengan teganya menghabiskan uang temannya itu. Kakakku menarik paksa atm yang ada ditanganku, lalu diberikan pada Azryan penuh dengan kekhawatiran. Karena takut kalo nanti Azryan akan marah.


Azryan tersenyum kekakakku, lalu menepuk pundaknya, "Santai aja bro, namanya juga cewek", "Beneran nih nggak papa? Maafin adek gua ya bro." Azryan nampak tersenyum, walaupun dalam hatinya merasa seakan ingin menghukumku.


Cuih, munafik. Tadi dari kejauhan menatapku tajam, sekarang bilang nggak papa sama kakakku.


"Udah maaf-maaffannya, sekarang bawain barang-barang saya. Saya mau pulang." Seruku sambil mengambil langkah pergi meninggalkan kedua keranjang penuhku. Azryan dan kakakku mendorong keranjang belanjaanku mengikutiku, lalu memasukkan belanjaanku kedalam bagasi mobilnya.


Aku sangat senang sekali, akhirnya aku bisa membalasnya. "Huam... Kak Fyo ngantuk." "Iyah, nanti kakak bangunin kalo udah nyampek rumah."


...----------------...


Pagi harinya, "Huam..." Aku menepuk-nepuk pundakku, karena rasanya sakit sekali, mungkin karena tadi malam aku terlalu bersemangat berbelanja.


"Aku dimana?" Aku baru sadar kalo saat ini aku sedang tidak tidur dikamarku, "Dia!" Gumanku saat melihat figura besar yang bergambarkan foto Azryan yang tengah memakai celana jeans pendek serta kemeja yang terbuka setengah. Menampakkan roti sobek yang membelah perutnya, "Gagah" Itulah yang terucap dari bibirku tanpa aku sadari. Dan apa itu, rambutnya yang basah, membuatnya jadi semakin "Tampan...." Gumanku tanpa aku sadari.


Ceklek~ "Morning adeknya Mr. Fiyan...." Seru kakakku yang tiba-tiba datang. "Kakak..." Ucapku kesal, "Why?", "Seharusnya kakak bangunin Fyo nanti saja, Aku lagi asyik li..." "Li?" Seru kakakku penasaran.


Aku bingung harus jawab apa? Masa aku bilang kalo aku lagi liatain foto Azryan sih. Cari akal Fyo...


Setelah mereka pergi, aku bergegas tuk mandi. Dan turun kebawah, ikut makan bersama dengan kedua orang tua Azryan. Disini kami tengah asyik bercanda ria. Namun, berbeda dengan Azryan yang fokus pada makanannya.


...----------------...


"Assalamualaikum tante", "Waalaikum salam, kalian hati-hati ya dijalan" Lalu kami mencium tangan kedua orang tua Azryan. Setelah itu, Azryan mengantarkan kami pulang kerumah kami.


Setelah kami sampai dirumah, "Mampir dulu bro", "Lain kali aja. Aku mu pergi kekantor soallnya."


Satu minggu kemudian~


Aku mulai akrab dengan Azryan, karena selama itu setiap hari aku selalu diantar jemput kesekolah sama Azryan. Mungkin sejak saat itu juga, aku mulai nyaman dengannya. Yeah, walaupun nada bicaranya masih tetap sama kepadaku yaitu dingin bak kulkas berjalan.


"Kak polisi, ngomong-ngomong motorku masih lama ya masuk penjaraeah?", "Tergantung", "Maksudnya?" Azryan diam dan tidak menjawab pertanyaanku.


"Nanti aku jemput kamu, mungkin agak telatan sedikit", "Emmmm, kalo gitu sekalian nggak usah dijemput aja kak, nanti aku pulangnya sama temen aku aja." Azryan pergi meninggalkanku tnapa membalas ucapanku. "Huft... Kebiasaan" Gumanku.


Didalam kelas, "Yaya. Em... Kamu tau nggak sekarang hari apa?", "Sekarang, sekarang hari jum'at, emangnya kenapa?" Aku langsung cemberut dengannya, bagaimana bisa dia melupakan hari ulang tahunku, sahabatnya sendiri!


Aku kembali duduk kekursiku, membuka buku, dan mulai membaca. Dari jam pertama sampai jam pulang masih tidak ada orang yang mau ngucapin selamat ulang tahun padaku. Apa mereka benar-benar lupa dengan hari ulang tahunku.


"Yo, aku pulang dulu ya?" Seru Dea seraya menepuk pundakku, karena kesal, aku membalasnya dengan deheman saja, seperti yang biasa Azryan lakukan padaku. Tapi anehnya, Dea sangat terburu-buru saat meninggalkan kelas, berbeda denganku yang malas memasukkan bukuku kedalam tasku.


Aku berjalan keluar kelas dengan menyeret kakiku melangkah kedepan, sehingga membuat simpul tali sepatuku terlepas. Saat aku menali tali sepatu tiba-tiba aku mendengar suara orang yang tengah berbisik, sehingga membuatku jadi takut. Karena didalam kelas sudah tidak ada siswa siswi, ditambah lagi suasana kelas yang sudah sepi.


Satu dua tiga, aku lari keluar kelas dan ternyata.... Byur~ Aku diguyur air, tepung, telur bak adonan kueț yang mau dimixer. "Selamat ulang tahun Yoyo...." Teriak semua orang, "Yaya, kamu masih ingat?" Dea mengangguk, artinya iya. Dan membuatku menitihkan airmata. "Loh lok nangis!" Seru Dea, Aku memeluknya dan menumpahkan airmataku diatas pundaknya. "Aku pikir kalian semua lupa hiks hiks..."


"Stoooop", "Kenapa?", "Ya ampun Yoyo, masa nggak tau sih. Kalo kamu peluk aku, jadi kotorkan seragam princess ini", "Apa?" Lalu aku langsung memeluknya lagu tanpa memperdulikan ocehannya.


Begitulah cara dia menenankanku, bukannya menjawab isi hatiku. Tapi dia langsung mengalihkan pembicaraan. Dengan begitu rasa sedih yang ada dihatiku mulai memudar.


Perlu kalian ketahui semakin ia dikasihani, semakin sakit pula hatinya. Dia akan menangis dan menangis..... Dan itu akan membuatnya merasa Down, mengambil keputusan tanpa berpikir. Buatlah dia senang, jangan buat dia semakin bersedih. Semangatin dia, buatlah dia melupakan kesedihannya, jangan buat dia mengingat, menagis, bersedih, atau pun menumpahkannya. Mungkin dia akan merasa lega, tapi itu hanya sesaat dan hanya bisa bertahan ketika kita disampingnya. Coba pikirkan jika kita sudah pergi meninggalkannya, tindakan apa yang nanti ia lakukan?


"Fyo, selamat ulang tahun ya." Ucap Nino sambil memberikanku kadonya padaku, "Iyah, makasih ya....", "Cieeeeh" Teriak semua orang, "Iiiiih apaan sih".


Lalu kami merayakan ulang tahunku didalam kelas, menyanyikan lagu bersama, meniup lilin, memotong kue dan memakannya bersama. Diakhiri dengan sebuah butter cream warna-warni yang telah dibawa oleh Dea. Awalanya hanya Dea yang mengusapkan pada wajahku, lama kelamaan semua orang ikut mewarnaiku bak merayakan perayaan holly.


Follow ig : fiy.ool