I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 5



Setelah kami membersihkan semua sisa-sisa makanan kami. Rasanya hatiku hari ini sangaaaaaaat bahagia, meskipun pada awalnya saya sedikit merasa kecewa.


Diluar sekolah kami, nampak seorang pria yang tengah duduk diatas motornya sambil matanya menatap tajam kearahku. Yaaah, dia adalah Azryan si kak polisi itu.


"Bye semua", "Byeee" Lalu aku berlari kecil menghampiri Azryan. "Serius", "Apanya?" Ucapku tak mengerti. Bukannya menjawab, eh malah dicuekkin aku.


Dia langsung naik kemotornya sambil memakai helm bak aktor Boy disinetron anak jalanan. Azryan melajukan motornya dengan kencang, sehingga membuat badanku menggigil kedinginan.


Azryan menarik tanganku untuk memeluknya, mungkin dia tau kalo saat ini aku tengah kedinginan. "Yang kenceng", "Apanya?", "Pelukannya bodoh", "Apa?, Kak polisi modus ya?".


Brummm~ kecepatan motornya semakin kencang, "Hey, apa kamu mau membunuhku" Ucapku kesal karena dia membuatku jadi semakin kedinginan, "Aaaaaaaaaaa" Teriakku ketika Azryan makin menambah kecepatannya.


"Kau pikir saya tuli apa?" Ucap Azryan setelah menepikan dan memberhentikan motornya, "Iyah, kamu itu tuli, judes, kaku, dingin, modus, dan dannn" Aku bingung harus berkata apalagi, pasalnya dia sih bikin aku kesal terus.


"Udah?" Tanyanya, lalu melajukan motornya lagi dengan kecepatan sedang. Tapi aku heran sama si Azryan, bagaimana bisa orang yang dapat olok-olokan malah menanggapiku dengan santainya seperti itu.


"Ngapain kita kesini" Ucapku ketika Azryan membawaku kekantor polisinya. Dia menggandeng tanganku, masuk keruangannya dan memberikanku peralatan mandinya kepadaku.


"Aduhhh, kak polisiiiii. Sayakan bisa mandi dirumah, kenapa kak polisi harus repot-repot begini siiiiih", "Apa perlu saya yang memandikanmu?" Ucapnya dingin, namun mampu membuatku jadi terlonjak kaget. Aku mengerutu kesal sampai didalam kamar mandipun masih mengoceh tak karuan.


Lalu keluar dari kamar mandi, setelah memakai pakaian yang telah dibelikan oleh Azryan. Dan jangan tanyakan saya dia beli dimana?. Azryan mengantarku pulang kerumah, saat sampai dirumah.


"Supraissss" Teriak semua orang yang ada didalam. Air mataku seketika luruh membasahi pipiku. "Hiksssss hiksss", "Sayang kamu kenapa?" Tanya mamaku.


"Azryan kamu apain nak Fyo?" Tanya seseorang perempuan paruhbaya, yang aku sendiri tidak mengenalnya. Dan membuat semua orang langsung menatap Azryan, dan Azryan juga bingung harus menjawab apa, "Kenapa kalian menatapku seperti itu".


"Aku nggak kenapa-kenapa kok, aku cuma terharu sama kalian, karena telah menyiapkan semua ini buat Fyo" Jelasku, "Oooo, kirain kamu diapa-apain sama Azryan" Tanya wanita itu, lalu aku menggeleng-nggelengkan kepalaku.


"Oh ya kenalin nak Fyo, saya maminya Azryan dan ini papinya Azryan sekaligus sahabat papanya Fyo" Jelasnya, lalu aku menganggukinya dan mencium tangan mereka, atas suruhan mama.


Lalu kami merayakan ulang tahunku penuh dengan canda tawa, sampai menjelang malam. Lalu kita mengakhirinya dengan membakar jagung, memanggang sosis, daging dan sayur-sayuran.


Disebrang sana, aku melihat melihat papaku dan papinya Azryan tengah berbincang sangat serius. Sehingga membuatku jadi penasaran pengen ikut gabung.


Aku berjalan kearah papa dan papinya Azryan, saat jaraknya mulai dekat. Aku menhentikan langkahku ketika mendengar papinya Azryan tengah menagih janjinya pada papaku. Lalu aku bersembunyi dibelakang pohon sambil menguping pembicaraan mereka. Aku tau kalo menguping pembicaraan orang lain itu tidak baik. Tapi aku sangat ingin mendengarnya, dan entah mengapa aku merasa, kalo mereka mau membicarakan sesuatu.


Setelah mendengar percakapan mereka, aku langsung lari kekamarku tanpa memperdulikan Azryan yang tengah terpaku melihatku berlari sambil menangis.


Aku menutup dan mengunci pintu kamarku, dan menjatuhkan tubuhku diatas kasur sambil memeluk gulingku, "Hiksssss hikssss aku pikir dihari ulang tahunku ini, aku akan selalu mengenang kado terindahku hari ini. Tapi apa yang aku dengar tadi, membuatku benci dengan acara ini hiksssss" Aku menangis, namun tak bersuara agar diluar sana tidak mendengar tangisanku.


Tok tok tok~ suara pintu yang diketuk, "Siapa?" Bukannya menjawab, tapi pintu itu kembali diketuk, "Tunggu sebentar" Ucapku sambil mengusap air mataku. Agar tidak ada yang tau kalo aku habis nangis.


Saat aku buka pintu, ternyata itu adalah Azryan. Lalu aku ingin menutup pinpiku, karena aku tidak mau bertemu dengannya. Tapi dia malah menahan pintunya.


"Mau apa kamu?" Bukanya menjawab malah main nyelonong masuk kedalam, "Keluar" Masih tetap diam, "Aku bilang keluar" Bentakku.


Aku kembali menangis, ketika mengingat perbicangan papaku dengan om Bram papanya Azryan. Ditambah lagi dengan tingkah Azryan yang sama sekali tidak mendengar ucapanku.


Aku berjalan dan kembali duduk diatas kasur, "Kenapa papimu egois pada papakuuu hikksss" Azryan mendekatiku dan duduk disampingku, ada rasa canggung padanya ketika ingin menenangkanku.


"Apa tidak ada gadis lain selain aku", "Gadis lain, apa maksudmu?" Tanya Azryan tak mengerti ucapanku. Apa dia tidak tau, kalo dia mau dinikahkan denganku. Apa aku harus memberitahunya? Sepertinya jangan, tapi sepertinya harus, mungkin dengan ini aku bisa negoisasi dengannya.


"Disini ternyata kalian" Ucap mamaku yang tiba-tiba datang, lalu aku sesegera mungkin menghapus air mataku. "Tante", "Kalian ngapain disini? Makanannya sudah siap dimakan lho. Ayo turun kebawah" Ajak mamaku.


"Kalian duluan aja, nanti Fyo nyusul" Lalu mereka berdua pergi. Aku masuk kekamar mandi, mencuci muka, lalu kembali turun kebawah menemui mereka semua.


"Tuh dia orangnya" Ucap kakakku mengalihkan semua pandangan orang kearahku. Sehingga membuatku jadi tersimpuh malu.


Benar saja, semua makanan sudah tersaji diatas meja dan siap untuk disantap. Rasa sedihku mulai menghilang sedikit demi sedikit. Tapi setelah acara itu selesai, entah kenapa aku harus kembali bersedih, mengingat perbincangan papaku dengan om Bram tadi.


Begitu bodoh, sangat-sangat bodoh. Seharusnya aku tidak mendengar percakapan mereka, mungkin aku tidak akan merasa sesedih ini dan bisa menikmati pesta ulang tahunku.


Lalu bagaimana jika papaku akan menerima permintaan papinya Azryan. Apakah papaku benar-benar menerimannya? Semoga saja itu tidak akan pernah terjadi.


Aku tidak mau jika harus menikah dengan si polisi ketus nan dingin itu. Yang ada malah aku nggak diurusin lagi, atau kalau enggak aku nggak dikasih uang saku sekolah lagi. Owwhhh, tidak tidak itu tidak akan terjadi. Papa tidak akan menerima permintaan om Bram.


Follow ig : fiy.ool


Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.