
(FYO POV)
Entah kenapa badanku tiba-tiba merasa menggigil, membuat tubuhku enggan untuk bangkit dari kasurku.
"Ya ampun Fyooooo. Ini sudah jam berapa? Dan kamu masih tidur diatas ranjang kamu!" Omel Mamaku yang tiba-tiba nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu dengan diiringi suara khas Emak-emak kalo lagi ngomel sama tukang sayur, karena harga cabe naik drastis gitu. Yeah! kurang lebih seperti itulah....
Raut muka marah yang ia tunjukkan sebelumnya, seketika berubah saat melihat wajahku pucat pasih dengan bibir yang agak gemetaran.
Refleks, tangan mama langsung menyentuh keningku dengan menunjukkan wajah kekhawatiran. Sungguh beruntungnya aku memiliki orang tua seperti mama.
"Ma, boleh nggak Fyo izin nggak masuk sekolah hari ini?"
"Kamu tu ngomong apa? Ya bolehlah. Emangnya kamu mau pingsan lagi kayak dulu?" Dengan gerakan yang agak terlalu cepat ku gelengkan kepalaku.
Aku teringat pada saat aku lagi sakit, aku memaksa mama buat izinin aku masuk sekolah. Tapi karena tidak diizinin, aku langsung kabur berangkat sekolah tak menghiraukan omelan mama. Pada akhirnya, saat mau masuk gerbang sekolah. Brukkk, pingsan deh si anak bandel ini. Saat tersadar, tiba-tiba aku udah ada dikamar sendiri.
(AZRYAN POV)
Sepertinya ada yang aneh, biasanya dia udah standby diluar. Biar saya cek dulu deh.
Tok tok tok, "Tante." Panggilku saat melihatnya membukakan pintu untuk saya. "Eeh nak Azryan, ayo masuk. Kita sarapan bareng didalam."
Dengan senang hati saya menerima tawaran ini, masuk kedalam inti rumah ini. Baru aja sampek, udah ditawarin makan sama teman kecil yang kelam.
"Woooy, makan bro." Tawar Fiyan padaku yang saya balas dengan senyuman dan ikut bergabung dengan mereka. Kebetulan sekali saya belum sarapan pagi ini.
"Em... Maaf ya nak Azryan. Hari ini Fyo nggak masuk sekolah." Ucap mamanya Fyo, entah mengapa tiba-tiba hatiku merasa iba padanya.
"Kenapa tan?", "Fyo sakit." Sambil membawa nampan yang berisikan bubur semangkuk dan juga susu.
"Tante apa itu buat Fyo?"
"Iyah."
"Boleh nggak Azryan yang ngantar, sekalian saya jenguk Fyo."
"Tentu saja boleh, kamu kan calon suaminya Fyo."
"Pip pip pipip calon mantu." Seru Fiyan membuat semua orang tertawa padaku.
...----------------...
Saat saya memasuki kamarnya, ternyata benar dia sekarang sedang sakit. Dengan langkah kaki yang cukup tegap nan tegas, saya berjalan mendekatinya sambil membawa nampan yang saya bawakan dari bawah.
Ckckck, lemah sekali tubuh ini. Bahkan, sudah tertupi oleh selimutpun dia masih gemetaran. Rasanya aku ingin sekali menghangatkan tubuhnya.
"Ternyata kamu bisa sakit juga. Lemah!" Seruku untuk membuang cepat-cepat pikiran kotorku.
"Apa aku sudah gila? Barusan aku ngigo apa? Yah kali mikirin calon mantunya mama yang tukang nipu itu." Serunya tanpa melihat kebelakang.
Dia, apa dia sedang membicarakan saya! Berani sekali dia bilang aku penipu.
"Lihat kebelakang." Seruku guna meredam emosiku.
"Hah! Apa jangan-jangan." Serunya membuatku tak mengerti. Aku yang sudah terlanjur merasa kesal, langsung membalikkan tubuhnya dengan menaikki kasurnya.
"Ka kamu! Sejak mapan kamu ada dikamarku?" Ia terkejut ketika melihatku berada disampinya.
"Sejak kamu memikirkan saya. Itu bukan halusinasi tapi memang benar saya yang tadi sedang bicara dengan calon mantunya mamiku."
"Mamamu menyuruhku buat ngasihkan ini kekamu", "Benarkah?" Tanyanya seakan menunjukkan rasa kecewa dan bersiap untuk menangis.
(FYO POV)
Seketika air mataku turun membasahi pipiku, "He hey kenapa kamu nangis?" Tanyanya khawatir.
"Hiks, seandainya waktu itu kamu bilang padaku kalo kamu tidak mau menolak tawaran papamu. Pasti tidak akan jadi seperti ini... Hiks." Seruku diiringi dengan isakan tangis.
"Berhentilah menangis, meskipun kamu menolaknya. Mau tidak mau kamu akan tetap menikah denganku."
"Kak, apa kamh bawa pistol?"
"Buat apa?"
"Setidaknya jika bukan kamu yang meninggalkanku, maka aku saja yang akan mati."
"Bicara apa kamu? Kamu pikir saya mau menikah dengan kamu. Sudah saya bilang saya melakukan ini karena terpaksa. Jika saya tidak menuruti orang tua saya, saya tidak akan mendapat warisan apa-apa. Lagi pula setelah saya mendapatkan warisan saya, saya akan melepaskan kamu kok. Kamu tenang saja!" Omelnya penuh dengan amarah.
Belum juga jadi suami, udah main marah-marahin anak orang aja. Lagi pula, emangnya saya ini barang apa! Aaaa, kenapa nasibku seperti ini.
"Nih, ini buat negoisasi pertama, saya cuman bawa 500 ribu. Gak mungkin juga kali saya capek-capek keluar hanya untuk mengambil uang diatm saya."
Apa-apaan ini, dia memberiku uang 100 ribu. Emangnya aku ini wanita apaan! Masak bawanya 500 ribu ngasihnya cuma 100 ribu.
Saat aku kembali menangis, bodoh sangat bodoh. Dia malah ngasih aku uang lagi 200 ribu, jadi totalnya 300 ribu.
Eeemmm, kira-kira kalo aku nangis lagi, ditambahin lagi nggak ya? Coba ah. Aku kembali menangis kali ini agak kukeraskan sedikit. Tapi kulihat dia tengah kebingungan, apa jangan-jangan uangnya habis ya? Hemh, Modal 300 ribu aja angkuhnya nggak kira-kira, dasar kak polisi.
"Apa kamu punya pulpen?" Tanyanya Azryan, buat apa? Hemmmm, jangan-jangan dia mau membodohiku dengan menggambar uang dikertas. Emangnya aku anak kecil apa. "Ehem, sepertinya gak jadi. Kulihat kamu udah baikkan. Tadinya aku mau ngasih kamu cek sesuai nominal yang kamu minta, tapi kamuuuuuu" Ucapnya sinis.
Wahhhh bener-bener tuh polisi, tapi cek itu, aku mau. Jarang-jarangkan aku bisa pegang uang banyak. Tapi gimana caranya, apa aku pura-pura nangis lagi. Baiklah, mari aku coba.
"Kamu pikir aku bodoh, cepat makan makananmu atau kalau enggak, aku akan mengambil uangku lagi" Aku menatapnya kesal, lalu memakan buburku. "Auuw panas", "Dasar bocah", "Apa?", "Apanya yang apa?" Aku memilih diam dari pada berdebat dengannya.
Azryan berjalan kemeja belajar, dan membuka-buka isi bukuku. Aku tidak peduli dengannya dan lebih memilih menyantap bubur spesial buatan mamaku ini.
Tok tok tok, suara ketukan pintu. Azryan berjalan hendak membukakan pintu. "Nak Azryan", "Tante, masuk tan" Lalu mamaku masuk tak lupa dengan mengelus rambut Azryan, seperti ia lakukan padaku.
"Waaaah, udah baikkan. Baru aja mama mau ajak kamu kedokter", "Nggak perlu kedokter tan, kasih uang aja. Nanti bisa sembuh-sembuh sendiri", "Hemmm?" Mamaku tak mengerti. Lalu Azryan menunjuk kearah uangku.
"Hm hemmm, kamuuu" Membuatku terseyum kikuk, lalu mamaku menjewer telingaku. "Aaaah mamaaaaa, sakit tauuuu" Ucapku kesel. "Tante, Azryan mau ke Fiyan dulu ya tan" Lalu dibalas anggukan sama mamaku.
Entah mengapa rasanya, aku tidak mau Azryan meninggalkanku. Apakah aku mulai jatuh cinta padanya. Nggak nggak nggak, Fyooooo lho itu kenapa siiih? Lho kan masih punya pacar.
...----------------...
Sek tadi pagi Azryan belum pulang, "Fiyan, Azryan. Ayo turun, kita makan malam", "Iyah ma", "iyah tan".
Hari ini Sahabatku datang kerumahku, mereka menjengukku. mereka hanya datang bertiga karena mereka tak sabar ingin menjengukku sekalian mau main katanya.
"Fyo, ayo ajak teman-teman kamu makan malam dibawah", "Iyah ma", "makasih tante". lalu aku mengajak mereka turun, makan malam bersama.
Sekarang posisi kami, kak Fiyan berhadapan dengan mama, Aku berhadapan dengan Azryan, Dea berhadapan dengan Riko. Sedangkan Nino sendirian.
"Ma, gimana kalo kita rubah posisinya. Biar Nino nggak sendirian", "Boleh, biar papa geser ketempat Fiyan. Ayo Fiyan geser", "Tapi tante, aku mau berhadapan sama pacar aku, boleh?", "Boleh, kalo gitu Nino pindah disebelah Fyo", "Tidak tidak, e maksudnya. Nino kan laki-laki, kan nggak seharusnya berada ditengah-tengah anak perempuan. Kata mama itu nggak baik tan, biar Nino berhadapan sama Azryan saja", "Eeeeh, baiklah" Lalu Azryan pindah kesebelah Dea, dan dia tengah berhadapan dengan Nino.
Saat aku sedang asyiknya memakan makananku, pandanganku tak sengaja melihat Nino dan Azryan yang saling menatap tajam, tanpa melihat makanannya, tapi tangannya masih aktif memasukkan mamakanann.
Ada apa dengan mereka, kenapa mereka saling menatap tajam. Apa mereka dulu pernah bermusuhan?, "E ehem" Untuk memecah tatapan mereka, "Fyo, kamu kenapa?" Ucap mamaku, sehingga membuat mereka semua menatap kearahku.