
"Kamu kenapa Fyoo", "Nggaak kenapa-napa kok ma" Ucapku. Setelah selesai makan, teman-temanku berpamitan pulang. Begitu pula dengan Azryan.
...----------------...
Pagi harinya, tubuhku sudah mulai enakkan. Jadi, aku memutuskan untuk berangkat sekolah, yaaa walaupun masih agak sedikit pusing. Tapi aku tidak mau ketinggalan pelajaran hanya karena merasa sedikit pusing.
Seperti biasaa aku diantar dan dijemput sama Azryan, dan aku tidak tau sampai kapan motorku akan dikembalikan. Padahal orang tuaku sudah mau nebus motorku, tapi masih tidak boleh diambil katanya.
Setelah kami sampai, Azryan kembali kekantornya. Dan aku masuk kedalam kelasku, melakukan piket, lalu apel. Setelah itu mengikuti pelajaranpun dimulai.
Dikantin, seperti biasa Dea memesankan aku makanan yang biasa aku beli. "Kok mie tiga?" Tanyaku saat Dea membawa nampan berisikan tiga mangkuk mie instan, "Iyah satunya buat si Riko, biar dia nggak makan jatahku", "Ooowh", Dea tersenyum lalu kembali mengembalikan nampan tersebut. Sekalian juga ngambil minuman botol kami.
"Tuh dia dateng" Ucapku saat melihat Riko dan Nino berjalan kearah kami, "Huft selamat", "Apanya yang selamat?" Tanya Riko, "Iniloh, Yaya beliin kamu mie instan. Karena takut jatahnya dimakan kamu", "Apa jatah? Kayak" Sambil menyatu-nyatukan tangannya. "Iiiih, jangan gitu. malu tau diliat mereka", Ucap Dea membuatku tak mengerti.
Lalu pandanganku mengarah kearah Nino, dan kembali mengingat kejadian waktu makan malam. Apakah aku harus tanya ya? Kenapa ya tadi malam dia menatap tajam sama Azryan? Apa mungkin mereka dulu punya dendam. Ah, sebaiknya jangan deh. Tapi aku penasaraaaaan, baiklah aku akan coba bertanya.
"Eeeeem Nino" Panggilku saat Nino memakan bekalnya dari rumah, "Iyah", "Eeeeem, kamu kenal ya sama kak Azryan? Yang tadi malam waktu kita makan malam itu", "Kenal, diakan polisi yang nyita motor kamu kan? Emangnya kenapa?" Oooooh, apa jangan-jangan dia kesal karena Azryan nyita motorku ya. "Fyo?" Panggil Nino, karena aku lama menjawabnya, "Eeeh, nggak papa kok".
Tapi kenapa dia harus kesal sama Azryan, kan motorku yang disita. Oh iya, lo itu gimana sih Fyoooo, Ninokan suka sama lo. Ya pasti dia cemburulah, liat lo sering dianter sama tuh polisi yang dinginnya minta ampun. Tapikan dia polisi, sudah jadi kewajibannya kan buat ngejagain warga negaranya, kenapa harus cemburu.
"Eh yo, kalo makan tuh liat makanannya. Jangan liat mejanya" Ucap Riko, "Ih, apaan sih. Ganggu orang makan aja", "Kamu kenapa yo, apa kamu ada masalah? Cerita deh sama kita. Siapa tau kita bisa bantu", "Nggak ada kok", "Hmmm".
Lalu kami kembali menyantap makanan kami, "Huek huek", "Yaya lo kenapa?", "Nggak tau, tiba-tiba kepalaku pusing sama pengen mual gitu", "Kita bawa kamu keruang uks yuk", "Nggak usah yo, aku baik-baik saja kok", "Baik-baik saja gimana", "Yoooooo, gue baik-baik aja. Beneran deh".
"Ngapain lo, liatin gua kek gitu" Ucap Riko ke Nino, karena Nino menatapnya tajam, "Kamu kenapa No?" Tanyaku, "Rik, lo jawab jujur kegue. Lo nggak apa-apain Dea kan?" Tanyanya Nino membuatku tak mengerti, tapi berbeda dengan Riko dan Nino yang tengah ketakuttan.
"Maksud lo apa?", "Iyah, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh deh" Sahut Dea, "Enggaaaak, maksud gue tu gini, ciri-ciri lo itu kayak orang" Berhenti dan mendekatkan kami "Hamil tau nggak?" Lanjutnya lagi pelan.
"Apaan sih lo Nin. dahlah malas gua" Ucap sambil menggebrak meja dan meninggalkan kami berdua, "Yo" Ucapku dan mau menenangkan Dea, "Ak aku mau kekamar mandi" Dea malah beranjak pergi meninggalkan kami. Dilihat dari wajahnya sih, dia tengah bersedih.
Aku mengejar Dea kekamar mandi, baru aja mau masuk. Dea malah main tutup aja tuh pintu. Kudengar suara tangisan didalam, Dea menangis. "Yaya, Yaya buka pintunya. Aku mau masuk" Tidak ada sahutan dari dalam, tapi aku hanya mendengar tangisan dari Dea, "Yaya, buka pintunya. Ya aku mohon. Atau kalau nggak, aku dobrak nih pintu" Ucapku sok jagoan pakek main dobrak segala. Orang disuruh bawa galon aja, nggak bisa. Nah ini malah mau dobrak.
Beberapa menit kemudian Dea membuka pintunya, dia berdiri diam dan melihat kebawah. "Yaya, kamu kenapa nangis?" Aku memeluk Dea dan Dea menangis dipelukanku, lalu aku menutup pintu kamar mandinya kembali.
Hikssss hikkks, begitulah suara tangisnya Dea, sahabat kecilku. "Yayaa, kamu kenapa nangiiiiiis. Kalo kamu nangis kek gini, aku jadi ikuttan sedih hikkkkssss" Aku sedih melihat temanku menangis seperti ini, bahkan Dea sama sekali tidak menjawab pertanyaan dariku.
"Yayaaa jawab doooong, apa gara-gara ucapan Nino tadi. Baiklah biar aku kasih pelajaran sama dia" Ucapku dan hendak pergi menemui Nino. Tapi tanganku dicegah oleh Dea, dia menggeleng-nggelengakn kepalannya. Itu artinya dia tidak mau aku pergi. Lalu aku mengusap air mata Dea.
"Baiklah kalo kamu nggak mau cerita sama aku, setidaknya kamu jangan menangis seperti ini. Aku bingung harus berbuat apa?" Ucapku benar-benar frustasi.
Aku menyuruh Dea untuk mencuci wajahnya, agar murid yang lain tidak melihat kalo kami habis menangis. Setelah itu aku mencuci wajahku. Sebelum pergi, aku menatap wajah Dea yang masih bersedih, lalu aku menautkan jari jempol dan telunjukku disudut bibir Dea. Lalu menariknya keatas, yang menampakkan senyumannya. Lalu Dea tersenyum dan memelukku, begitupula denganku.
"Makasih, makasih ya. Karena kamu sudah menjadi sahabat terbaik aku dari kecil" Ucap Dea mulai membuka suara, lalu aku menganggukinya dan keluar dari kamar mandi. Dan memutuskan untuk kembali kekelas kami.
Jam pelajaranpun dimulai sampai jam pelajaran berakhir. Aku dan Dea keluar dari kelas kami, dilihat dari kelas sebelah yaitu kelasnya Riko dan Nino, mereka berdua tengah berjalan kearah kami. Tapi anehnya Riko berjalan seakan tak melihat kami, berbeda dengan Nino.
"Yuk pulang" Ucap Nino, aku ingin sekali memarahinnya tapi Dea mencegahku. Lalu aku berjalan duluan dan tak menggubris ucapan Nino.
Ditempat Parkir, dilihat dari kejauhan Riko seakan tak sabar menunggu. Ia menunjukkan muka massamnya, sehingga membuat Dea ragu untuk pulang bersamanya. Aku ingin sekali bertanya padanya, tapi aku takut Dea akan kembali sedih.
Dea memustuskan untuk pulang bersama Riko. Rasanya aku ingin sekali menonjok muka si Riko, baru saja dea duduk dimotornya, ia malah langsung ngegas motornya dengan kecepatan yang cukup cepat. Sehingga membuat Dea takut dan juga dapat ucapan tak enak diri siswa siswi yang menyingkir dari jalannya, akibat dari ulahnya.
Follow ig : fiy.ool
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.