
Aku langsung menangkup bibir Azryan, dan memberikan nafas buatan untuknya. Huuufh, mataku membulat sempurna. Saat dia membuang nafas dimulutku. Uhuk uhuk, "Fyo kamu kenapa?" Tanya Nino khawatir. Sedangkan aku ingin sekali meluapkan amarahku. Bisa-bisanya dia pura-pura pingsan, disaat aku sedang sangat khawatir, takut terjadi apa-apa padanya. "Fyo, Yo." Panggil Nino mengagetkanku. "Kamu kenapa?" Tanya Nino.
Apakah aku harus beritahu Nino ya? Kalau Azryan sedang pura-pura pingsan. Tapi jika aku beritahu Nino, aku takut jika dia lepas kontrol sama Azryan.
"Fyo." Seru Nino memecah lamunanku. "Fyo kamu kenapa?" Tanya Nino lagi, "E enggak, aku nggak kenapa-napa kok. Aku cuma takut saja kalau dia akan pergi meninggalkan calon istrinya. Padahal dia pernah cerita sama aku, kalau empat hari lagi dia mau menikah. Aku kasihan sama calon istrinya nanti, pasti dia akan sedih mendengar kabar bahwa, calon suaminya mati hanya karena tenggelam didalam air sedalam satu meter ini." Sindirku, biar dia tau rasa. Meskipun aku tau aku salah, dengan berbohong padanya. Tapi ini semua demi kebaikannya dan juga kami semua. "Benarkah?Kalau gitu, Fyo tolong bantu panggilkan ambulan."
Azryan benar-benar membuatku dalam keadaan terpuruk. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus benar-benar menelfon ambulan.
Setelah beberapa jam kemudian, sekarang Azryan tengah berbaring diatas kasur yang agak empuk. Karena aku memaksa Nino buat memilihkan fasilitas umum untuk Azryan. Untuk apa memesankan fasilitas khusus, kalau Azryan hanya berpura-pura pingsan. Bahkan, sampai Nino pergi meninggalkan kami, dia masih pura-pura pingsan. Beberapa menit kemudian, keluargaku dan keluarga Azryan datang menjenguknya. Betapa hebohnya mereka, ketika melihat anaknya terbaring lemah alias lemah-lemahan diatas kasur yang agak empuk ini. Mereka langsung memanggil perawat untuk memindahkan Azryan kekamar VVIP.
Benarkah? Om, tante. Dia hanya pura-pura pingsan. Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan. Dan apa itu? Yang barusan aku dengar! Kamar VVIP. Bawa aja kekamar mayat sekalin. Huuuhh, kenapa dia masih tidak bangun-bangun juga sih?
Kamar VVIP keluarga Xie, aku sekarang berada dikamar Khusus Azryan dengan fasilitas mewah, bersama dengan orang tuaku dan orang tua kak Azryan. Mereka saling mengobrol setelah selesai mengintrogasiku. Sungguh, mereka seakan menganggapku sebagai penjahat yang sudah membuat Azryan terkapai lemas diatas kasur. "Maaaaa" Panggil Azryan yang sudah mulai sadar dari aktingnya. "Azryaan, Azryan kamu tidak papakan?" Tanya maminya Azryan penuh kekhawatiran. "Maaaaa, paaaaa. Tolong Azryan mereka, mereka mau menenggelamkan Ryan ma, Ryan takuuuut." Ucap Azryan ketakuttan, seakan dia tengah mengigau.
Ada apa ini? Kenapa dia begitu cengeng? Apa dia sedang berakting. Tapi sayang, aku nggak akan termakan oleh tipu muslihatmu.
Pandanganku menangkap wajah om Bram, yang tengah menatap mama sama papaku tajam. Begitu pula dengan maminya Azryan. Membuat kedua orang tuaku takut, sampai-sampai mereka menunduk, tak berani melihat atau menatap wajah kedua orang tuanya Azryan. "Om, tante. Kenapa kalian menatap kedua orang tuaku seperti itu?" Tanyaku karena aku tidak mau melihat kedua orang tuaku bersedih. "Tidak kenapa-napa kok sayaaang. Eeee, Fyo tolong bantu tante dulu ya? Buat jagain anak tante. Lagian kaliankan mau nikah, jadi buat belajar jagain calon suami jujur." Jawab Maminya Azryan tak lupa dengan senyuman manisnya yang cantik. "Kalian mau kemana?" Tanyaku saat melihat mereka semua mau pergi meninggalakan kami berdua. "Kami mau bicarakan soal pernikahan kalian." Seru maminya Azryan.
Kenapa tidak main disinetron aja. Biar bisa jadi terkenal, saking terkenalnya sampai-sampai didunia nyatapun ia masih harus berakting. Huh, "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Tanyaku, karena sedari tadi, dia menatapku dengan tatapan tajam. "Ambilkan aku minum." Suruh Azryan padaku dengan wajah yang dingin. "Emangnya kamu siapa?" Tanyaku, "Calon suamimu." Sahutnya, " Tapi perasaan saya nggak pernah tuh, punya calon suami tukang akting kayak situ." Sindirku, "Kamuuuu!", "Huaaaam pegel juga ya, abis tenggelim orang dikolam. Kalau aja dilaut, pasti akan lebih seru. Jadi nggak sia-sia deh sakit pegel gue" Aku menguap, sengaja membuatnya marah. Dan mendapat respon langsung darinya, Azryan langsung beranjak dari kasurnya, dan memejokkan tubuhku didinding dengan mencengkram daguku. "Jika mulutmu sudah tidak berguna lagi. Bilang padaku, aku akan."
Ceklek, suara pintu terbuka. Azryan langsung merangkul pundakku, seakan aku tengah membantunya berjalan. "Eh kaliaaan, maaf ya jadi ganggu." Seru Maminya Azryan dan mau meninggalkan kami berdua, "Eh, enggak kok tan. Malah membantu banget." Aku tidak mau terus-terussan diajak berakting lagi dengannya. "Tan, Mama sama papaku mana?" Tanyaku, ketika tidak melihat kedua orang tuaku masuk. "Eeeeee, orang tua Fyo baru saja pulang."
Tumben maama sama papa pulang nggak bilang-bilang. Apa mereka ngancem papa sama mama lagi ya?
"Eee tan, kalo gitu Fyo pamit pulang dulu ya?", "Nggak boleh" Sahut Azryan, "Nak Fyoooo, sebaiknya kamu jangan pulang dulu ya? Biar nanti tante kasih tau orang tua Fyo." Seru maminya Azryan, seakan tak mau anak kesayangannya itu marah karena aku pergi. "Tapi tan, besok saya ada ujian nasional tan. Takutnya besok nggak bisa ngerjakan. Kalo Fyo nggak lulus gimana? Kan kasihan sama kak Azryan, jika harus nunggu Fyo lagi selama satu tahun." Ucapku sambil berjalan kearah Azryan, saat mentok diranjang Azryan. Aku melototinya, dan memberikan elusan mematikan buatnya. Lalu aku membalikkan tubuh, menghadap kearah maminya Azryan sedang berpikir. Setelah itu maminya Azryan berjalan kearah Azryan.
"Iyah Azryan, sebaiknya Fyo pulang dulu. Kasihan dia kalo besok nggak bisa jawab naskah ujiannya." Seru tante, "Baiklah, tapi Azryan yang nganter dia pulang." Seru Azryan membuat tante, paniknya bukan main. Setelah beberapa adegan yang telah ia peragakan. Akhirnya tante menyetujuinya, untuk mengantarkanku pulang kerumah. Dan membayar kamar VVIP itu? Karena Azryan tidak mau menginap dirumah sakit. Kenapa harus menginap? Orang dia cuma pura-pura sakit. Terbuang sudah, uang mereka. Hanya karena terlalu memanjakan anaknya.
Dijalan, kami memakai mobil orang tua Azryan. Karena mereka tidak mau anak kesayangannya ini kena masuk angin. Padahal disini, dia tengah menyalakan Ac mobilnya. Tidak ada pembicaraan diantara kami. Dia bungkam, aku pun juga begitu. Karena aku tidak mau mencari gara-gara seperti dia. Seperti orang yang nggak punya kerjaan.
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah. Dan saya berharap kalian bisa memberikan vote untuk cerita ini.