
(AZRYAN POV)
Setelah acara ulang tahun Fyo selesai. aku, papi dan mamiku kembali kerumah kami. Dirumah aku langsung merebahkan tubuhku diatas kasur. Dan kembali mengingat ucapan Fyo tadi.
Apa maksud dari perkataan Fyo, perjanjian apa yang ditagih papi pada papanya Fyo. Dan juga apa maksudnya dengan mengatakan, tidak ada gadis lain selain dirinya.
Tidak tidak tidak, tidak mungkin jika papi akan menikah lagi dengan Fyo. Tidak itu tidak boleh terjadi, Fyo itu milikku dan hanya aku yang boleh menyentuhnya. Biar aku tanyakan pada papi.
Aku beranjak pergi menemui papaku dikamarnya. Sungguh mengejutkan, aku bersembunyi dibalik dinding, dan menguping pembicaraan dua sejoli yang tengah asyik mengobrol dikamar.
"Pi, gimana tadi?", "Kata Aryo, dia mau pikir-pikir dulu", "Tapi piiiii, gimana kalo Fyo nikah sama laki-laki lain. Gimana sama nasib anak kita piiii. Apa papi mau anak kita bunuh orang lagi" Lalu papiku menaik turunkan pundaknya.
Apa? Ternyata mereka tau tentang kematian anak ingusan itu. Tapi siapa yang ngasih tau mereka? Apa jangan-jangan. Sial.
Aku langsung kembali kekamarku, dan mencari keberadaan ponselku. "Maaf tuan, saya dipaksa sama mami tuan" Ucap Raka seakan mengerti maksud dariku, Raka adalah tangan kananku yang saat ini, aku suruh untuk mengurus perusahaanku disana selama aku masih disini. Aku langsung mematikan telponku, lalu kulemparkan ponselku keatas kasur.
...----------------...
Pagi harinya, seperti biasa aku menjemput dan mengantar Fyo pergi kesekolahnya. Setelah sampai disekolahnya, aku langsung pergi kekantorku.
Tok tok tok, "Masuk" Ucapku, "Lapor pak", "Bicaralah" Sambil menulis dokumenku, "Kita mendapat laporan dari kasus kehilangan anak remaja kemarin" Aku langsung berhenti menulis, dan fokus menatap si lawan bicaraku.
"Ada seseorang yang melihat remaja itu dihotel ******** bersama dengan seorang pria yang lebih tua darinya. Umurnya sekitar 40-an keatas" Sambil memberikan tangkapan foto remaja itu yang tengah dipeluk oleh seorang Pria. Tapi sialnya tangkapan foto itu, diambil dari belakang. "Apa perlu saya siapkan" Ucapnya lagi, terpotong olehku.
"Tunggu dulu, kita tidak boleh gegabah seperti itu. Bisa jadi, foto yang ada didalam sini itu, bukan orang yang kita maksud" Ucapku sambil mengayun-ayunkan kursiku.
"Lalu apa yang harus kita lakukan pak", "Biar saya yang urus" Aku bangkit dari kursiku, dan pergi meninggalkannya. Aku menaiki motorku, dan pergi kehotel yang dia maksud. Tentunya dengan penyamaran yang cukup keren.
Aku masuk kedalam hotel itu, menunjukan kartu identitasku. Agar aku bisa leluasa mencari keberadaan remaja itu.
Pertama-tama aku meminta manajer hotel itu, untuk mengantarku keruang privasi rekaman cctv. Setelah itu, aku meminta pengawas cctv itu, untuk menunjukkan rekaman cctv sesuai tanggal yang aku beritahu.
"Berhenti, besarkan gambarnya", "Siapa gadis remaja itu?", "Dia penginap dihotel ini", "Lalu siapa pria yang bersamanya itu?", "Saya tidak tahu pak", "Baiklah, kalo gitu berikan data identitas dari gadis ini?" Lalu manejer itu meninggalkan kami.
Manajer itu kembali dan memberikan kartu identitas dari gadis ini. Dan ternyata benar dia adalah gadis remaja yang telah kami cari-cari selama ini. "Berikan aku kunci cadangan kamarnya", "Tapi pak", "Berikan, atau akan kupastikan hotel ini akan tutup sebelum 24 jam" Lalu menejer itu memberikannya padaku.
Aku liat dia sering kembali kehotel sekitar jam 23.44 wib. Baiklah, aku akan mengejutkannya nanti malam. Aku kembali kekantorku lalu menyuruh bawahanku untuk memberitahu orang tuanya, untuk menemuiku nanti malam sekitar jam 21.00 itupun tidak boleh lebih. Karena aku tidak mau waktu terbuang sia-sia hanya untuk menunggunya.
Aku menepikan motorku, dan memberhentikan laju motorku. "Kamu kenapaa?" Tanyaku sambil memegang tangannya, Asyiik menang banyaaak. "Hikkksss" Fyo masih menangis, "Baiklah, kamu puaskan dulu" Ucapku sambil memeluknya dan mengelus punggungnya. Menangislah Fyo, menangislah. Dengan sentuhanmu ini, kamu telah membuat hatiku tenang.
Entah baru sadar atau apa, Fyo tiba-tiba melepas pelukannyaa dengan tersentak. Lalu mengusap air matanya, "Aku mau pulang" Ucapnya. Dasar tak tau terima kasih.
Lalu aku kembali melajukan motorku, kembaali menuju rumah Fyo. Kami sampai dirumah Fyo, ada apa dengannya? Kenapa dia tidak mengucapkan selamat tinggal padaku.
Entah aku hari ini harus merasa bahagia karena dapat pelukkan dari Fyo, atau harus marah karena dia tak menyapaku.
...----------------...
Malamnya, "Pak apa anak saya sudah ditemukan" Ucap orang tua dari anak remaja itu, "Belum sepenuhnya, tapi saya punya kejutan buat kalian", "Kejutan?" Ucapnya tak mengerti.
Aku membawa kedua orang tuanya, beserta rekan kerjaku menuju hotel ********. Lalu aku menyuruh mereka masuk kekamar yang telah aku tunjukkan beserta kunci yang telah aku berikan. Dan memberi mereka instruksi yang telah aku rencanakan.
Sedangkan aku kembali ketempat ruang privasi rekaman cctv. Untuk mengawasi kedatangan gadis remaja itu.
Dan benar saja, aku melihat gadis remaja itu masuk kedalam hotel bersama dengan seorang pria yang sama, tepat pukul 23.11 wib.
Aku turun kelantai lima menuju kamar remaja itu. Kulihat remaja itu masih didepan kamarnya, dan mau membuka pintu kamarnya. Aku berjalan layaknya orang biasa.
Tepat didepan kamar remaja itu, aku berpura-pura mendapat telpon. Tak lupa dengan music yang aku putar hanya dengan menekan tombol sebelah. Karena itu untuk meyakinkannya.
Karena aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Anak remaja dinyatakan hilang sama orang tuanya, sedangkan anaknya malah asyik-asyikkan bergelayut manja dengan om-om. Dasar anak remaja sekarang.
"Mama" Plakkk, satu tamparan mendarat dipipi gadis remaja itu. Owhhhsss, kalo saja gadis itu adalah Fyo, dan posisi ibu gadis itu adalah aku, suami Fyo. Pasti sudah aku seret kedalam dan langsung menerkamnya tanpa memberinya jeda.
Dengan begitu, Fyo akan hamil. Dan itu bisa menguntungkanku dengan hasil yang aku tanam dalam dirinya. Dasar bodoh, kau nikahi Fyo dulu Azryaaaan. Baru kamu bisa nanem benih loooooh.
Hayalanku mulai pudar, ketika mendengar suara tangisan yang ada didalam. "Mamaaa, maafkan aku maaaa" Ucap gadis itu sambil memeluk kaki ibunya.
"Pak polisi, bawa gadis ini bersama dengan pacarnya itu kepenjara. Ini adalah perintah dari seorang ibu yang terluka dengan kelakuan dari anaknya" Lalu aku memberi aba-aba pada rekan kerjaku untuk membergol tangan dua sejoli itu.
Follow ig : fiy.ool
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.