
Dilain sisi Fyo tengah memotong wortel untuk dia masak. Tiba-tiba jari tenjuknya terkena pisau dan membuat jarinya mengeluarkan sedikit darah.
Kenapa tiba-tiba aku jadi kepikiran yah sama yang dirumah! Apa mungkin terjadi sesuatu dirumah. Coba biar aku telfon kak Fiyan dulu, siapa tau nanti langsung diangkat telfonnya.
Fyo bergegas mencuci tangannya, guna menghilangkan sisa-sisa darah yang baru saja menetes. Setelah itu ia pergi kekamarnya untuk mengambil ponsel miliknya dan mulai menelfon nomor whatsapp sang kakak. Namun tidak ia angkat, lalu ia memutuskan untuk menelfon telfon rumah.
...----------------...
Dirumah kediaman papanya Fyo, suasana yang tadinya cukup menegangkan, tiba-tiba berubah begitu saja. Setelah mendengar suara telfon rumah yang berkali-kali berdering.
"Wao... sebuah keberuntungan bagiku. Liat siapa yang menelfon kita hari ini." Seru Azryan yang membuat mereka jadi semakin takut.
Ia berdiri, lalu satu persatu bawahan Raka mengmbil pistol yang ada ditangan Azryan dan disusul satunya lagi melepas kaos tangan yang melekat ditangannya.
Azryan berjalan menuju telephone gengam yang masih berdering disana. Sedangkan kedua orang tua Fyo dan juga kakaknya, memohon untuk tidak mengangkatnya. "Tutup mulut mereka." Seru Azryan dan berjalan keatas menuju kamar Fiyan. Bukan karena tanpa alasan, melainkan membutuhkan sebuah komputer untuk digunakannya melacak keberadaan Fyo.
"Hallo. Hallo?" Panggil Fyo yang masih tidak mendengar jawaban dari telpfon rumah.
Kenapa tidak ada jawaban, jelas-jelas disini masih tersambung.
Setelah mendapatkan lokasi yang ia cari, Azryan mematikan telfonnya secara tiba-tiba. Membuat yang bersangkutan merasa ada yang janggal, lalu ia kembali menelfon lagi. Namun tidak ada yang mengangkatnya.
Kok aku jadi semakin takut ya! Apa jangan-jangan memang terjadi sesuatu dirumah.
Sebelum ia pergi, ia memberikan salam perpisahan untuk kedua orang tua Fyo dan juga kakaknya tentunya, karena ia tak mau melewatkan ekspresi kesedihan Fiyan yang mengingatkannya dulu, saat ia dibully olehnya. "Jaga mereka disini, aku akan pergi menemui calon ibu dari anankku. Ingat! Jangan sampai ada tetangga yang tau tentang ini dan buatlah suasananya seperti normal atau... Kalian juga bisa berpesta disini agar bisa menutupi semua ini. Selamat tinggal calon kakak ipar.... Salam buat om dan tante."
Disurabaya, tepatnya didepan apartemen yang Fyo tinggali. Azryan bertanya pada salah satu penghuni apartemen tempat ini. "Maaf, apa ibu tau wanita ini tinggal? Dia istri saya, dia sedang mengandung 3 bulan. Istri saya kabur, karena saya tidak mampu membelikan dia mobil. Jadi, saya kesini bermaksud mengajak dia kembali pulang kerumah."
"Apa? Nggak nyangka yah, gadis yang kita anggap baik ternyata matre. Wajahnya aja yang lugu ternyata dalamnya busuk." Seru ibu itu pada ibu-ibu yang disebelahnya.
...----------------...
Dikamar, Fyo tengah mengemasi barang-barangnya buat ia bawa pulag kembali ketempat ia tinggal. Setelah itu, ia kembali kedapur mematikan kompor yang baru saja ia buat masak sayur sop. Lalu menyiapkan peralatan makan, serta makanan yang mau ia makan. Baru saja ia mau menyantap makanan yang baru saja ia masak, tiba-tiba bell pintu berbunyi. Ia pun bergegas menemui orang itu.
"Mau apa kamu kesini?" "Tentu saja menjemput calon istriku ini." Jawab Azryan seraya memegang dagu Fyo, dan itu membuat Fyo merasa jijik padanya.
"Coba kita lihat... Seperti apa kandang yang calon istriku tinggali." Azryan yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Maksud kamu apa bilang seperti itu! Pertama kamu masuk tanpa seizinku, lalu memanggilku dengan sebutan calon istrimu, maksud kamu apa hah?"
Azryan tidak memperdulikan ucapan Fyo, ia malah celingak-celinguk, kesana-kemari, mengecek isi apartemen Fyo. Fyo merasa geram dengan pria satu ini, ditariknya tangan Azryan menuju ruang tamu. Membuat yang bersangkutan malah tersenyum padanya. Fyo bingung dengan prilaku Azryan yang menurutnya aneh, dia mengusirnya tapi Azryan malah tersenyum.
"Bilangnya benci, tapi apa ini. Kau barusan nyentuh tanganku loh..." Lalu Azryan kembali meneruskan perjalannya mengecek semua isi apartemen Fyo. Tepat sampai didapur, lebih tepatnya lagi didepan meja makan. Azryan langsung duduk menggantikan tempat Fyo makan tadi. Fyo yang mengerti maksud Azryan, langsung mengambil makananya.
"Hei... Calon suami mau makan. Apa seperti ini caramu melayani calon suamimu?" "Hei... Memangnya siapa yang mau menikah denganmu, kamu itu tidak lain adalah seorang pengecut yang lari disaat seorang gadis sepertiku hamil diluar nikah karenamu."
Brak~ Azryan menggebrak meja makan, lalu berdiri mendekati Fyo. Dia mencengkram kuat dagu Fyo, sehingga membuatnya sedikit kesusahan bernapas. Ia melepas cengkramannya ketika melihat air mata yang Fyo keluarkan mengenai tangannya. Fyo mengambil nafasanya dalam-dalam, lalu lari kedalam kamarnya karena merasa ketakutan.
Sesampainya dikamar, ia menguncinya pintunya dan mulai mencari keberadaan ponselnya, hendak menelfon kakaknya. Ia terduduk dan bersandar ditepi ranjangnya.
Papa, Mama, tolong Fyo. Fyo takut... Hiks hiks. Guman Fyo sambil mencoba menelfon telfon rumah, tapi hasilnya masih tetap sama tidak ada yang mengangkatnya dan itu membuatnya jadi semakin takut. Ditambah lagi suara gebrakkan yang Azryan perbuat, yang mau membobol pintu kamarnya.
Fyo tak mau hilang akal, ia berlari mengambil meja kecil yang ada disamping ranjang. Dimana meja itu digunakan untuk menempatkan lampu tidur disitu. Fyo menggesernya kearah pintu untuk menahan pintu tersebut sambil ia duduki guna menambah beban yang akan membuat meja itu semakin kuat menahan beban dorongan.
"Hei gadis bodoh, buka pintunya. Saya tidak akan apa-apain kamu, saya hanya perlu membawamu pulang menemui mamaku. Cepat keluar, atau aku akan merusak pintu kamarmu ini!" Seru Azryan sambil menendang-nendang pintu tersebut.
Karena merasa ada getaran dimeja, perutnya merasa tersentak dan membuat perutnya terasa sakit. Ia pun berjalan kekasurnya sambil meringis kesakitan, karena tidak taha ia berteriak kesakitan. Saat ia melihat kebawah, betapa terkejutnya ia ketika melihat darah yang mengalir dikakinya. Ia meraung menagis kesakitan dan membuat Azryan merasa khawatir.
Didobraknya pintu kamar tersebut membuatnya jadi terbuka. Dia mencari sumber suara tersebut, dia terkejut melihat darah yang mengalir dikaki Fyo. Lalu bergegas membopong tubuh Fyo menuju rumah sakit terdekat.
Fyo menangis kesakitan, membuat Azryan jadi semakin khawatir. Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Tunggu sebentar, sebentar lagi kita sampek. Kamu tahan dulu yah..." Azryan mencoba menenangkannya sambil menggenggam tangan Fyo. "Sakit... Hiks. Aku mau mama, tolong panggilkan mama... Hiks."
"Tapi mama kamu jauh Fyo... Nanti aku suruh Raka antar mama kamu ya? Kamu sekarang bertahan. Kamu, kamu jangan menangis seperti itu. Kamu membuatku jadi semakin khawatir sama takut takut tau nggak sih!" Seru Azryan tanpa ia sadari.