I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 19



Mendengar ucapan Nino membuatku bangkit. Penuh percaya diri naik keatas tangga perosan tinggi ini. Setelah sampai, aku duduk melihat semua orang yang ada dibawah. Mereka menatapku tak sabar menunggu suara teriakan-teriakan khas dari orang yang tengah ketakuttan.


Buyar, pikiranku mulai membuyar kala melihat kesamping bawah. Rasanya kepalaku mulai pusing pandangku seakan berdenyut-denyut. Membuat nyaliku kembali menciut. Tiba-tiba dibelakangku ada seseorang yang duduk mengangkangiku, lalu memegang tanganku. Membuatku teringat akan satu hal.


Senyumku kini mulai mengembang. "Nino." Saat aku menengok kebelakang, ternyata aku salah dengan berpikir bahwa kak Randy yang tengah membantu melawan rasa takutku sama seperti dulu, "Fyo" Panggil Nino membuyarkan lamunan, "Apa kamu udah siap?" Tanya Nino. Aku menggeleng-nggelengkan kepalaku, rasanya moodku hilang. Karena selalu berfikir bahwa kak Randy yang selalu ada disampingku.


"Fyo" Panggilnya lagi dan membuyarkan lamunanku. Karena lagi-lagi aku kembali melamum, "Baiklah, kalo kamu masih takut. Kita turun saja, dari pada nanti kamu jadi trauma. Ayo!" Ucap Nino, membuatku merasa bersalah. Karena dari aku selalu mencuekkinnya.


Ayo Fyo! Lupakan Kak Randy, dia sudah udah mutusin lo. Kenapa lo harus mengingat-ngingatnya. Lupakan dia dan cari yang baru.


Saat Nino udah mulai berdiri dari tempat duduknya, aku menarik tangannya agar dia kembali duduk seperti semula, "Kamu mau kemana? Kamu mau aku main perosotan sendirian disini. Kalo nanti dibawah aku digodain cowok gimana? Kamukan harus menjagaku, karena kamu yang mengajakku pergi." Terlihat dari wajah Nino yang sebelumnya murung karena kesal. Sekarang kembali sumringah dan kembali duduk seperti semula.


"Sebelum kita merosot kebawah, kamu harus janji! Nanti kalau aku tenggelem terus pingsan. Kamu harus janji nggak boleh ninggalin aku, apa lagi biarin aku pingsan dikerumungin banyak orang", "Iya-iya, bawel", "Aku beneran."


Srooooot, Nino membuatku kaget dengan memberikan dorongan pada tangannya. Dan membuat kami terjun kebawah. "Aaaaaaaa." Teriakku, rasanya jantungku berdetak sangat kencang, ditambah lagi dadaku seakan teriris, merasakan tubuhku seakan jatuh dari ketinggian beberapa meter.


Byuuur, "Uhuk uhuk uhuk" Batukku kala air kolam itu, tak sengaja masuk kedalam rongga mulutku alias ketelan. "Fyo, kamu nggak papakan?" Tanya Nino, dan hanya batukku yang bisa menjawab.


Nggakpapa gimana? Orang keselek air kolam gini kok malah ditanya. Ya ampuuun, gimana niiih? gue nggak sengaja minum air kolam. Bismillaahirrohmaanirrahiim semoga airnya halal, Amiiiin.


Lalu Nino membantuku berjalan dibawah perosotan, karena disitu tempatnya sunyi. Dan hanya ada beberapa orang yang tengah asyik mengobrol dengan pasangannya. Nino menyuruhku duduk dipahanya seperti orang yang tengah memasang kuda-kuda bak pelatih silat. Dia mendudukkanku dan melai menggebuk-nggebuk pundakku, mungkin agar beberapa air kolam itu keluar dari rongga mulut.


Benar saja beberapa menit kemudian. Air kolam itu keluar dari mulutku. Pantas saja perutnya kotak-kotak, orang dia ikut pelatihan pencak silat. Karena udah bisa dilihat dari gerakannya, pertama kuda-kuda, kedua gerakan tangan yang menyilang-nyilang pundan dan juga punggungku.


Karena merasa capek aku dan Nino kembali istirahat dibawah perosotan. Meskipun begitu, aku masih tetap bermain dimen. Sedangkan Nino duduk diatas tepi kolam sambil menatapku dengan senyuman manisnya. "Fyo" Panggil Nino tiba-tiba dan turun mengahampiriku tepat didepanku, sambil memegang kedua tanganku. Sehinggaku membuat salah tingkah dengannya. "I iyah, kenapa ya No. Oooh, kamu mau pulang ya? Kalu gitu aku pergi siap-siap." Aku hendak melepaskan tangannya, namun Nino tidak mau melepaskanku "Jangan-jangan, jangan."


Ada apa dengan Nino? Kenapa dia seperti ini? Ini membuatku sangat tidak nyaman dengannya.


"Fyo" Panggilnya lagi, "I iyah" Ucapku gugup, Nino menghirup udara banyak-banyak. Seakan bersiap-siap untuk menerima konsekuensinya. "Fyo, aku tau jika kamu ingin marah. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Ini adalah yang kelima sekaligus untuk yang keterakhir kalinya. Tolong jangan membuatku terluka sekaligus kecewa. Jika waktu itu aku menembakmu lewat Sahabat baikku dan juga sahabat baikmu, bahkan lewat kertas kecil yang aku taruh dibukumu, bahkan juga dikado ulang tahunmu. Dan sekarang aku memberanikan diri dengan berhadapan langsung dengan kamu. Maukah kamu menjadi pacar sekaligus calon ibu dari anak-anakku nanti?" Kata-kata Nino membuatku tersentuh, sekaligus kasihan jika dia, lagi-lagi harus kecewa.


Baiklah, mungkin ini sudah waktunya aku melupakan kak Randy. Tapi niatku akan tetap sama, aku akan mencari kak Randy sampai kak Randy memberikan penjelassan padaku.


Aku mengangguki Nino dengan tersenyum, meskipun hatiku sebenarnya tidak ingin. Begitu Bahagianya Nino ketika mendapat jawaban dariku. Jauh sebelumnya, ketika aku menolaknya. Dia kecewa denganku dan pergi meninggalkanku, sehingga membuatku merasa tidak dengannya. Namun, bukan Nino namannya jika tidak bisa mendapat apa yang ia suka. Dia pantang menyerah sebelum aku berkata iyah.


"Fyo, apakah aku sedang bermimpi?" Tanyanya padaku, "Menurutmu?", "Maukah kamu menyadarkanku dari mimpimpiku?", "Caranya?"Tanyaku bingung, tingkah Nino sangat aneh tapi lucu. Aku belum pernah lihat Nino seperti ini. "Tolong cubit pipiku" Lalu aku mencubitnya dengan sangat keras, "Shhh Au" Pekiknya. Dan tiba-tiba saja, Nino teriak keorang-orang yang tengah asyik berkencan dibawah masing-masing perosotan.


"Aaaaa aku mencintaimu Fyoooooo, aku sangat-saangat mencintai kamuuuuuu", "Nino, Nino hentikan. Aku malu dilihat sama orang-orang" Panggil menghentikan tingkah Nino. Nino menghampiriku dengan perasaan bahagia. Dan tiba-tiba Nino memelukku dengan berkata, "Aku mencintaimu Fyoooo, aku saaaaangat-sangat mencintaimu" Ucapnya berulang-ulang. Sehingga membuatku bersalah dengannya, bagaimana bisa aku melupakan kalo aku akan menikah setelah ujian kelulusan nanti.


Aku melepaskan pelukan Nino padaku dan memegang kedua tangannya, sehingga membuat Nino merasa aneh padaku, "Nino, aku ingin bicara serius sama kamu. Aku harap kamu tidak memotong ucapanku." Entah kenapa rasanya tidak enak jika harus bicara seperti ini padanya. Tapi satu hal yang pasti, karena ini demi kebaikkan dia.


"Aku mau kita menyembunyikan hubungan kita dari orang lain. Jika sampai kamu memberitahukan pada orang lain, baik itu disengaja maupun tidak. Maka, mau tidak mau hubungan kita akan berakhir tepat disaat kamu memberitahukan pada mereka. Aku tau jika ini tidak adil buat kamu. Tapi ini demi kebaikan kita berdua. Kelak kamu akan tahu! Apa alasannya aku melakukan ini. Berjanjilah! untuk tidak memberitahukan pada orang lain."


Follow ig : fiy.ool


Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah. Dan saya berharap kalian bisa memberikan vote untuk cerita ini.