I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 27



"Oooh, sekarang kalian punya nyali juga ya ternyata." Ujar maminya Azryan, berlagak sok angkuh.


Tangan Fyo terkepal kuat ketika mendengar perkataan maminya Azryan. Seakan menganggap orang tuanya itu lemah. Fyo bangkit dari kasurnya dan berjalan mendekati maminya Azryan. Bersiap untuk mengumpulkan nyali sebanyak mungkin. Dan juga bersiap untuk menerima resiko yang nanti ia tanggung, karena ia sudah merasa muak dengan sikap kedua orang tuanya Azryan. Ia pun mulai mengangkat bicara.


"Asal tante tau aja! Kalo saja, kalian tidak mengancam orang tua Fyo. Fyo tidak akan pernah menerima perjodohan ini! Dan apa yang tadi tante bilang? Punya nyali! Yah, orang tua Fyo memang punya nyali, mereka nggak lemah seperti anak kalian. Terutama sama om Bram, aku tidak tau kenapa mama menganggap kalo om Bram itu adalah sahabatnya papa. Padahal dia sama sekali tidak menunjukkan sikap layaknya seorang sahabat. Melainkan penjahat, yang ingin selalu dihormati dan yang suka mengancam-ngancam hidup orang. Aku tidak tahu, sebenarnya ancaman apa yang membuat papaku sampai tunduk dengannya." Ujar Fyo yang sudah naik pitam sambil memandang kedua orang tua Azryan penuh kebencian. Dimana kebencian yang selama ini ia pendam, ia lampiaskan langsung pada mereka berdua. Fyo sudah tidak peduli lagi dengan konsekuensi yang nanti ia dapatkan.


"Dan satu lagi! Dimana anak kalian yang brengsek itu. Heh, pria macam apa dia! Bukannya datang jenguk. Dan bertanya, apakah yang dia tanam berhasil tumbuh atau enggak? Dia malah gak berani nunjukkin mukanya." Seru Fyo lagi, niat mau mengadu kelakuan anaknya pada orang tuanya. Bukannya dapat perwakilan minta maaf dari orang tuannya, malah dapat respon buruk dari mereka.


Plak, satu tamparan mendarat dipipi kiri Fyo. Fyo terdiam sambil memegang pipi kirinya. Pandangannya tak lepas dari lantai yang barusan ia tangkap. Akibat dari tamparan keras yang ia dapatkan dari maminya Azryan. Berkali-kali ia mengesek-nggesekan giginya, tapi mulutnya tertutup rapat. Itu menunjukkan bahwa kali ini dia benar-benar marah.


"Apa sudah cukup bicaranya? Jangan kamu pikir! Mentang-mentang suami saya selalu mengancam papa kamu. Kamu bisa menuduh dan menginjak-nginjak harga diri anak saya yah!" Bentak maminya Azryan penuh penekanan, sambil memaju mundurkan jari telunjuk yang ia arahkan pada Fyo.


Bukan Fyo namanya, jika tidak membalas perlakuan orang lain terhadap dirinya dan juga orang tuannya. Suasana yang begitu menegangkan kian berubah menjadi ketidak mengertian. Karena melihat Fyo yang tertawa begitu keras setelah mendapat penekanan dari maminya Azryan.


Ada apa dengan gadis ini. Apa dia sudah gila, gara-gara dia hamil diluar nikah? Batin maminya Azryan.


"Hahahaha, tanteee tante. Emangnya siapa yang mau main-main dengan masa depan. Memang benar dia yang telah melecehkan saya. Dia bahkan, yang telah membawa Nino kepenjara. Cuma gara-gara dia cemburu, dia berani memperkosa saya. Apa itu tidak bisa disebut dengan pria brengsek? Oh, mungkin maksud tante. Saya harus panggil dia ituuuuu, eeem apa ya? Ooo yah, pria cabul. Ya ya ya yah, pasti tante mau saya panggil dia itu pria cabul, ya kan?"


Plak, Lagi-lagi Fyo mendapat tamparan. Ia mendapat tamparan disebelah pipi kanannya. Kebayangkan? Gimana rasanya dapat tamparan 3 kali. Pasti itu sangat sakit sekali bukan? Udah dapat makian, dapat tamparan juga. Apa lagi yang nampar adalah calon mertuanya. Sungguh menyakitkan, belum juga sah menjadi menantu dikeluarga mereka, tapi mereka sudah berani main tangan dengannya.


Perlakuan maminya Azryan terhadap sang putri kesayangan, mengundang amarah yang bergejolak dihati kedua orang tua Fyo. Dimana mereka yang sedari tadi diam melihat putrinya dimaki, kini mulai angkat bicara. Karena menurutnya, calon besannya itu sudah melakukan hal diluar batas.


"Itu benar, apa seperti ini cara kalian memperlakukan anak kami hem? Dia calon mantu kalian, dan apa yang telah kalian lakukan. Jika kalian seperti ini, saya tidak yakin! Jika harus meneruskan acara pernikahan anak saya dengan anak kalian itu." Ujar mamanya Fyo, yang sudah tidak tega melihat anaknya yang berjuang mati-matian demi membela harga diri mereka.


"Baguslah, lagi pula saya juga sudah menyuruh anak saya kembali kerumahnya dijakarta. Dan kalian juga perlu khawatir, masalah kerugiannya. Karena kami yang akan tanggung semua kerugian itu." Seru maminya Azryan sambil menyobek sebuah kertas cek kosong.


Fyo tidak menyangka dengan apa yang barusan ia lihat. Maminya Azryan membuang cek itu didepannya, dan pergi meninggalkan kami. Fyo diam tak berkutip. Hati yang sebelumnya merasa lega, meskipun hanya beberapa detik saja. Setelah mendengar pernikahanya dibatalkan. Kini mulai berubah, hanya dalam beberapa detik, kedua orang tua Azryan menghancurkan hargAzryannya dan juga kedua orang tuanya.


Ia mengambil cek itu dilantai dan berlari mengejar kedua orang tua Azryan, yang masih belum jauh dari kamarnya. Kedua orang tua Fyo hanya bisa pasrah, setelah mendengar acara pernikahan anaknya dibatalkan. Mereka bingung dengan nasib anak yang telah dikandung oleh anaknya kelak.


"Berhenti kalian!" Pintah Fyo, pada kedua orang tua Azryan. Mereka pun menoleh kebelakang, sambil menunggu Fyo datang menghampirinya.


Fyo menyobek-nyobek cek kosong itu, berkeping-keping didepan mereka. Sehingga membuat mereka seakan tak percaya. Diluar sana, masih ada banyak orang yang menginginkan cek kosong itu. Tapi apa yng dilakukan Fyo? Dia menyobek-nyobeknya hingga berkeping-keping.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" Tanya maminya Azryan, tapi Fyo malah terus menyobek cek kosong itu hingga berkeping-keping.


Fyo meleparkan kepingan-kepingan kertas itu didepan mereka berdua. Sehingga membuat mereka kesalnya bukan main. Berbeda dengan Fyo yang masih menatapnya datar. Beberapa menit kemudian, kedua orang tua Fyo menhampirinya. Mereka tidak menyangka dengan apa yang telah dilakukan oleh putrinya sendiri.


"Dengar ya kalian! Kami sama sekali, tidak butuh uang dari kalian. Kalau pun tak dikasih, kami masih bisa membayarnya dengan uang kami sendiri." Seru Fyo sambil mementikan ibu jarinya dengan jari lainnya.


"Dan aku kasih tau kalian juga. Saya tidak memaksa kalian buat percaya, kalo anak yang ada didalam kandungan saya ini adalah anaknya Azryan. Asal kalian tau saja, saya juga tidak mau. Kalo anak saya ini tau, kalo ayahnya adalah seorang pengecut, tidak tau diri dan juga tidak tau malu. Saya berharap suatu kelak nanti, anak saya tidak akan pernah menemui seorang pengecut seperti anak kalian."