
"Maaf, apa saya boleh pergi sekarang? Kalo kalian masih lama, biarkan saya pergi atau kalo nggak ya.... Setidaknya saya berangkat kesekolah bisa tepat waktu. Itu jika kalian mau melepaskan saya dan membiarkan saya berangkat kesekolah dengan tenang."
Bukannya menjawab mereka malah mencueki ku, itupun hanya melihatku sekilas saja. Sungguh, ini sangat menguji kesabaranku.
"Kamu awasi saja para pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas." Titah Azryan, "Siap pak! Tapi dari tadi saya sudah mengawasinya!" Elak Rekannya sambil mengayunkan dagunya kearahku.
Bukan main... Baru kali ini saya lihat polisi songong kayak mereka berdua.
Sebisa mungkin aku menahan tawaku dengan menutup mulutku menggunakan jariku, sedangakn yang tangan kiriku memikul beban tangan kananku.
Sekilas Azryan menatapku, mungkin karena ia merasa dipojokkan. jadi ia merasa kesal, terlihat jelas dari raut muka dan juga tangannya yang mengepal. Sedangkan rekannya itu tidak menyadarinya, aku heran kenapa dia begitu sangat marah hanya karena rekannya melihat wajahku yang katanya menggemaskan ini.
"Sekarang kamu saya hukum. Hukuman pertama kamu harus menyanyikan lagu kebangsaan." "Gitu doang? Aku juga bisa kali pak." Aku langsung menyanyikan lagu kebangsaan sesuai dengan perintahnya.
"Ehem, pak gimana kalo yang kedua nanti aja? Soalnya ini udah mau siang, takutnya nanti nggak bolehin masuk kekelas. Nanti jadi Triple kill lagi.", "Pak, kayaknya dia ini penggemar game yang lagi viral itu deh, game yang itu tuh yang kayak perang-perang. Mungkin saja dia telat karena habis bergadang buat menangin pertandingannya?" Bisik rekan kerjanya ke Azryan dan diangguki oleh Azryan.
"Kalau gitu kamu bawa motornya kekantor dan suruh mereka menggantikanku." Titahnya dan itu membuatku kaget dan langsung merangkul setir motorku.
"Enak aja, mau main bawa-bawa motor saya!", "Bawa!" Sambil mengayunkan dagunya, "Nggak boleh!" Sambil mempererat rangkulanku, "Jangan dengerin dia.", "Siap pak!" Dengan sigap rekannya menaikki motorku dengan paksa.
Karena posisi motorku sudah tidak aman lagi, aku langsung mencabut kunci motorku agar rekannya Azryan itu tidak bisa membawa motorku.
"Pak kuncinya?" Bukan main... Dengan beraninya si Azryan merangkulku dan hendak meraih tanganku yang masih memegang kunci motorku. Tapi bukan aku namanya kalo tidak bisa mencari cara, aku langsung menaikkan tanganku keatas agar Azryan tidak bisa meraihnya. Namun ternyata aku salah memperkirakannya, tinggi badan dia lebih tinggi dari saya. Jadi, dengan cepat ia langsung meraih tangan saya dan menahan tanganku kebelakang pungguku bak tahanan yang mencoba kabur.
"Jangan, saya mohon jangan bawa motor saya. Nanti saya kesekolahnya gimana? Pak Saya mohon hentikan dia. Tunggu, jangan bawa motor saya. Berhenti! Berhenti! Pak saya mohon hentikan dia... saya mohon!" Aku mencoba memohon pada Azryan, tapi dia tak menghiraukanku meskipun aku menangis sambil meronta-ronta meminta tuk dilepaskan tapi hasilnya masih tetap nihil. Dia baru akan melepaskanku ketika motorku sudah tak terlihat dari pandangaku.
"Ini menjadi peraturan dalam hukum. Jika sudah tau salah kenapa harus lari dari kami."
"Peraturan? Peraturan apa hem katakan. Peraturan apa? Saya sudah menjalankan hukuman saya, tapi bapak masih membawa motor saya. Maksud bapak apa? Dengan menyita motor saya! Sama saja bapak menghukum saya dengan hukuman orang dewasa. Apa bapak tau itu!"
"Peraturan tetaplah peraturan. Jadi ada baiknya jika kamu selalu manaatinya."
"Sudahlah pak! Saya muak dengerinya." Begitulah cara mengahadapi orang yang tidak bisa memberikan keadilan. Aku akan memakinya walaupun dia lebih tua dariku. Ya... tidak tua-tua amat juga sih, palingan juga seumuran sama kakakku.
Aku pergi meninggalkannya dan berjalan kaki menuju sekolahku dengan perasaan campur aduk. pengen nangis tapi ya... percuma! Motornya juga nggak akan kembali toh.
"Ayo naik." Ternyata Azryan membuntutiku dari belakang dan menyuruhku naik kemotornya. "Nggak usah, saya bisa jalan kaki sendiri", "Saya bilang naik ya naik!", "Eh pak! Kok pak polisi maksain saya sih. Kalo pak polisi niat bantu saya! Mendingan pak polisi bawa deh, motor saya kesini."
"Saya hitung sampai lima, jika kamu nggak naik. Saya akan tinggalin kamu sendirian disini dan jangan harap kamu akan mendapat pertolongan dari saya kalo ada apa-apa."
Dengan ketus aku menaikki motornya. Yeah! Pada dasarnya aku juga membutuhkan tumpangan buat pergi kesekolah.
...----------------...
Azryan pov-
Akhirnya, aku telah menemukannya. Adik dari musuhku sekaligus kekasih dari musuhku juga. Akan kupastikan kalian akan membayar semua kesalahan yang telah kalian perbuat.
Randy... kamu salah dengan memilih kematianmu sendiri. Apa kamu pikir saya tidak akan tahu sumber kelemahan dari Fiyan! Kamu salah! Aku berjanji, tidak akan membiarkan kamu pergi dengan tenang.
Fyo pov-
"Kenapa masih diam? Ayo jalan!" Seruku kala melihatnya yang masih tak melajukan motornya.
Siapa dia? Bagaimana dia bisa tau lokasi sekolahanku, padahal aku belum memberitahu tempat sekolahanku!
"Tunggu! Bagaimana pak polisi bisa tau, kalo saya sekolah disini?" Aku langsung melontarkan pertanyaan untuknya, setelah turun dari motornya.
"Kamu lihat logo yang nempel diseragam kamu?" Aku langsumg melihat logo sekolahanku ini. Bodoh sangat bodoh, bagaimana aku bisa lupa kalo dia itu polisi. Malu! itulah yang kurasakan.
"Lagian ini bukan kali pertamanya saya datang kesini. Sekarang mendingan kamu masuk dan belajar yang rajin, buat negara kita bangga sama kamu. Jangan tau merusak saja!"
Betapa sakitnya aku, kala mendengar kata terakhirnya. Saat menyalakan motornya dan hendak pergi meninggalkanku.
Tunggu! Kalo motorku disita, terus nanti aku pulangnya naik apa?
Baru saja ia menekan pedal motornya, aku langsung menghadang motornya. "Saya mau pinjam ponsel pak polisi!", "Buat apa?"
"Pak polisi ini gimana sih! Motor saya kan bapak sita. Terus nanti saya pulangnya naik apa? Masa saya pulangnya jalan kaki! Sebelas kilometer lagi. Lagian bapak sih pakek sita-sita motor saya segala, dimana-mana yang namanya pelajar cukup diberi hukuman menyanyikan lagu kebangsaan udah, selesai! Enggak kayak bapak yang kasih hukuman double-double."
"Udah bicaranya?" Azryan melajukan motornya, sedangkan aku terkejut melihatnya pergi setelah aku bicara panjang lebar.
Emang dasar tuh polisi, mungkin dia bukan polisi sungguhan. Lihat aja gayanya dah sombong, angkuh, sok ganteng dan juga main kasih hukuman seenaknya lagi.
"Azryan Xie.... Aku membencimu..." Teriaku, "Neng. Sok atuh masuk, saya teh... Mau nutup pisan gerbangnya." Panggil pak satpam yang menjaga gerbang sekolah ini.
"Oh iya mang, maaf." "Iyah neng nggak papa. Sok atu masuk." Dengan perasaan malu aku masuk kedalam sekolah, melewati mang darma yang gendak menutup gerbng sekolah.
Setelah sampai didalam kelas, aku langaung duduk dan tidur diatas meja yang beralaskan tas sambil merangkulnya.
"Lo kenapa Yo?" Tanya sahabatku Dea. Dea Damayanti, aku biasa memanggil Dea dengan sebutan Yaya. Begitu pula sebaliknya, Dea memanggilku dengan sebutan Yoyo. Yoya, Yoyo dan Yoya. Yah... Meskipun terlihat seperti kekanak-kanakan, tapi kami sama sekali tidak mempermasalahkannya kok. Karena julukan kami ini sudah dirilis sejak kami masih kecil. Yah... Kira-kura waktu kita masih Tk lah dan ibi kami lah yang telah membuatkannya.
"Gue sebel sama tuh polisi, masa pinjam ponselnya aja nggak boleh. Habis itu motor gue disita lagi!"
"Lah lo sih, udah dibilangin jangan ngebut-ngebut bawa motornya, masih aja ngebut." "Kok lo jadi belain dia sih! Lagian dia bawa motornya juga ngebut." "Lah diakan yang punya motor. Yah... terserah dialah mau ngebut apa nggak!" " Sama aja bodoh."
"Udaaaah ayo kita pergi apel" Kami pergi menimggalkan kelas dan pergi menuju halaman sekolah untuk melakukan apel. Setelah itu, kembali kekelas dan melakukan kegiatan pembelajaran.
Beberapa jam kemudian, bel istirahatpun berbunyi. Aku dan Dea pergi kekantin sambil memesan makanan buat menngganjal perut kami. Lalu mencari duduk yang lebih nyaman dan jauh dari jangkauan siswa-siswi disini, karena aku dan Dea tidak menyukai kebisingan.
"Wiiiiih, enak nih." Tiba-tiba seseorang datang bersama dengan kawannya, lalu mengambil alih makanan Dea dan menyantapnya tanpa seizin darinya, sehingga membuat Dea cemberut kesal. Yeah! dia adalah Riko, kekasihnya Dea. Orangnya agak ganteng dan sangat perhatian pada Dea. Dibilang sih, bisa iya bisa enggak. Itu karena Riko selalu deketin para siswi disekolah, ketika Dea ngambek padanya, tapi cintanya tetap untuk Dea.
Dan yang ada disampinya Riko adalah Nino Rafardhan. Nino adalah sahabat Riko dan otomatis juga menjadi sahabat kami. Dia baik, pintar dan selalu mendapat peringkat 1 dikelas 9-IPA. Kami berbeda kelas Aku dan Dea dikelas IPS, sedangkan Nino dan Riko dikelas IPA. Nino itu tampan meskipun bermata empat alias berkacamata. Tetapi, itu tidak menunjukkan wajah seperti anak cupu yang lainnya melainkan makin menunjukkan wajah ketampanannya. Aku dan Nino selalu dijodoh-jodohkan oleh mereka. Tetapi itu tidak membuatku jadi terpancing dengan ucapan mereka, berbeda dengan Nino yang selalu mengharapkan balasan dariku.
"Kamu kesekolah naik apa? Kok tadi aku nggak liat motor kamu." Ucapan Nino membuatku teringat kembali dengan motorku, "Motor Yoyo, disita ama polisi katanya." Sahut Dea, "Oh ya! Terus kamu nanti pulangnya gimana?" Aku menaik-turunkan pundakku, karena aku memang tidak tau pulangnya gimana.
"Sama aku aja, gimana?" Tawar Nino, "Udah terima aja, sekali-kali." Sahut Dea dan Riko. Aku menggangguk pasrah, karena tidak punya pilihan lain lagi.
"Cieh..." Dea dan Riko kompak menyorakiku, seolah-olah aku telah menerima cintanya Nino. "Tuh kan, kalian..."
"Udaaah, mendingan kalian jadian aja. Yoyo itu bakal beruntung punya cowok kaya Nino. Udah baik, pinter, nggak pernah godain cewek lain dan juga perhatian." Sindir Dea pada Riko, sedangkan Riko pura-pura tidak dengar dan malah menyantap makanan Dea.
Follow ig : fiy.ool