
Ketika aku mendengar suara motor Azryan, aku langsung pamit berangkat kesekolah. Aku keluar dan menghampiri Azryan. Aku menarik paksa helmnya, lalu naik kemotornya tanpa berkata apa-apa. Kami berangkat kesekolahku tanpa membuka pembicaraan sama sekali.
Aku langsung masuk kekelas, aku lihat dikelas sudah ada Dea. Entah kenapa rasa kesalku langsung hilang saat bertemu dengan Dea. Mungkin karena aku terlalu khawatir dengan keadaannya saat ini.
"Yoyo" Panggil Dea, aku menghampirinya dan duduk disebelahnya dengan muka cemberut, "Kamu kenapa?", "Lama-lama aku kesel dengan ucapannya. Kemarin bilangnya gitu, sekarang malah nggak kayak begitu", "Siapa? Azryan", "Iyah, siapa lagi kalo bukan dia", "Udah-udaaaaah, emangnya dia bilang apa? Sampai-sampai sahabatku ini jadi kesal kayak gini" Ucapnya, lalu aku menceritakan semuanya pada Dea. Dari aku menguping pembicaraan papa dengan om Bram sampai penerimaan dari Azryan.
"Apa? Kamukan masih sekolah", "Tau tuh papinya Azryan, masa aku yang masih sekolah ini. Harus berikan cucu padanya" Aku tidak sadar dengan ucapanku sendiri yang terlalu kebawa emosi, sehingga membuat Dea jadi bersedih.
"Ya Yaya, Yaya maafin aku. Aku nggak ada maksud buat" Ucapku terpotong, "Enggaaaak, nggak papa kok. Lagian aku juga salah kok, dengan bertanya seperti itu kekamu", "Yayaaaa" Lalu Dea tersenyum walaupun nampak sedikit terpaksa.
"Eeeeeem, Yaya. Tadi Yaya berangkat sekolah dianter siapa?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan, "Tadi aku dijemput sama Riko", "Apa?", "Yoyoooo, akukan nggak tuli", "Hehehe maaf-maaf", "Tapi bukanya kalian sudah putus, bahkan nomor whatsapp kamu saja diblokir sama dia", "Aku juga nggak tau, dia juga buka lagi kok blokirannya" Entah kenapa ide jahatku mulai muncul lagi, buat manas-manassin Riko lagi. Aaah, pasti nanati bakal seruuuu.
Bel apel berbunyi, aku dan Dea pergi apel. Ada rasa sedikit khawatir aku sama Dea, aku takut terjadi apa-apa sama kandungannya. Karena kepala sekolah dari tadi berpidato tanpa henti.
Aku bingung harus gimana, karena Dea sudah mulai kelelahan untuk berdiri agak lama lagi. "Pak" Panggil Riko kesalah satu guru yang tengah berdiri dibelakang barisan kelas ipa. Riko membisikkan sesuatu pada pak guru, lalu pak guru melihat sekilas wajah Dea. Apa Riko udah mulai sadar ya? Semoga saja dia mau bertanggung jawab dan membicarakannya kedua orang tuanya mengenai hal yang telah ia perbuat pada Dea.
Pak guru itu menghampiri Dea, lalu menyuruh Dea untuk kembali kekelas lebih dulu dari kami. Tapi Dea malah menolak pak guru dan mau menunggu apel sampai selesai. Ketika aku mau menghampiri Dea, tiba-tiba Riko sudah lebih dulu menghampiri Dea, lalu aku menghentikan langkahku dan melihat apa yang akan terjadi. Apakah Dea menolak karena sakit hati? Atau akan menerimanya, karena masih ada rasa sayang pada Riko.
Wooow, aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Dea menghempaskan tangan Riko yang baru saja mau menariknya pergi kekelas. "Lepaskan tanganku" Ucap Dea pada Riko, lalu meninggalkan Riko. Sedangkan Riko terdiam dalam posisinya. Good the best lah, buat Sahabat baikku.
Lalu Riko kembali kebarisannya dengan penuh penyesalan. Setelah kepala sekolah menyelesaikan pidatonya, kami semua kembali kekelas kami masing-masing. Menunggu guru kami masuk kekelas kami.
Saat aku masuk kedalam kelas, aku memberikan jembolku dan sebuah kedipan mata sebelah pada Dea. Lalu kami tersenyum dan tertawa bersama. Membuat beberapa teman nami yang melihat kami merasa tingkah laku kami aneh.
"Dea lo ada masalah ya sama Riko?", "Menurutmu" Ucapku, "Menurutku sih, ada", "Yaudah kalo gitu" Lalu ia tak berani bertanya lagi, entahlah aku tak tau kenapa.
"Eh kenapa lo disitu mau pindah kelas lo" Ucapku pada Riko, sedangkan Dea, dia acuh pada Riko dan memilih membuka bukunya. "Ooowh, oke kalau itu yang kamu mau" Riko masuk kedalam kelas kami dan duduk disebelah Dea, Dea mau berdiri, tapi tangannya dicegah oleh Riko. Sehingga membuatku kesal dan mau menyingkirkan Riko dari tangan Dea. Tapi Dea menghentikanku.
"De" Ucap Riko terpotong, "Diam dan pergi dari sini" Bentak Dea membuat semua seisi kelas terkejut, karena baru kali ini Dea membentak Riko, yang menurut mereka masih menjadi sepasang kekasih. Riko malu dengan perlakuan Dea terhadapnya, lalu ia pergi meninggalkan kelas kami. Dan kebetulan juga dengan datangnya pak guru dikelas kami. Pak guru menatap wajah kami aneh, seakan terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui.
...----------------...
Dikantin, seperti biasa kami makan ditempat meja yang sejak dari kelas sepuluh sampai kami akan lulus. "Yaya, kamu duduk disini dulu ya? Biar aku yang pesankan makan buat kamu" Lalu Dea mengangguk tersenyum, baru saja aku mau pergi memesankan makanan tapi tangan dicegah oleh Dea.
"Yoyo, aku maauuuuu" Ucap Dea malu-malu, "Aku tau, pasti kamu mau rujak mangga muda yaaaa, ya kan?", "I iyah, nambah satu lagi ya? Tapi yang pedes, kalo bisa cabenya sepulah aja. Nggak papa kan?", "Ya nggak papalah, apapun buat kamu dan juga buat satu nyawa lagi. Aku siap melakukan apapun" Ucapku sambil tersenyum, begitu pula dengan Dea yang tersenyum kikuk.
Setelah memesan dan menunggu pesananku. Aku kembali menemui Dea yang masih sendirian. Lalu menaruh makanan kami dimeja. Dan Dea langsung mengambilnya dan menyantap rujak mangga mudanya. Melihat tingkah Dea seperti itu membuatku tersenyum bahagia, sekaligus terharu dengannya. Karena tidak seperti remaja-remaja lain yang hamil diluar nikah, mereka lebih memilih menggugurkan kandungannya dari pada merawatnya. Seharusnya jika mereka berani berbuat, maka juga harus berani bertanggung jawab. Ingin rasanya aku menangis melihat keadaan sahabat baikku seperti ini.
Saat kami lagi asyik-asyiknya makan, Nino datang dan mengagetkan kami. "Makan, nggak nunggu-nungguin", "Lho sih, datengnya kelamaan", "Iyah, soallnya tadi kami habis setoran hafalan fisika", "Owhhhhh".
Saat Nino membuka bekal makanannya, Dea merasa tergiur dengan aroma makanan yang dibawanya, "Nino, tukeran yuk" Ucap Dea dan memberikan semangkuk bakso pada Nino, "Boleh" Lalu mereka saling menukar makanannya. Aku tersenyum bahagia melihat sahabatku bahagia.
Brak, Riko mengambil paksa bakso yang telah diberikan Dea pada Nino. Ada rasa tak terima diwajah mereka, yang satu makanannya diambil, dan yang satunya lagi merasa muak melihatnya ada disini, sekaligus makanan yang telah diberikannya diambil paksa oleh dia. Dea mau beranjak pergi, tapi aku menahannya pergi. Karena aku ingin menas-manasinya. Begitu pula dengan Riko yang mau memarahi Riko.
Follow ig : fiy.ool
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.