I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 29



Tiga bulan berlalu, dimana perut Fyo mulai membuncit. Ia merasa tidak enak jika harus tetap berada dirumah orang tuanya. Karena semakin besar perutnya, semakin terlihat oleh orang-orang disekitar rumahnya. Jadi, ia memutuskan untuk pergi ke surabaya sampai ia melahirkan anaknya. Karena disana juga dekat dengan kampus tujuan Fyo. Yeah, Fyo telah mendaftar kuliah lewat online. Setelah ia diterima ngampus disana, ia langsung cepat-cepat mencari kontrakan disana, walaupun masih satu bulan lagi ia baru bisa masuk kuliah.


"Nak, apa perlu mama ikut kamu ke surabaya! Biar mama bisa jagain kamu sama calon cucu mama." Ujar Mamanya sambil memasukkan beberapa pakaian Fyo.


"Mama nggak perlu repot-repot. Fyo bisa jaga diri kok! Lagian juga Fyo udah gede. Fyo juga nggak mau nyusahin kalian, Fyo juga ingin belajar mandiri dan nggak bergantung pada kalian. Fyo janji setelah Fyo lulus kuliah Fyo akan pulang membawa cucu mama dan juga calon menantu mama. Dengan begitu para tetangga tidak akan merasa curiga, dan mengucilkan keluarga kita."


"Baiklah, semoga kamu cepet-cepet dapet jodoh, biar bisa jagain kamu dan juga calon cucu mama."


Kebodohan tiga bulan yang lalu membuatnya sangat kecewa dan sedih, semuanya hancur dalam sekejap. Pria yang pernah memohon padanya untuk menerima cintanya, pergi meninggalkannya karena perintah dari ayahnya. Apakah itu yang dinamakan cinta? Mungkin maksud dia adalah cinta sekonyong-konyong.


Ketraumaan itu membuat Fyo Anastasya merasa benci pada semua lelaki. Menurut dia semua laki-laki itu sama saja, sama-sama mentingin dirinya sendiri. Sehingga lupa bahwa yang ia sakiti juga punya hati.


...----------------...


Didepan rumah, barang-barang Fyo sudah dimasukkan kedalam mobil kakaknya. Yeah, belum lama ini kakaknya membeli mobil baru dari gaji yang diberikan oleh papanya.


"Pa, ma. Fyo pamit dulu ya!"


"Iyah, kalian hati-hati ya!" Seru mamaku sambil melambai-lambaikan tangannya.


Diperjalanan, mereka berhenti sebentar dimall untuk membeli makanan buat cemilan saat dalam perjalanan. Fyo bersyukur mempunyai seorang kakak yang perhatian sama dia.


Dan Fyo juga bersyukur selama masa kehamilannya, ia belum mengalami masa-masa yang menyulitkan. Dimana biasanya seorang ibu hamil selalu menuntut ini itu pada suaminya. Padahal ngidam adalah salah satu hal yang sangat disukai oleh para suami mereka. Karena tersentuh dengan keinginan calon buah hatinya, yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Apalagi ketika mereka melihat ekspresi istrinya yang konyol. Seakan mereka melihat masa kecil dari istrinya. Mereka memohon seperti anak kecil, kalo gak dikasih bakal ngambek sampek berhari-hari.


Sayang, terimakasih ya! Karena kamu udah baik sama moms. Kamu nggak minta ini itu kayak ibu hamil lainnya. Mama sangat berterimakasih sama kamu nak.


Sedangkan diseberang sana, tepatnya dijakarta. Seorang pria sedang memarahi bawahannya hanya karena salah membeli varian rasa eskrim.


"Tuan, kami sudah mencari ditoko-toko mana saja. Tapi nggak ada yang sama sekali jual es krim rasa coklat sama stoberi dalam satu pack. Mereka hanya menjual tiga rasa dalam satu pack, rasa coklat, stroberi sama vanila." Seru Raka, selaku tangan kanan Azryan.


"Benarkah! Kalau begitu, belikan saya es krim stoberi sama coklat secara terpisah. Kalo kalian masih tidak menemukan dua varian ini, terpaksa...." Seru Azryan dengan sorot mata yang tajam diiringi dengan senyuman devilnya.


Tiba-tiba seseorang datang dan masuk kedalan ruang pemilik perusahan terbesar dijakarta. Wanita itu langsung bergelayut manja dileher Azryan.


"Sayang... kamu kenapa? Apa kamu," Ujarnya terpotong oleh Azryan.


"Cukup. Lanjutkan pekerjaanmu disana! Saya sedang tidak mau diganggu." Wanita itupun pergi meninggalkannya.


Yah! Wanita itu adalah sekertaris Azryan. Jika Raka adalah tangan kanan Azryan, maka wanita itu adalah tangan kiri Azryan. Raka yang membantu solusi dalam pekerjaan termasuk kehidupannya. Maka, wanita itu adalah orang yang selalu memberikan kesenangan untuk nafsu Azryan. Akan tetapi, meskipun mereka sama-sama memiliki kepercayaan, hubungan Rasya dan Raka sangatlah tidak baik. Mereka saling menyindir dan juga bahkan sama-sama memiliki sifat yang licik guna mempertahankan ego mereka.


...----------------...


"Apa kakak, nggak nginep dulu diapartemen Fyo."


Yah.... Setelah beberapa jam perjalanan. Mereka sudah dapat sewaan apartemen yang tidak jauh dari tempat kuliah Fyo.


"Kapan-kapan aja, kakak nginepnya. Oh ya, kamu jaga diri kamu baik-baik, termasuk juga calon keponakanku ini yah, jaga dia baik-baik untukku." Seru kakaknya seraya memeluk tubuh adik kesayangannya.


"Iyah."


"Kalo gitu kakak pamit pulang, jangan asal makan sembarangan. Dan inget! Kamu disini nggak boleh kerja, kalo aku tau kamu kerja. Kakak bakal langsung jemput kamu pulang kerumah."


"Iyah deh iyah...." Ujar Fyo sambil mengerucutkan bibirnya.


Setelah mobil kakaknya menjauh dari apartemennya, ia langsung masuk kembali kedalam apartemen miliknya. Setelah itu ia membuka laptopnya guna mencari sesuatu yang bisa membuatnya senang, meskipun hanya dengan melihat video lucu. Karena ia tidak mau bersedih karena telah meninggalkan keluarganya. Dan itu juga tidak baik untuk kesehatan bayinya.


Skip pagi, matahari mulai menerangi seluruh kamarnya. Karena jendela disana sangatlah besar, berbeda dengan yang ada dirumahnya. Disana hanya memakai ukuran setengah meter persegi untuk jendelanya. Karena disana sangatlah rawan pencuri.


Dipagi hari, rasanya tidak enak bagi Fyo kalo tidak melanjutkan tidurnya lagi. Ia pun kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terpotong, setelah menutup jendelannya dengan gorden.


Tok tok tok, suara pintu diketuk. Membuat Fyo anstasya merasa terganggu dengan tidurnya. Pagi-pagi sudah ada yang mengetok pintunya. Alangkah bagusnya jika mereka tidak mengganggu tetangga barunya diapartemen. Fyo bergegas dari kasurnya dan membukakan pintu kamarnya untuk tamu pertamanya.


Ceklek, "Maaf. Ada apa ya?" Tanya Fyo. Karena kaget melihat segerombolan wanita yang sudah berkepala tiga, ada didepan apartemennya.


"Owh... Kamu tetangga baru kami yah?" Tanya salah satu wanita tersebut dan dibalas anggukan oleh Fyo.


Fyo pun mempersilahkan mereka masuk kedalam. Sebelum itu Fyo kembali kekamarnya untuk mengganti pakainnya. Rasanya tidak sopan jika menemui mereka dengan pakaian tidur seperti itu. Setelah mengganti pakaiannya, ia langsung pergi kedapur untuk memberi mereka minum.


"Untung saja, mama bawakan aku sirup. Jadi nggak perlu repot-repot buat jus. Oh ya! Tadi mereka jumlahmya ada berapa ya?" Guman Fyo sambil mengingat-ngingatnya.


"Kalo nggak salah, kayaknya ada enam ibu-ibu deh. Yaudah deh aku bikin tujuh dulu." Gumannya lagi, lalu menyiapkan minuman untuk tamu barunya minum.


Setelah menyiapkan minuman, ia langsung pergi menemui mereka. Dilihat dari jauh, mereka tengah asyik berbincang-bincang satu sama lain. Ketika melihat Fyo datang mereka langsung kembali duduk seperti semula sambil tersenyum kepadanya.


"Kamu tinggal disini sendirian aja nak?" Tanya salah satu wanita tersebut sambil mengamati Fyo yang sibuk memberikan minuman kepada mereka satu persatu.


Fyo tersenyum, "Iyah bu." Lalu mencari tempat duduk untuknya. Untung saja sofa diapartemenya ini lumayan panjang dan agak besar jadi satu sofa panjang bisa diduduki empat orang dan dua lainnya duduk disofa yang ukurannya juga lumayan panjang. Jadi, tinggal satu sofa yang bisa duduki Fyo saja.