
"Fyo aku pulang dulu ya?" Ujar Nino sambil menyalakan mesin motornya. Lalu Fyo menganggukinya dan pergi masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Azryan dan Raka. Sedangkan Azryan terus menatap Fyo berjalan masuk kerumahnya sambil tersenyum. Setelah dirasa cukup aman. Azryan membisikkan sesuatu pada Raka, dia menyuruh Raka untuk mengikuti Nino. Raka pun memberi hormat dan pergi meninggalkan Azryan.
Didalam rumah Fyo, semua orang tengah sibuk mencari konsep untuk pernikahan anaknya besok. Fyo yang baru datang langsung disambut oleh mereka, dan Fyo langsung mencium tangan mereka semua. Meskipun didalam hatinya merasa sedih, dia berusaha mungkin untuk menutupinya. Dan itu semua demi kebaikan kedua orang tuanya. Beberapa menit kemudian, Azryan datang dengan membawa buah sekeranjang buah.
Buah? Perasaan tadi diluar dia tidak membawa buah deh. Terus buahnya dari mana?
"Om, Tante. Fyo keatas dulu ya?" Fyo memilih pamit pada kedua orang tua Azryan dari pada keorang tuanya. Karena Fyo tau pasti mereka juga ingin meminta persetujuan pada orang tua Azryan. Entah ancaman apa yang telah diberikan orang tua Azryan pada orang tuanya. Sampai-sampai orang tuanya tunduk pada orang tua Azryan. Setelah mendapat persetujuan dari orang tuanya Azryan, Fyo naik keatas dan langsung mengunci pintu kamarnya.
Dikamar, Fyo langsung membuka ponselnya dan langsung mengirim pesan pada Nino, "Nino, kamu udah sampek?" Centang biru, mengetik. "Belum, aku lagi main dirumah Dea. Soalnya tadi siang Riko ngajak aku main game dengannya." Membaca dalam hati, "Nino, apakah menurutmu nanti rencana kamu akan berhasil?" Centang biru, mengetik. "Tentu, tapi itu jika kamu setuju dengaku" Typing Nino membuat Fyo tak mengerti apa yang ia maksud, lalu ia mengirim pesan berupa tanda tanya pada Nino. "Tunggu nanti aja" Pesan dari Nino, "Oke, aku percaya sama kamu." Sambil memberikan emot love, begitu pula dengan Nino. Lalu ia pergi mandi dulu. Habis itu, seperti biasa ia memakai maskernya, lalu tidur menunggu hari sore.
Kira-kira apa ya rencana Nino buat batalin pernikahanku? Semoga saja itu akan berhasil. Dan aku akan sangat berterimakasih padanya.
Sedangkan dibawah, Azryan tengah bingung melihat semua orang yang masih bingung memilih konsep apa yang tepat untuk acara pernikahannya. Azryan tak mau ambil pusing, ia langsung mengambil buku album yang ada didepannya. Azryan memberikan ide dengan memilih konsep yang ia mau yaitu dengan konsep outdoor, bertemakan white colour. Dan semua orang langsung menyetujuinya. Lalu Maminya Azryan langsung menghubungi wedding organizer dan tak lupa dengan memesan catering makanan buat acara besok.
Beberapa jam kemudian, Azryan mendapat pesan dari Raka. Saat membacanya ia merasa sangat kesal, lalu tiba-tiba ia tersenyum licik, seakan mendapat berita yang sangat menyenangkan untuknya. Lalu ia pamit meninggalkan semua orang yang tengah asyik mengobrol. "Mami, papi. Azryan mau pergi dulu ya? Om, tante. Saya pamit dulu ya? Ujarnya sambil mencium tangan mereka semua. Baru saja, Azryan keluar dari rumah Fyo, ia langsung disambut oleh Raka. Dan langsung membukakan pintu mobil untuknya. Azryan masuk kedalam mobilnya, beberapa menit kemudian Raka masuk sambil melihat kaca didepannya yang mengahadap Azryan. "Tuan saya sudah melaksanakan sesuai perintah tuan", "Hem" Dehem Azryan.
...--------------...
Fyo bangun diwaktu yang tepat. Lalu ia mandi dan bersiap-siap pergi dengan Nino. Untuk menjalankan rencana yang dia sendiri tidak tau. Setelah selesai ia turun dan berpamitan pada semua orang yang ada diruang tamu. Ia langsung bergegas keluar dan menunggu orang yang ia tunggu-tunggu. Setelah dirasa cukup lama tak kunjung datang. Ia langsung menelpon Nino, "Hallo? Nino, kamu dimana? Aku sudah tunggu kamu didepan rumah." Ujar Fyo sambil melihat jam tangannya, "Iyah iyah, ternyata kekasih Nino yang cantik nggak sabar ya?" Jawab Nino sambil memenangkan hati kekasihnya. "Heeem, mulai. Kamu mah gitu. Orang aku lagi kesel, masih aja diajak bercanda." Adu Fyo yang udah terlanjur kesal. "Iyah, Fyoku tersayaaang. Habis ini aku mau sampek kerumah kamu." Fyo langsung mematikan telfonnya.
Beberapa menit kemudian Nino datang. Dengan muka kesal, tapi tidak kala kesal dengan Fyo yang sudah menunggunya dari tadi. Mau tidak mau Nino harus mengalah. Yaaah namanya juga cewek, pasti nggak mau kalah. Salah nggak salah yah, tetep cowok yang salah. "Wow, is so beautifful. Boleh saya tau, siapa namaku?" Gombal Nino dengan mencoba menghibur Fyo, Fyo tersenyum kecut. Lalu memperkenalkan dirinya, "Oh, kenalin. Namaku Fyo Anastasya kekasih Nino Rafardhan." Sambil menjulurkan tangannya, dan membuat Nino jadi besar kepala.
"Oh ya btw, hari aku sangat kesal sekali sama pacarku. Sampai-sampai aku ingin memutuskan hubungan dengannya. Tapi sayangnya aku terikat janji dengan ucapanku sendiri. Kalau nggak, aku pasti sudah menceraikannya. Dan mencari pengganti sepertimu. Kira-kira kamu mau nggak jadi penggantinya?" Seru Fyo membuat Nino menelan ludahnya sendiri. Ia tidak menyangka kekasihnya bisa bicara seperti itu. "Sayaaaang, kamu kok jahat banget. Kamu nggak kasihan sama aku. Aku abis disuruh ayah buat tanda tangan. Sampai nggak sempet baca dokumennya, dan itu semua kan demi kamu. Masa kamu nggak bisa hargai aku." Ujar Nino sambil menunduk, "Iyah deh iya, aku maafin kamu. Tapi kamu harus janji kamu tidak boleh mengulanginya lagi." Seru Fyo sambil menaiki motor Nino, "Siap bos." Seru Nino bersemangat, membuat Fyo jengkel dan lamgsung mendorong tubuh Nino.
Dijalan, Fyo sudah tidak sabar dengan rencana Nino. Berkali-kali ia bertanya pada Nino, tapi dia masih tidak memberitahunya. Nino menyuruhnya untuk menunggu, jika sudah sampai ditempatnya. Keheningan pun terjadi sampai ditempat tujuan. "Hotel?" Seru Fyo saat melihat mulai dari atas sampai bawah gedung. Membuat perasan Fyo tidak enak. "Ayo kita masuk." Seru Nino sambil menarik tangan Fyo, namun langkahnya terhenti ketika Fyo tidak mau melangkahkan kakinya. "Kenapa? Aku cuma mau ngajak kamu bicar didalam." Ujar Nino meyakinkan Fyo, lalu Fyo mau ikut dengannya. Tapi sebelum itu Nino meminta kunci kamar yang telah ia pesan lewat online, pada resepsionis hotel.
Kenapa aku merasa takut ya sama Nino? Nggak biasanya. Ah, mungkin cuma pikiranku aja yang terlalu dewasa. Mana mungkin Nino mengajakku hal seperti begituan.
Saat kami memasukki kamar hotel, ku melihat ada banyak kelopak bunga mawar yang ditabur di kamar ini. "Jangan takut, mungkin mereka mengira kita mau honeymoon." Seru Nino sambil melepas jaketnya, lalu duduk diatas kasur.