I'M Not Police

I'M Not Police
Bab 15



"Emangnya kenapa?", "Dulu, kakak sama pacar kamu dulu, dan juga temen-temen kakak lainnya, suka membully Ryan", "Apa? Waahhh, itu kalo dilaporin polisi bisa masuk penjara. Dan juga bisa hancur harga diri aku, punya kakak yang pernah masuk penjara" Tiba-tiba kakakku melempari pulpen, karena kesal mendengar ucapanku.


"Aduuuh, sakit bego", "Mau lagi", "Ya nggaklah" Sambil melemparkan pulpennya balik. "Makannya kalo ngomong itu hati-hati, emangnya lo mau gua dipenjara", "Ya nggaklah" Lalu aku kembali menulis pesan pada Azryan.


Saat aku membuka kontaknya Azryan, aku mengubah namanya. Rasanya tidak baik jika harus mengenang masalalu. Tapi anehnya, kenapa dia tidak memakai foto profilnya? Owhhh, aku tau! Mungkin dia gengsi jika harus mengunggah fotonya. Karenakan dulunya buram dan sekarang jadi glow up.


Lalu aku menscan kode whatsappnya Azryan, biar nanti nggak harus pinjem ponsel kakakku lagi.


"Nieh, ponsel kakak", "Taroh aja disitu" Lalu aku menaruh ponselnya. Setelah itu, sesuai dengan ucapan kakak. Aku menada kekakak. Pandangan kakakku yang awalnya fokus kekomputernya, berubah ke arah tanganku sampai kepalaku. Seakan tak mengerti maksudku, "Sejam 50 ribukan?", "Oh iy ya, hampir aja lupa, berikan!", "Loh kok aku", "Kan kamu yang pinjam ponsel kakak, jadi kamu bayarlah sekarang. Karena tadi kamu pinjamnya nggak sampek sejam. Jadi, kakak potong jadi 20 ribu saja", "Ohhhh, jadi kakak perhitungan nieh sama Fyo", "Bisa jadi", "Baiklah", "Eeemmm, sepertinya papa sama mama belum tau deh? Perbuatan kakak semasa masih sekolah Smp dulu", "Hehehe, adek Fyo yang cantik mau berapa? Nih, kakak cuma punya 75 ribu. Kamu bawa semua juga nggakpapa" Lalu aku menarik uangnya, setelah itu aku pergi meninggalkan kakakku.


Dikamar, saat aku sedang asyiknya memaikan game kesukaanku yaitu game mobile legend. "Kenapa kamu menyuruhku kesini?" Tanya Azryan yang tiba-tiba datang, "O kak Azryan, masuk aja. Tunggu aku menangin gameku dulu" Aku menyuruhnya masuk dan menungguku sampai selesai bermain. Karena kali ini aku tidak mau kalah lagi, karena tadi malam aku sudah kalah sampai tiga kali permainan.


Tiba-tiba, "Balikin, tunggu aku menangin duluuu", "Kamu pikir saya datang kemari hanya untuk menunggu kamu memainkan gadget kamu", "Iyah, tapi kembaliin dulu" Aku berusaha menggapai tangannya yang panjang itu, tapi berkali-kali aku tidak bisa menggapai ponselku. Lalu Azryan mengeluarkan gameku dengan menggesernya kesamping. Setelah itu, dia berikan padaku. "Hah, gameeekuuuu. Apa kamu sudah gila! Aku hampir saja menangin gameku.


"Sekarang beritahu aku, kenapa kamu menyuruhku datang kesini?" Aku membuang ponselku kekasur dan kembali duduk diatas kasur. Dan berpikir aku harus menanyainya dari mana dari mana dulu.


"Kenapa kamu menerima perjodohan ini? Katamu aku ini bukan tipe," Ucapku terpotong "Papi, mamiku memaksaku untuk menerima perjodohan ini. Atau kalau nggak! Mereka akan mencoret namaku dalam daftar warisan papiku", "Apa! kamu kan anaknya, mana mungkin mereka akan mencoret namamu. Dasar serakah", "Apa?" Tanyanya menbuatku kaget.


"Apa?" Tanyaku balik. Mungkin karena kesal, Azryan pergi meninggalkanku. Apa yang salah dengan ucapanku? Memang benarkan! Dia itu serakah. Dasar gila harta.


Plak, aku menepuk keningku. Gimana caranya aku bisa membatalkan perjodohan iniiii? Haaaaaaa Azryaaaan, kenapa kamu harus menerimanya siiiih. Kan kata om Bram, kamu kayaaaaa dan udah punya rumah sendiri. Lalu kenapa takut nggak dapat warisan siiiih.


Lalu aku pergi keluar mencari Azryan dikamar kakakku. Karena aku tau, Azryan tidak akan pergi sebelum menemui kakakku dulu.


Dan benar saja, Azryan ada dikamar kakakku. Lalu aku masuk dan menarik tangan Azryan keluar dari kamar kakakku. Tanpa memperdulikan kakakku yang memanggil-manggil namaku dan Azryan. Dan membawa Azryan kekamarku lagi.


"Kenapa lagi?" Tanyanya, "Aku mau kamu batalin perjodohan kita", "Nggak, saya tidak mau. Kenapa tidak kamu saja yang batalin. Dengan begitu papiku akan mencarikan wanita lain tanpa harus mencoret namaku dalam daftar warisannya", "Ap apa? Tapi waktu itu kamu bilang akan menolak perjodohan itu", "Benarkah?", "Tentu saja", "Apakah aku pernah bilang 'Iyah" ke kamu. Coba kamu ingat baik-baik ucapanku. Sedangkan dia pergi meninggalkanku, mungkin dia kembali bekerja.


Flashback on,


...----------------...


Hah, Dasar. Bukan aku yang pikun tapi dia. Mungkin aku perlu berikan dia banyak ikan, biar dia nggak jadi orang yang pelupa alias pikun.


Huh percuma saja, gimana mau ngajak kompromi, kalau dia saja tidak bisa diajak bicara. Hah haaaaa, terus aku harus gimana? Masa aku harus pasraaaaaah. Haaaaaa, aku nggak mau nikah, apalagi dengan Azryan. Akukan masih ingin kuliahhhh.


Apa aku curhat saja pada Dea, pasti Dea bisa bantu buat carikan solusinya. Aku mengambil ponselku, lalu kembali menelpon Dea. Kali ini aku nggak mau videocall-an lagi, melihat mereka seperti itu rasanya membuat trauma.


Ishhh, Dea kemana sih? Padahal dia kan lagi online, kenapa lama sekali sih ngangkatnya. Lalu aku kembali menelpon Dea lagi. Lalu panggilanku ditolak. Wah wah wah wah, Dea kan nggak pernah nolak panggilan dariku. Hmmm ini pasti Riko, kurang ajar nih anak.


Lalu aku kembali menelpon, dan ternyata panggilanku langsung diangkat. Baru saja aku mau memarahinya, ternyata yang jawab panggilanku itu Riko dan dia ngomongnya langsung nyerocos.


"Bini gua lagi sibuk, jangan ganggu dia lagi. Dia udah dalam cengkraman gua" Tuuuut, panggilan terputus. Ya tuhan, apa itu tadi. Kenapa Dea menyuruh Riko pelan-pelan, dan suara apa itu tadi.


Aaaaaaaaah, aku langsung menutup telingaku dengan bantal. Berkali-kali aku meminta maaf pada yang kuasa, dan berkali-kali pula aku gulang-guling kekanan dan kekuri. Kenapa suara itu masih terngiang-ngiang dikepalakuuuuuuu. Hah, aku melempar bantalku, lalu lari kedalam kamar mandi.


Aku menyalakan shower, dan berdiri dibawahnya. Rikooooo, berani sekali kamu mengangkat telponku saat kalian tengah hiiiiiii. Aku menggosok-nggosok wajahku, jijik rasanya mengatakan hal seperti itu. Awas saja kamu Riko, Hah.


Lalu aku mencuci pakaianku yang basah, karena lupa melepasnya. Setelah selesai mengganti bajuku. Aku menjemur pakaianku dibelakang rumah. Lalu aku kembali masuk kerumahku.


"Dicariin dari tadi, ternyata disini" Seru kakakku, "Kenapa?", "Beliin minuman kesukaan kakak" Lalu kakakku memberikan atmnya padaku. "Ini kun. Kamu mau kemana?" Ketika aku berjalan dengan lemas, "Hiiish, katanya mau beli!" Ucapku kesal, "Naik apa?", "Naik motor kakaklah" Lalu kakakku mengangkat tangannya yang tengah bawa kunci motornya.


Follow ig : fiy.ool


Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah.