
Setelah mengantar tetangga barunya keluar, Fyo langsung membereskan bekas minuman mereka.
Ternyata mereka orangnya ramah ya! Nggak nyangka hanya dalam beberapa jam, kami sudah akrab sedekat itu.
Tangannya sambil sibuk menggosok-nggosok gelas dengan spon pencuci piring, sesekali ia bermain dengan busa yang dihasilkan dari sabun pencuci piring tersebut.
Syuuuuf, Fyo meniup jari tangannya yang dibuatnya melingkar selepas dikasih sabun pencuci piring. Bulatan-bulatan kecil melayang didepannya, sesekali tangannya bergerak memecah bulatan tersebut. Alangkah bahagianya dia, seakan mengingatkannya pada masa kecilnya. Masa kecil dimana ia pertama kali mengenal permainan ini bersama dengan kakaknya yang nakal. Tiba-tiba ia merasa sedih karena harus berpisah dengan keluarganya. Tapi bagaimana pun juga ia sudah mengambil keputusannya sendiri, itupun juga demi keluarganya.
Kriiing kriiing, suara ponsel Fyo berbunyi. Ia langsung mengelap tangannya dengan tisu dan pergi mengangakat telponnya.
"Hallo?"
"Fyo, apa kamu baik-baik saja?" Tanya mamanya yang ada diseberang sana dengan penuh kekhawatiran.
"Iyah ma, Fyo baik-baik saja kok. Fyo udah sampai diapartemen Fyo. Mama tau nggak? Para tetangga disini ternyata baik-baik. Mereka ramah, seperti nganggep Fyo ini kayak temennya mereka Sendiri." Dan bla bla bla, Fyo menceritakan semua kejadian hari ini pada mamanya.
...----------------...
...A.Xie's Emperor...
Milik perusahaan ternama yaitu Azryan Xie yang begitu kejam yang tak segan-segan untuk menghancurkan perusahaan milik orang lain, apabila ada yang berani menyinggungnya. Bahkan, ia juga tidak akan segan-segan untuk membunuh dan juga mempermalukan harga diri orang tersebut.
Saat ini tengah merasa kesal pada orang kepercayaannya, ia berani menyinggungnya hanya karena ia tidak sadar dengan tingkah anehnya sendiri, karena terlalu banyak makan es krim. Yeah! Kalian tau sendirikan? Alasan mengapa Azryan terlalu banyak makan es krim.
Brak, Azryan menggebrak meja kerjanya. Ia berdiri seakan menunjukkan kemarahannya pada Raka . Raka yang melihat bosnya seperti itu, rasanya ingin tertawa namun ia berusaha tuk menahannya. Itu karena Tuannya marah tapi tidak sadar dengan wajah dan mulutnya saat ini. Bak anak kecil yang baru mengenal es krim, seperti itulah yang ia lihat pada tuannya, dengan menunjukan rasa wibawanya sambil mengemut stik es krimnya, ia bahkan tidak sadar dengan wajahnya yang belepotan di sekitar mulutnya akibat dari es krim miliknya. Azryan merasa ada yang janggal pada orang kepercayaannya itu, ia pun langsung melontarkan pertanyaannya yang belum lama ini ia tahan.
"Kenapa kamu seperti itu?" Tanya Azryan seusai memukul meja kerja miliknya.
"Saya nggak kenapa-napa tuan. Maaf tuan jika saya mengganggu saya akan pergi keruangan saya menyiapkan dokumen buat meeting nanti. Apa saya boleh pergi?" Elak Raka yang masih menahan gelak tawanya.
Karena sudah mendapat jawaban dari atasannya, ia langsung berjalan dengan langkah yang ia lunglaikan kebelakang. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat tuannya berlari kekamar mandi pribadi miliknya. Ia pun menyusul ikut menghampiri tuannya dengan perasaan panik.
Apa mungkin! Tuan overdosis, karena terlalu banyak makan es krim?
Ia pun langsung menelpon dokter pribadi Azryan. Beberapa menit kemudian dokter itu datang dan langsung memeriksa tubuh tuannya, yang sedang terbaring lemah diatas kasur pribadi miliknya. Berkali-kali dokter itu menepuk pelan perut milik tuannya itu. Dengan raut muka yang cukup kesal, dokter itu membuang nafas kasarnya.
"Aku sudah memperingati tuan tapi.... ya seperti itu lah. Saat tuan menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu harus ia dapatkan."
"Lain kali jangan beri dia es krim lagi, ini. aku sudah catatkan resep obat buat dia. Nanti setelah ini jangan beri dia minuman dingin lagi, atau kalau nggak...." Ancam dokter itu, sambil menatap wajah Azryan yang kesal. Yeah! mereka bertiga sangatlah akrab. Tak jarang jika mereka saling ledek bak saudara kandungnya dan juga pamannya sendiri, tapi yang pasti Azryan tidak akan memasukkannya kedalam hati.
"Ayolah Om Hans.... Aku tadi cuma makan satu sendok, masih ada banyak lagi diluar. Tidak baik jika harus dibuang." Sahut Azryan yang berusaha merayu dokter Hans, yang sudah ia anggap sebagai pamannya itu.
"Tuan.... menurutlah. Kami tidak mau jika melihat tuan sakit seperti ini. Lalu siapa yang akan meneruskan perusahaan ini nanti!"
"Jadi, kamu mau saya cepat-cepat mati gitu."
"Ya nggak gitu juga tuan. Maksud saya, tuan harus jaga kesehatan tuan agar bisa memperkembangkan perusahaan ini dari yang lebih menjadi sangat lebih tuan."
"Bener kata Raka. Kamu harus pintar-pintar jaga kesehatan kamu!"
Setelah melihat kejadian yang dialami oleh tuannya. Raka masih merasa bingung, pikirannya selalu berpikiran aneh. Karena tadi tuannya tiba-tiba minta es krim itupun dalam porsi banyak, seperti orang yang ngidam karena hamil muda, dan setelah itu Azryan juga mual-mual.
Apa jangan-jangan tuan kami hamil! Tapi dia seorang pria yang tampan nan gagah, mana bisa hamil. Atau jangan-jangan sebenarnya tuan ini bukan seorang pria tapi wanita.
Raka berulang kali menggeleng-gelengkan kepalanya. Sehingga membuat dua orang yang ada didepannya itu merasa aneh dengan tingkah lakunya. Karena baru kali ini Raka yang yang terkenal garang dan judes. Tiba-tiba melamun sambil berhalusinasi.
"Ka, kamu kenapa?" Tanya dokter Hans sambil membenahkan kacamatanya.
"Tau' dari tadi juga begitu. Senyum-senyum sendiri kayak orang nggak waras."
Apa aku kasih tau mereka aja ya? Mengenai pemikiranku. Tapi nggak mungkin juga, bisa jatuh nanti harga diri tuan muda.
"Nggak papa kok, saya cuma bingung. Apa perlu saya batalin meetingnya nanti atau..." Ujar Raka yang terpotong oleh Azryan.
"Lanjutkan saja."
"Baik tuan. Kalo gitu saya pergi siapkan dokumen."
Raka meninggalkan mereka berdua, untuk mengurangi pemikiran anehnya itu. Saat ia keluar dari ruangan Azryan. Raka sudah disambut oleh sekertaris kesayangan tuannya, menurut para karyawan disini.
"Dimana Bos?" Tanya sekertaris seksi itu sambil menggulung ujung rambutnya. Karena tidak melihat tuannya duduk dikursi kerjanya.
"Saat ini Bos kamu tidak bisa diganggu. Sebaiknya kamu lanjutkan saja pekerjaanmu."
"Ya ampun... Raka. Emangnya lo gak liat gue lagi kerja, gue kesini mau minta tanda tangannya."
"Dan juga merayunya. Bukan begitu, nona Rasya Elmiranti." Bisik Raka sambil menyebut nama panjang wanita yang ada dihadapannya itu.
"Kurang ajar." Umpatnya dan pergi meninggalkan Raka dengan langkah kaki yang ia hentak-hentakkan dilantai.
Raka yang melihatnya seperti itu hanya bisa menghela nafas panjang. Setelah dilihatnya sekertaris itu mulai menjauh. Ia pergi menuju ruangannya yang tak jauh dari ruangan milik Azryan.