
Setelah menemukan baju tidur milik Azryan, Fyo pergi turun kebawah hendak mengambil air minum dikulkas. Ia mengambil buah apel, pisau kecil dan juga mangkuk kecil utuk dibawanya keatas.
"Benar-benar sepi, tidak ada orang lagi selainku disini. Huh sebenarnya Azryan dimana sih?" Guman Fyo yang sudah mulai ketakutan karena ditinggal sendirian.
Fyo langsung cepat-cepat lari keatas, lalu mengunci pintu kamarnya. Ia mengupas buah apelnya sambil menoton siaran televisi, begitu banyak berita mengenai artis papan atas yang terlibat dalam narkoba dan juga minuman keras.
"Apa mereka tidak memikirkan tentang masa depan mereka? Emangnya seperti apa sih rasanya sampek-sampek mereka berani mengomsumsi benda terlarang itu." Guman Fyo sesekali ia memasukkan potongan buah tersebut kedalam mulutnya.
Saat ia sudah mau tidur, tiba-tiba pintu diketuk beberapa kali dari luar. Keras! Sangat keras sampai-sampai membuat Fyo jadi ketakutan, takut diluar itu bukan manusia tapi sesosok makhluk halus.
Bukannya Fyo membuka pintunya, tapi Fyo malah menutup telingannya dengan selimut tebal miliknya dan cepat-cepat tidur.
...----------------...
Keesokan paginya, Fyo sudah ada didapur ingin memasak sesuatu buat ia makan karena perutnya yang sudah mulai keroncongan. Dilihatnya dari kejauhan ia melihat seseorang berjalan termontang-manting kearahnya. Yeah! Dia adalah Azryan, kejadian malam itu benar-benar membuat Fyo sangat kesal pada suaminya.
"Kenapa kamu mengunci pintu kamarku?" Tanya Azryan sambil bersandar didekat wastafel dengan membawa minuman kaleng didekatnya.
Dilihatnya Fyo mengikat rambutnya kebelakang dan menyisakan sedikit helaian-helaian rambut didahi dan juga didekat telingatnya, seakan membuatnya jadi tersentuh ingin rasanya ia menepiskan rambut itu kebelakang telinga istrinya dengan sentuhan lembut tangan miliknya.
Glek, Azryan menelan air ludahnya dan sesegera mungkin ia menepis jauh-jauh pikirannya itu. Tetapi tatapan itu masih tidak bisa luput dari pandangannya. Fyo yang melihat suaminya seperti itu, berniat ingin menjahili suaminya.
Fyo mendekati suaminya sambil memberikan sentuhan lembut dipundak suaminya. Ia menggigit bawah bibirnya sendiri, lalu berniat mendekati bibir tipis milik suaminya itu. Dekat semakin dekat, begitu juga Azryan yang sudah mulai terhipnotis akan kecantikan istrinya mulai mendekatkan bibirnya kebibir istrinya. Tinggal dua centi lagi bibir mereka mulai bersentuhan, tiba-tiba!
"Bwah hahaha" Fyo tertawa keras didepan Azryan sampai-sampai membuat perutnya merasa keram.
"Sekarang saya memaafkan kamu, tapi lain kali saya tidak akan mengampuni kamu! Cepatlah memasak saya sudah sangat lapar karenamu." Kata Azryan sambil tersenyum kecut kearah Fyo.
Ia berlalu meninggalkan Fyo karena merasa malu. Bagaimana bisa ia melakukan hal itu tadi? Sambil memegang bibirnya dan langsung mengacak-ngacak rambutnya karena kesal.
Seusai mandi Azryan kembali kebawah hendak mau makan bersama dengan istrinya. Belum juga Azryan menduduki kursi makannya, Fyo sudah senyam-senyum seakan mengingatkan kejadian tadi pada Azryan. Akan tetapi bukan Azryan namanya jika tidak bisa memasang wajah acuhnya pada Fyo.
"Kenapa kamu senyam-senyum nggak jelas seperti itu?" Tanya Azryan pura-pura nggak tau.
"Enggak, ngomong-ngomong kamu kok nggak kerja?" Tanya Fyo seraya menaruh nasi pada piring Azryan.
"Mas! Panggil saya mas atau kamu juga bisa panggil saya suamiku. Belajarlah lebih sopan sedikit padaku." Kata Azryan seraya memasukkan nasi beserta lauknya kedalam mulut.
"Iyah, Mas. Mas Azryan nggak pergi ngantor? Kok Mas Azryan masih pakai baju santai." Tanya Fyo saat melihat suaminya masih memakai baju santai.
"Iyah, karena nanti saya akan mengantar kamu buat belanja keperluan kamu diluar." Jawab Azryan yang dibalas Fyo dengan anggukan.
Kalau disini sudah ada yang jual sayur, terus kenapa dia mengajakku kesupermarket tadi. Bahkan satu lantai disini semua isinya mulai dari perabotan rumah tangga sampai bahan-bahan makanan yang bisa dimasak! Pekik Fyo.
"Apa kamu bisa bikin salad?" Tanya Azryan saat melihat berbagai macam sayur-sayuran segar didepannya.
"Kalau salad buah sih aku bisa mas, tapi kalo salad sayur sepertinya saya ragu bikinnya." Jelas Fyo sambil melihat Azryan yang memasukkan satu persatu beberapa sayuran kedalam keranjang.
"Bantu saya memilih beberapa sayuran segar, nanti saya akan mengajari kamu bikin salad sayur." Pinta Azryan dan langsung dilaksanakan oleh Fyo.
Setelah selesai membeli beberapa keperluan rumah tangga dan juga keperluan Fyo untuk beberapa bulan, ia berniat ingin mengajak Fyo ketoko handphone, karena ingin mengganti ponsel Fyo yang telah dirusaknya.
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Fyo saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh Azryan naik kelantai atas.
Sesampainya disana Azryan menyuruh Fyo mencari handphone yang ia suka, soal harga itu tidak terlalu penting baginya. Karena apa yang telah diberikan Fyo padanya tidak sebanding dengan apa yang diberikannya pada Fyo.
Kemudian mereka kembali pulang kerumah, setelah semuanya sudah lengkap bahkan Azryan tak lupa mengingatkan keperluan apa yang semustinya penting untuk istrinya.
"Saya mau pergi mandi dulu, kamu rapikan ini dulu." Pinta Azryan lalu berjalan pergi kelantai atas.
"Azryan." Panggil Fyo menghentikan langkah Azryan.
"Ee.. maksudku Mas, makasih ya handphone barunya?" Kata Fyo sambil memegang handphone baru miliknya.
Azryan hanya berdehem dan berlalu pergi menaiki tangga. Awas saja kalau dia salah panggil lagi? Pekik Azryan seraya menggeleng-nggelengkan kepalanya.
Seusai mandi, Azryan kembali turun karena ia sudah berjanji pada istrinya untuk mengajari ia bikin salad sayur. Dilihatnya dari bawah, Istrinya sedang mencuci sayur-sayuran untuk ia masak.
Sesampainya disana, senyum seringai tiba-tiba muncul dibibir Azryan. Dia ingin membalaskan kejadian tadi pagi pada istrinya yang saat ini sedang sibuk dengan sayurannya, ia mendekati istrinya. Lalu menyelipkan tangannya dengan memeluk pinggang istrinya dan mencoba membantu istrinya membersihkan sayurannya. Fyo yang tiba-tiba mendapat pelukan dadakan langsung terlonjak kaget.
"Mas." Panggil Fyo yang tak suka dengan perlakuan Azryan.
"Hemm." Dehem Azryan tapi masih tidak melepaskan pelukannya.
"Mas, apa yang kamu lakukan! Aku sedang sibuk." Pekik Fyo akan tetapi Azryan malah semakin mempererat pelukannya.
"Mas Azryan!" Bentak Fyo seraya mendorong tubuh suaminya, yang membuat tubuh suaminya mundur beberapa langkah kebelakang.
Azryan terdiam sebentar, ia berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak mau kembali lagi menyakiti hati kecil istrinya. Sudah cukup saat ia sudah kehilangan bayinya, ia tak mau lagi menyakitinya.
Fyo menghampiri suaminya yang masih diam terpatung didepannya. Ia meminta maaf pada Azryan bukan karena ingin menolaknya, akan tetapi ia masih belum siap untuk menerima perlakuan tersebut. Setelah apa yang dilakukan oleh Azryan padanya.