
Tiga hari kemudian~
Hari ini adalah hari terakhirku menyelesaikan ujian nasional. Dan besok adalah hari pernikahanku dengan Azryan. Entah aku harus senang atau sedih. Senang karena sudah menyelesaikan beberapa rintangan dalam menyelesaikan pendidikan, atau sedih karena besok aku harus menikah dan meninggalkan semua orang. Karena setelah menikah, otomatis aku akan ikut Azryan. Dan aku baru tau kalau dia tinggal dijakarta, dan bukan dirumah orang tuanya.
Dikantin, "Fyo. Kebiasaan deh, ngelamun terus, entar kesambet loh!" Seru Dea mengagetkanku. Sejak Dea menikah dengan Riko, Dea selalu menyebut namaku. Begitu pula denganku, dan itu karena kemauan Dea sendiri. Alasannya sih, karena dia akan menjadi ibu. Jadi aku menurut saja sama dia. Mungkin sebelas duabelas Dea sedang ngidam. "Iiiih kamu ngganggu aja deh. Orang lagi bingung buat cari cara batalin pernikahan gue." Aku langsung bungkam. Dan berkali-kali menepuk-nepuk mulutku.
Apa yang tadi gue katakan. Ya ampuuuun, kenapa mulut ini tidak bisa diam. Gimana aku harus jelassin sama mereka bertiga.
Riko dan Nino yang awal mulanya sibuk memakan mie instannya dengan supit, langsung terhenti ketika mendengar ucapanku. "Mak Maksud gue, bukan gue nikah. Tapi kakak gue yang nikah." Aku terpaksa harus berbohong. Mau gimana lagi, aku tidak mau semua orang tau kalau aku menikah dini. "Huhhh, gua pikir lo yang nikah. Mau dikemanain sahabat gue nanti." Seru Riko sambil ngerangkul pundak Nino. Berbeda dengan Nino yang nampak curiga, sekaligus tidak senang dengan apa yang tadi aku ucapkan. "Iyah nih Fyo, ada-ada aja emang." Sambil memakan buah apel yang ia bawa dari rumah. Karena semenjak Dea tau, dia hamil. Dia selalu membawa bekala dari rumah. "Jika itu benar! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Sebelum aku mengingkari janji yang telah Fyo buat, untukku." Seru Nino sambil menatapku tajam.
Deg, apa yang Nino katakan? Apa dia akan menganggapku serius? Bagaimana jika dia benar-benar tau, kalo besok aku benar-benr akan menikah.
"Ak aku mau ketoilet dulu." Aku meninggalkan mereka bertiga. Karena, Nino selalu menatapku seakan tak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Bagaimana bisa aku mengatakan seperti itu didepan mereka. Jika nanti pulang Nino menanyakan lagi gimana? Alasan apa yang harus aku berikan. Semenjak motorku sudah dikembalikan, aku sering diantar jemput sama Nino. Setelah selesai mencuci wajahku, akukeluar dari kamar mandi.
Dug, aku menabrak benda keras didepanku. Saat aku melihat kedepan. "Nino." Seruku kaget, ketika melihatnya tepat didepan mataku. "Aku harap kamu memberikan alasan yang jelas untukku." Serunya membuatku bingung untuk mencari akal, "Eeee, yang mana ya?" Tanyaku pura-pura bodoh. "Mengenai pernikahan kamu. Apa kamu mau mempermainkanku? Mungkin mereka bodoh, termakan sama ucapakan kamu. Tapi tidak denganku." Ucap Nino sambil mendekatkan wajahnya pada wwajhku. "Jawablah, apa kamu sedang mempermainkanku, sayang?" Ucapnya sekali lagi sambil memegang daguku.
Aku menurunkan tangannya pelan-pelan dari tanganku. Dan mengajaknya bicara baik-baik. Jujur saja, semenjak aku menjadi pacar Nino Rafardhan. Rasanya aku tidak bisa kemana-mana, bahkan ketika aku duduk disebelah teman cowokku, dia langsung menyerobot tempat duduk yang mau dudukki. Apalagi ketika aku mau tanya soal, dia langsung mengambil bukuku dan memberiku penjelassan dari pertanyaan yang aku nggak tau. Dan yang aku jengkelkan, dia tidak langsung memberiku jawabannya langsung. Tapi dia memberikan kata-kata yang berhubungan dengan jawaban dari pertanyaan itu.
Apa aku harus jujur saja ya sama Nino. Siapa tau dia bisaabantu aku cari solusi buat batalin pernikahanku. Yah, aku harus coba!
"Fyo." Panggilnya lagi, " Iyah iyah, sebenarnya ak akuuu," Terhenti, "Aku apa sayaang?" Ucap Nino tak sabar mendengarkanku. "Sebenarnya aku besok mau nikah." Jawabku spontan. Membuat Nino jadi kaget dan mulai bersedih. "Nino Ninoooo, kamu kamu jangan sediiiih. Sebenarnya aku juga nggak mau nikah sama dia. Orang tua dia memaksa orang tuaku untuk menikahkanku dan anaknya dengan segera. Dan aku juga tidak tau harus berbuat apa?"
Sekarang aku benar-benar bersedih harus berbuat apa? Lalu Nino menangkup kedua pipiku. Setelah itu, ia menghapus air mataku. Dia memberikan isyarat dengan menggeleng-nggelengkan kepalanya, untuk tidak bersedih. Tapi perhatian yang ia berikan, membuatku jadi tersentuh. Aku langsung memeluknya dan menangis dipelukannya. Dia membalas pelukanku sambil mengelus punggungku. Tiba-tiba rasanya aku ingin memeluknya dengan erat, sangat erat. Sampai-sampai suara tangisanku ini tidak bisa didengar olehnya.
Nino melepaskan pelukanku dan kembali menangkup kedua pipiku, lalu mengusap air mataku. "Aku akan membantu kamu untuk membatalkan pernikahan itu", "Benarkah?" Ujar Nino membuatku senang, "Iyah, nanti sore aku akan menjemputmu." Aku mengerutkan dahiku, "Apa kau mau membawaku kabur?" Tanyaku, "Tidak, percayalah padaku. Pernikahan itu akan benar-benar dibatalkan." Aku pun menganggukinya, lalu dia mengajakku pulang, karena dia ingin merencanakan sesuatu untuk membatalkan pernikahanku dengan Azryan. Sedangkan Dea dan Riko sudah pulang lebih dulu dari kami.
Didepan rumah, "Ada mobil?" Tanya Nino, "Pasti mereka mau membicarakan rencana buat acara besok" Kembali bersedih, "Kamu tenang saja, Aku akan selalu membantu kamu. Apapun aku akan lakukan demi kamu" Ujarnya sambil mengelus lenganku. "Apa kamu tidak mampir dulu." Tawarku, "Nanti sore aja." Jawabnya, seakan memberikanku kode untuk bersiap-siap nanti sore. Lalu aku mengangguk senang.
Ciiiiit, suara rem mobil itu membuat aku dan Nino langsung melihatnya. Mobil itu berhenti didepan rumahku. Dan keluarlah, sang calon suami beserta seorang pria berjas hitam nan rapi. Dari perawakkannya dia tegas seperti orang galak, nggak ada senyum-senyumnya, berbeda sekali dengan Azryan. Azryan berjalan kearah kami dan diikuti oleh pria berjas hitam itu. Dan pria itu memberi hormat kepadaku dengan membungkukkan punggungnya. Sehingga membuatku salah tingkah. "Kalian baru pulang?" Tanya Azryan, "Iyah." Jawabku, "Oh ya kenalin, ini adalah tangan kananku yang selama ini aku percayakan untuk menggantikanku dijakarta. Namanya adalah Raka." Seru Azryan, lalu Raka memberiku hormat lagi.
"Tangan kanan!" Seru Nino, seakan meremehkan Azryan. Yahhhh, begitulah memang kalo tikus sama kucing lagi ketemu. Pasti nggak ada akur-akurnya. Yah, walaupun aku benci sama Azryan tapi aku tidak segitunya kayak Nino.