
"Riko, itukan makanan milikku..." Pekik Dea seraya menarik makanannya dari tangan Riko, "Yank, aku masih laper..." "Kamu pikir aku juga nggak laper apa? beli sendiri sana."
Bel istirahat berbunyi, itu artinya jam istirahat sudah selesai dan sudah saatnya mereka kembali kekelas kita masing-masing.
...----------------...
Fyo Pov-
Beberapa jam kemudian kami melewati semua mata pelajaran yang telah diajarkan oleh guru kami. Bel sekolah kembali berbunyi, menandakan waktu belajar mengajar sudah selesai.
Setelah guru kami keluar dari keluar dari kelas, kini giliran kamilah yang keluar kelas, "Yank" Panggil Riko, berlari kecil kearah kami yang diikuti oleh Nino, pergi berjalan bersama kearea parkir sekolah.
"Fyo, jadikan?" Tanya Nino memastikan dan aku membalasnya dengan anggukan.
Belum sempat aku menaiki motor Nino, ternyata sudah ada Azryan yang duduk diatas motornya. Tepatnya didepan gerbang sekolah kami. Dan ia tengah dikerubungi oleh siswi genit yang ada disekolah kami. Namun anehnya, Azryan sama sekali tidak memperdulikan mereka, melainkan sorot matanya menatapku tajam setajam-tajamnya.
"Em.... Nino, kayaknya kita nggak jadi pulang bareng deh", "Kenapa?" Aku menggerakkan alis dan mataku kearah gerbang sekolah, Lalu Nino mengikuti arah mataku.
"Siapa?" Tanya Nino seakan tak suka, "Yang nyita motorku." Jawabku malas menyebutnya sebagai polisi, yang ada nanti malah merusak nama baik polisi.
"Oooooh, tapi kenapa pakaiannya seperti itu?" Tanya -Nya lagi, karena Azryan tidak memakai seragamnya. Dia memakai baju hodhie warna putih dengan setelan celana jeans warna hitam, layaknya orang yang mau pergi berkencan sama pacarnya.
Aku menaik-turunkan pundakku berharap Nino bisa mengerti. "Yasudah, kalo gitu aku pergi dulu yah?" Ucap Nino sambil memakai helmnya, lalu aku membalasnya dengan senyuman.
"Daaah", "Daaah" Lalu aku pergi menghampiri Azryan yang masih dikerubungi oleh para bias-bias disekolah.
Azryan menatapku malas campur kesal. Lalu memakai helmya dan naik kemotornya, tanpa memperdulikan siswi-siswi yang mengerubunginnya. Aku tak habis pikir, dia itu manusia apa kulkas berjalan sih?
...----------------...
Kini aku berada diatas motor bersama Azryan yang tengah fokus menyetir. "Siapa dia?" Tanya -Nya mulai membuka suara. "Siapa yang mana?", "Tempat parkir", "Oooh Nino, dia sahabat aku."
"Kenapa emangnya?" Bukannya menjawab, dia malah diam dan kembali fokus menyetir.
Saat Azryan membelokkan motornya ketugu desaku. "Lho, kok kak polisi tau tempat tinggalku disini?", "Dimana rumahmu?" Dia malah balik tanya padaku.
Aku mulai curiga dengannya, pasalnya dia mengerti semua tentangku. Jangan-jangan dia mempunyai ide jahat terhadap keluargaku, wahhh.... ini tidak bisa dibiarkan.
Uhhuk~ batuk Azryan membuyarkan lamunanku. "Emmm, Kak polisi tinggal lurus aja nanti ada gang ke-empat kita belok kekanan." Jawabku bohong, aku mengarahkan Azryan kejalan rumah temanku.
Lalu Azryan melajukan motornya dan belok kegang ketiga, itu artinya Azryan melajukan motornya kearah rumahku.
"Siapa kamu sebenarnya?" Azryan masih tidak menjawab pertanyaanku sampai kami berhenti tepat didepan halaman rumahku.
Aku mulai ketakuttan dan lari kedalam rumahku tanpa berterimakasih padanya. "Fyooo, kamu itu kenapa lari-lari? kayak lagi dikejar anjing saja", "Enggak kok ma" Aku mencium tangan mamaku dan pergi kekamarku, mengunci intu kamar rapat-rapat.
...----------------...
"Maaf siapa ya?", "Saya Azryan tan, putranya papi Bram sama mami Lisa" Sejenak mamaku mengingat-ingat nama itu, "Oooh, Azryan yang tetangga tante dulu itu ya?", "Iyah tan", "Ya allah, udah gede yah sekarang. Makin ganteng lagi", "Tante bisa saja." Seru Azryan cengengesan.
"Ma, mama kenal sama dia." Tanyaku ketika melihat mamaku tengah asyik mengobrol dengannya disofa, "Iyah. Dia teman kakakmu dulu dan dulu papanya Azryan sama papa kamu juga sahabattan. Sebuah kebetulan gak sih?" Jelas mamaku.
O... Pantessan dia tau rumahku, tapi kenapa dia juga bisa tau tempat sekolahku ya?
"Tante Fiyannya ada?", "Oohh Fiyan, Fiyan masih ngebo dikamar. Kamu bangunin sana, masih ingetkan letak kamarnya?" Tanya mamaku memastikan,lalu dibalas anggukan oleh Azryan.
"Fyo", "Iyah ma", "Kamu buatin kopi buat temen kakak kamu sama kakak kamu yah", "Kok aku sih maa", "Mama mau pergi kerumahnya bu Retno."
...----------------...
"Siap" Saat kopinya sudah selesai aku buat, lalu aku mengantarkannya kekamar kakakku.
Betapa terkejutnya aku, saat melihat Kakakku dan Azryan tengah asyik nonton film dewasa. "Mama.... Kakak sama temannya lagi nonton emmmnmtzm," Azryan langsung membungkam mulutku, sedangkan kakakku menarik nampan yang aku bawa tadi, Azryan menggendongku membawaku keatas kasur.
Posisiku sekarang duduk, melipat kedua tanganku sambil menatap wajah mereka dengan sorotan mata yang tajam. Berbeda dengan mereka, duduk seakan mau memohon untuk tidak mengadukannya.
"Pasti kamu ya, yang ajak kakakku nonton film begituan. Iyakan?", "Enak aja, kakakmu itu yang ngajak aku buat nonton itu", "Mana mungkin kakakku yang cupu ini nonton yang kayak begituan".
"Diaaaaam" Teriak kakakku membuat kami diam tak berkutip, "Apa kalian tidak bisa pelankan sedikit suara kalian. Nanti kalo ada yang dengar gimana?", "Salah sendiri ngapain kalian nonton film begituan. ayo kawab?", "Fyooo kita berduakan sudah dewasa dan diumur kami sudah boleh menikah. Jadi, sebelum kita berdua menikah, kita mau belajar dulu cara melakukan begituan. Lewat film ini" Jelas kakakku.
"Ohhh gitu, jadi kalian ngebet pengen cepet-cepet nikah?", "Bu bukan begitu juga...", "Terus apa?" Teriakku kesal, "Emmm gini aja, nanti kita jalan-jalan kemall dan nanti kamu bisa belanja sepuas-sepuasnya disana dan nanti saya yang akan bayar semua belanjaan kamu gimana?" Tawar Azryan.
"Oooh, jadi kamu menyuapku ya?", "Bu bukan gitu maksudnya itu", "Oke, tawaran diterima." Lalu aku pergi meninggalkan mereka berdua dikamar.
"Lho serius bro?" Tanya kakakku ke Azryan, "Seriuslah", "Pasalnya lo belum tau adek gue kalo lagi belanja kayak apa!", "Udalah, emangnya kamu mau, diaduin sama nyokap lo?", "Bener juga yak."
Sekarang aku tengah memainkan hpku menaik-turunkan beranda, mencari sesuatu yang nanti akan aku beli dimall, lumayankan Gratis. Setelah menemukan semua yang aku inginkan. Aku ingin tidir sebentar, tapi sebelum tidur. aku akan memakai masker buat merawat kulit wajahku dulu.
...----------------...
Disore harinya~ Kakakku dan kak polisi datang kekamarku hendak membangunkanku yang masih tertidur. "Hm... Dia masih tidur bro", "Udah bangunin aja", "Fyo, yo bangun yo", "Euugh" Lenguhku, "Bangun woy, katanya ke mall".
"Kakak duluan aja, nanti aku nyusul.", "Seriously!" Seru Azryan lalu pergi kekamar mandi membawa gayung dan juga airnya.
"Nih" Azryan memberikannya pada kakakku, "Buat?" Kakakku masih tak mengerti, "Terserah, yang penting bisa bangun." Lalu kakakku mengangguk paham.
Byyuuur~ kakakku menyiram wajahku yaang masih memakai masker, sehingga membuat masker yang aku pakai tadi jadi luntur. Aku menatap kakakku tajam dengan penuh amarah, sedangkan kakakku ketakuttan dan menggerak-nggerakkan matanya kearah Azryan, diikuti dengan tangannya yang menunjukkan angka dua. Itu artinya dia disuruh oleh Azryan.
Aku langsung masuk kekamar mandiku dengan kesal, lalu kembali lagi ketika tidak mendapati gayung di bak mandi. Aku kembali lagi mengambil gayung yang masih berada ditangannya kakakku.
Follow ig : fiy.ool