
"Tapi Fyooo", "Aku mohon." Sambil memegang kedua tangannya, berharap agar Nino mau menerima keputusanku. "Kecuali Riko sama Dea." Tawarnya, aku mencoba berfikir untuk mempertimbangkan kemauan Nino. Kalo Riko sih boleh-boleh aja, tapi kalo Dea. "Aku akan menyuruh mereka untuk bungkam." Seru Nino seakan membaca pikiranku, sambil melingkarkan kedua lengannya di leherku. "Baiklah, aku pegang ucapan kamu", "I will never let you down, believe me!" Ucapnya membuatku tak mengerti apa yang dia katakan. Nasib punya pacar mahasiswa terbaik disekolah.
"You understand the meaning?" Lagi-lagi dia bicara bahasa inggris, "Kamu ngomong apa? Saya nggak ngerti." Ucapku kikuk, karena malu. Mau gimana lagi, aku bukanlah anak pintar yang selalu tertarik dengan bahasa asing. Bagiku Bahasa indonesia adalah bahasaku. Bahkan, ujian bahasa inggrisku saja selalu dapat nilai 7 dari angka 10. Sungguh memalukan, mempunyai pacar paling pintar disekolah. Apa jadinya jika semua orang tahu bahwa Nino sang bintang kelas berpacaran dengan anak yang hanya dapat rangking lima besar.
"Hoy, kenapa bengong? Baiklah, akan aku ulangi lagi. Tatap mataku dan dengarkan ucapanku baik-baik. Bahwa aku Nino Rafardhan berjanji, tidak akan pernah mengecewakan kekasihnya, sampai menuju kejenjang pelaminan" Ucapnya sambil menaikkan tangan kanannya. "Benarkah? Perasaan tadi bahasa inggrisnya cuma sedikit. Kenapa terjemahannya bisa sepanjang itu?" Nino menghela nafasnya, dan mulai membuka suara. Sedangkan aku masih bingung dengan kata-katanya.
"Itu karena aku menambahkan bumbu-bumbu manis, agar lebih meyakinkan kekasih Nino Rafardhan yang cantik, nan manis ini." Ucapnya sambil mencubit pipiku. Blushhh, itu bahkan terlalu berlebihan. Sebisa mungkin aku menahan malu, rasanya aku ingin sekali meningggalkannya dikamar mandi dan menjerit sekeras-kerasnya.
Tiba-tiba tangan kanan Nino memegang tengkuk leherku, dan menarikku mendekat kewajahnya. Begitu pula dengannya, sehingga membuatku tak nyaman dengannya. Lalu dia membisikiku tepat ditelingaku, "Bolehkah aku mencium bibir kamu. Hanya mencium tidak lebih." Mataku membulat sempurna, saat Nino mencium bibirku agak begitu lama.
Byuuuuur, Nino tercebur kedalam air saat mendapat pukulan dari seseorang. Dan orang itu adalah Azryan. Azryan menarik jaket hodhie Nino dan kembali memukulinya. Tanpa memperdulikan darah yang keluar dari hidung Nino. Karena tidak terima mendapat serangan mendadak, Nino membalas serangannya pada Azryan. Sehingga mereka saling baku hantam, membuat semua orang teralihkan pandangannya pada mereka. Ada yang berteriak histeris, ada pula yang malah mendukung pertengkaran mereka.
Aku bingung harus bagaimana? Walaupun aku berteriak minta tolong. Tidak ada satu pun yang berani melerai mereka berdua. Tekadku sudah bulat, aku sendiri yang akan melerai mereka berdua. "Hentikaaaaaaan!" Teriakku, tapi masih tak gubris sama mereka berdua. Sehingga membuatku jadi semakin kesal. Aku naik keatas kolam.
Ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kalian berdua. Jangan salahkan aku jika kalian berdua terluka karenaku. Kalian yang memaksaku melakukan ini. Jadi jangan salahkan aku.
"Hiyaaaaaaa" Teriakku sambil meloncat dan bersiap menendang mereka berdua. Bug bugh, Mereka langsung terpental karena mendapat jurus tendangan singa betina dariku. "Apa? masih mau bertengkar lagi. Ayo sini! Biar gue tenggelamin sekalian, kalian berdua." Teriakku saat mereka berdua saling melotot. "Tapi Fyo, dia yang mulai duluan." Seru Nino tak terima. "Apa lo?" Bantah Azryan, saat dirinya merasa disalahkan. "Emang benerkan yang dikatakan sama Nino?" Tanyaku sambil mendekat kearahnya, tapi dia hanya diam sambil menatapku marah. "Kenapa? Hah? Kamu nggak suka aku deket-deket sama dia? Emangnya kamu siapa? Siapa kamu berani ikut campur dengan urusanku? Kau sama Papamu itu sama saja, sama-sama nggak punya perasaan." Seruku sambil mendorong-dorong dadanya dengan jari telunjukku.
Tampak diwajah Azryan, dia sangat marah padaku. Dengan melihat matanya yang tajam dan wajahnya yang bergetar. Membuatku takut untuk menatapnya berlama-lama. "Pergi, aku mau sekarang kamu pergi! Dan jangan pernah ganggu aku lagi." Titahku sambil menunjuk pintu keluar dan mengalihkan pandanganku kesamping menatap air kolam yang jernih, tapi tidak sejernih pikiranku. Mengusir orang yang lebih tua dariku, sangatlah tidak sopan. Terlebih lagi, dia adalah calon suamiku. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau mereka berdua bertengkar lagi dan menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disini.
Apa yang dilakukannya? Apa dia mau membunuhku. Kenapa dia masih tidak melepaskanku? Ya tuhan, apa yang harus aku laukukan dengan pria ini? Kenapa dia ingin sekali membunuhku.
Bluk bluk bluk, aku sudah tidak bisa tahan lagi. Aku terpaksa membuka mulutku, Lalu Azryan langsung menangkup mulutku. Dan memberiku nafas dalam mulutnya kemulutku. Kami saling mentransfer oksigen. Yang aku bingungkan. Kenapa dia tidak melepaskanku saja? Dengan begitu aku dan dia sudah bisa bernafas lega diatas air. Lalu aku melihat ada bayangan seseorang yang membantuku, melepaskanku dari genggaman Azryan. Dia membantuku dengan mendorongnya kesamping.
Bhuwaaaaah, akhirnya aku bisa bernafas lega. Setelah terlepas dari genggaman Azryan. "Fyo kamu tidak papakan?" Tanya Nino khawatir. Aku hanya menganggukinya dengan nafas yang ngos-ngosan. Beberapa menit kemudian, Azryan keluar dari dalam air. Tapiiii, "Kak Azryan." Teriakku histeris, saat melihatnya mengambang diatas air. Lalu semua orang berbondong-bondong membantu mengangkat Azryan naik keatas kolam. "Kak, kak Azryan. Kak Bangun, jangan buat Fyo takuuuut, hiksssss." Tangisku mulai pecah, kala melihat Azryan yang masih tidak bangun-bangun. Berkali-kali Nino menekan-nekan dada Azryan, agar air yang ada didalam tubuh Azryan bisa keluar. Namun, hasilnya nihil. Tak ada satu tetespun air yang keluar dari mulutnya.
"Ninoooo, kenapa dia masih belum banguuun. Ak aku sangat takuuuuuuut. Apa dia akan pergi?" Seruku takut dia benar-benar meninggalkan dunia ini. Tapi Nino masih belum menjawab pertanyaan dariku. Karena dia masih sibuk menekan-nekan dada Azryan. "Apa disini tidak ada inhaler?" Tanya Nino panik. "Apa itu inhaler?" Tanyaku tak mengerti. "Alat untuk membatu orang bernafas, seperti memberi nafas buatan. Mungkin dengan itu, dia bisa bangun."
"Saya tanya sekali lagi! Apa disini ada yang punya inhaler?" Tanya Nino emosi. Karena sedari tadi tidak ada yang menjawab, maupun pergi mencarikan alat itu. Pikiranku sudah mulai kacau. Aku takut jika om Bram, papanya Azryan. Nanti akan mengancam papaku. Karena Azryan mati, saat sedang bersamaku.
Nafas buatan? Nafas buatan.
Follow ig : fiy.ool
Ceritanya masih dalam perbaikkan yaaaa, jadi mohon untuk kesabarannya. Ada banyak cerita yang aku rubah. Dan saya berharap kalian bisa memberikan vote untuk cerita ini.